Sebagai wilayah yang dilewati jalur Ring of Fire atau Cincin api Pasifik, Indonesia tak ayal sering kali dilanda erupsi gunung. Dampaknya yang paling parah tentu menyebabkan korban jiwa, namun dampak terganggunya aktivitas sehari-hari juga tidak bisa dihiraukan begitu saja.
Baru-baru ini salah satu gunung api teraktif di Indonesia “Anak Krakatau” erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik yang dampaknya dirasakan hingga ibukota Jakarta, mengganggu penerbangan dan sekolah dipaksa melaksanakan pembelajaran jarak jauh.
Aktivitas Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian setelah erupsi dan sebaran abu vulkanik berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Badan Geologi mencatat Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pada 7 September 2026, gunung tersebut masih mengalami aktivitas erupsi dan tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah, serta 98 kali gempa hybrid/fase banyak.
Namun, Anak Krakatau bukan satu-satunya yang berada pada level Siaga. Per Selasa, 8 September 2026, terdapat lima gunung api berstatus Level III, yakni Anak Krakatau, Lewotobi Laki-laki, Merapi, Semeru, dan Sinabung.
Selain Gunung Anak Krakatau, 4 Gunung Ini Wajib diwaspadai
Berikut empat gunung api lain yang perlu menjadi perhatian.
- G. Sinabung

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi salah satu yang patut mendapat perhatian karena status aktivitasnya baru saja dinaikkan.
Badan Geologi menaikkan status Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026. Keputusan tersebut diambil setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Pada hari yang sama, G. Sinabung mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.
Sebelum erupsi tersebut, terekam rentetan gempa vulkanik yang menunjukkan peningkatan aktivitas di dalamnya. Dalam status Siaga, masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang telah direlokasi maupun dalam radius tiga kilometer dari puncak. Untuk sektor selatan-tenggara, zona yang harus dihindari mencapai enam kilometer.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di G. Sinabung juga diminta mewaspadai potensi lahar, terutama ketika hujan deras terjadi.
Hingga 8 September 2026, G. Sinabung masih berstatus Level III atau Siaga.
- G. Merapi

Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga masih berada pada Level III atau Siaga. Pada pemantauan 8 September 2026 pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat 24 kali gempa guguran dan 17 kali gempa hybrid atau fase banyak. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa dinamika vulkanik Merapi masih terus berlangsung.
Bahaya utama Merapi saat ini berkaitan dengan guguran lava dan awan panas guguran. Potensi bahaya berada terutama pada sejumlah sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Di sektor selatan-barat daya, potensi bahaya mencakup Sungai Boyong hingga lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya berada di Sungai Woro hingga tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dan bahaya lahar ketika hujan terjadi di kawasan Merapi.
- G. Semeru

Di Jawa Timur, Semeru juga masih berada pada Level III atau Siaga. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut kembali mengalami erupsi pada 6 September 2026. Aktivitas tersebut belum menimbulkan gangguan signifikan terhadap aktivitas masyarakat, tetapi potensi bahaya tetap ada sehingga masyarakat diminta mengikuti rekomendasi PVMBG.
Salah satu ancaman utama Semeru adalah awan panas guguran, guguran lava, lontaran material pijar dan lahar.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sekitar 17 kilometer.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.
- G. Lewotobi Laki-laki

Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menjadi gunung lain yang masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas ini tetap tergolong tinggi. Pada pemantauan sebelumnya, PVMBG mencatat adanya erupsi dan aktivitas kegempaan yang menunjukkan sistem vulkanik masih aktif. Status Siaga ditetapkan karena aktivitas vulkaniknya menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Dalam rekomendasinya, masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar apabila hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah yang memiliki aliran sungai berhulu di Gunung Lewotobi Laki-laki.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya hingga Nurabelen. Warga yang terdampak hujan abu juga dianjurkan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut.
Status Siaga tidak otomatis berarti gunung api akan segera mengalami erupsi besar. Status tersebut merupakan indikator bahwa aktivitas vulkanik telah meningkat atau gunung sedang mengalami erupsi sehingga masyarakat di sekitar kawasan rawan perlu meningkatkan kewaspadaan.
Karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat kondisi visual gunung. Informasi mengenai kegempaan, arah sebaran abu, zona bahaya dan rekomendasi keselamatan perlu menjadi rujukan utama.
Meski sejumlah gunung api di Indonesia sama-sama menunjukkan aktivitas dan berada pada status Level III atau Siaga, kondisi tersebut tidak berarti aktivitas satu gunung berkaitan langsung dengan lainnya.
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (FTG Unpad), Prof. Nana Sulaksana, menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki sistem magmatik masing-masing. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kedalaman dapur magma, jalur perjalanan magma, serta kondisi geologi dan batuan yang dilalui magma sebelum mencapai permukaan.
“Jadi secara langsung tidak ada hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya,” kata Nana dikutip dari Antara
Baca juga: Status Aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap Siaga
Per 8 September 2026, lima gunung api Indonesia masih berada pada Level III atau Siaga: Anak Krakatau, Lewotobi Laki-laki, Merapi, Semeru dan Sinabung. Dengan demikian, perhatian terhadap aktivitas vulkanik tidak cukup hanya diarahkan kepada Anak Krakatau, tetapi juga kepada gunung api lain yang saat ini berada dalam status Siaga.
Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diimbau tetap tenang, tidak mendekati zona yang telah ditetapkan sebagai kawasan berbahaya, serta mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BPBD dan pemerintah daerah.(Kori)





