Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cerita baru bagi Merauke. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini berulang kali mencatat kemunculan titik panas dalam jumlah besar. Penelitian menggunakan data satelit MODIS pada 2015–2019 mencatat sekitar 4.900 titik panas di Kabupaten Merauke. Pada 2015 saja, terdapat 2.671 titik panas, sementara pada 2019 masih ditemukan 534 titik panas.
Kebakaran tersebut juga terjadi di wilayah dengan karakter lahan yang beragam. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa sebagian besar area bekas terbakar berada di lahan non-gambut. Pada 2015, luas area bekas terbakar mencapai sekitar 252 ribu hektare, kemudian sekitar 60 ribu hektare pada 2019.
Api Karhutla di Merauke, Tanda Bencana Makin Suram

Data yang dihimpun WALHI bersama WALHI Papua menunjukkan, pada 1–9 Juli 2026 terdapat 1.292 titik api di Papua Selatan. Dari jumlah tersebut, 399 titik berada di wilayah yang telah memiliki izin atau dialokasikan untuk proyek pangan nasional.
Rinciannya, 245 titik api berada di kawasan Food Estate, 115 titik berada di konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan 39 titik berada di konsesi perkebunan kelapa sawit. Angka ini kemudian menjadi sorotan karena titik api muncul di tengah kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan fungsi lahan. Merauke sendiri menjadi salah satu wilayah penting dalam agenda pengembangan pangan skala besar di Papua Selatan.
Persoalan ini sebenarnya bukan dimulai hari ini. Merauke sudah lama menjadi sasaran proyek pertanian skala besar. Pada 2006 muncul Merauke Integrated Rice Estate (MIRE), kemudian berkembang menjadi Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) pada 2010. Program serupa kembali hadir dalam bentuk proyek pangan nasional saat ini
Selain itu potensi api karhutla sebenarnya bukan saja karena iklim el-nino yang hari ini mengganas namun juga karena geografis dari Merauke sendiri, dokumen rencana pengembangan Food Estate Merauke mencatat bahwa wilayah ini memiliki hutan rawa, rawa, savana, semak belukar rawa, hingga hutan lahan kering. Bahkan, semak belukar rawa saja tercatat mencapai sekitar 940 ribu hektare, sementara rawa mencapai sekitar 450 ribu hektare.
Merauke menunjukkan tanda-tanda menuju pusat baru karhutla, terutama jika pola perubahan lanskap terus berlanjut, sehingga Papua Selatan mulai menunjukkan gejala sebagai episentrum baru karhutla.
Berdasarkan SIPONGI, luas area terbakar di Papua Selatan sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 25.838,53 hektar. Angka ini menempatkan Papua Selatan sebagai provinsi dengan luasan karhutla terbesar kedua secara nasional pada periode tersebut, hanya di bawah Kalimantan Barat yang mencapai 38.310,86 hektare. Dengan kata lain, dalam enam bulan pertama 2026, kebakaran telah memengaruhi puluhan ribu hektare lahan di Papua Selatan.

Angka tersebut menjadi semakin penting jika dilihat bersama dengan pola kebakaran Merauke dalam satu dekade terakhir. Data historis menunjukkan bahwa wilayah ini bukan hanya mengalami kebakaran dalam satu periode tertentu, tetapi berulang kali mencatat titik panas dan area bekas terbakar dalam skala besar. Risiko karhutla di Merauke memiliki pola berulang, sementara pada 2026 luas area terbakar di tingkat Papua Selatan kembali mencapai puluhan ribu hektare hanya dalam enam bulan.
Baca juga: Memadamkan Api Karhutla, Berikut 5 Caranya
Situasi ini juga memperlihatkan bahwa ancaman ke depan tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya El Nino. Ketika kondisi kering bertemu dengan bentang alam yang luas berupa savana, rawa, dan semak belukar serta perubahan penggunaan lahan, peluang api untuk muncul dan meluas menjadi semakin besar. Karena itu, perubahan iklim dan perubahan lanskap perlu dilihat sebagai dua faktor yang dapat memperkuat risiko kebakaran secara bersamaan.(Kori)






