Film rilisan platform digital Netflix yang tayang pada 19 Desember 2025, The Great Flood ramai menjadi perbincangan. Pasalnya film yang Korea yang disutradarai oleh Kim Byung-Woo ini bagi sebagian besar penonton agak membingungkan karena bertemakan bencana sekaligus science fiction.
Bercerita tentang seorang perempuan An Na seorang peneliti pengembangan AI yang hidup bersama putranya, berjuang untuk bertahan hidup di gedung apartemen mereka yang dilanda banjir besar dibantu oleh tim keamanan bernama Hee-jo.
Dari awal cerita visualisasi bencana banjir bahkan tsunami sudah disuguhkan di awal cerita, penyebabnya memang tidak terlalu banyak dibahas, namun dalam percakapan yang ada, menceritakan bencana besar ini akibat meteor yang menghantam kutub utara sehingga es mencair dan menyebabkan bencana banjir besar, bahkan dalam percakapan tersebut menyebutkan bahwa Jepang sudah lebih dulu tenggelam.
Film The Great Flood: Meskipun Mengulang Bencana Ribuan Kali, Pelukan Ibu Tetap Dinanti

Film the great flood ini juga mengingatkan bahwa jika terjadi bencana iklim atau bencana perubahan suhu bumi yang meningkat maka manusia yang paling rentan terdampak adalah mereka yang tinggal diwilayah pesisir, negara dengan banyak pulau-pulau kecil dan negara yang banyak diapit oleh lautan seperti Jepang, Filipina atau bahkan Indonesia.
Kim Byung-Woo sutradara film the great flood ini menyebut bahwa film ini sebenarnya bukan semata hanya tentang bencana namun juga mengeksplor emosi manusia lewat apa yang disebut alam sebagai bencana,
“Air disebut iblis kecil dalam bencana tetapi juga merupakan sumber kehidupan. Jika mengekspresikan emosi manusia lewat visual, bukanlah itu akan menjadi gelombang besar yang dahsyat” Ujar Kim Byung Woo dikutip dari Chosun.Biz.
Misi utama yang sebenarnya dilakukan oleh tokoh utama dalam film the great flood ini adalah menyelamatkan diri dan putranya yang nantinya untuk melindungi populasi manusia, lewat penelitian yang dilakukan oleh An Na, maka itu tokoh utama ini menjadi penting untuk diselamatkan.
Latar waktu yang berulang serta adegan yang sama dalam film the great flood ini mungkin banyak membuat penonton bingung, namun inilah yang membuatnya menjadi menarik dan letak fiksi ilmiahnya, An Na terus mengulang waktu dimana awal ia merasakan bencana, latar apartemennya menjadi titik ia hidup, mencari jalur evakuasi, tenggelam dan menyelamatkan putranya.
Ini bukan hanya tentang bencana atau fiksi ilmiah, tapi juga menggali tentang emosi seorang ibu, An Na rela mengulang adegan yang sama, ketakutan bencana yang sama, serta tantangan yang sama demi tetap bersama putranya. Di setiap pengulangan masa An Na selalu improve, memperbaiki setiap detail kejadian yang dirasanya pernah diabaikan, mengedepankan sisi keibuannya dan tumbuh kuat untuk menghadapi bencana didepan mata.

An Na bukan saja merepresentasikan sebagai ibu yang hebat namun juga tentang perjuangan dia menghadapi bencana, bencana tidak mungkin diniscayakan karena bumi punya polanya sendiri namun sebagai manusia, An Na tau kapan pola tersebut akan berulang, kemudian memitigasinya dengan apa yang disebut sebagai emosi keibuan, memperbaiki tiap detail dari kemungkinan terburuk bencana yang akan datang.
Baca juga: Film “Sinkhole”, Film Tentang Bencana Lubang Besar
Sebagai manusia yang hidup dialam non-fiksi mengulang waktu seperti An Na adalah mustahil, namun mewariskan ingatan tentang pola kebencanaan bisa dilakukan, harapannya setiap generasi selanjutnya dapat memperbaiki dan memitigasi segala kemungkinan terburuk akibat bencana.(Kori)






