Masyarakat Bajo sedari dulu dikenal sebagai masyarakat hidup yang berdampingan dengan laut, dikenal sangat mahir berenang serta punya hubungan erat dengan laut karena wilayah geografisnya yang memang dikelilingi laut.
Asal-usul masyarakat Bajo tidak dapat dilepaskan dari berbagai versi sejarah, tradisi lisan, dan naskah lokal yang berkembang di kawasan Sulawesi Selatan. Salah satu sumber penting yang menjelaskan asal-usul tersebut adalah Lontarak Assalenna Bajo. Naskah ini berupa prosa dengan huruf Lontarak dan Arab dengan bahasa Bugis, Makassar dan Arab.
Dalam naskah tersebut menyebutkan bahwa orang-orang Bajo berasal dari daerah Ussu di Luwu, Sulawesi Selatan. Kisah tersebut kemudian menghubungkan perpindahan masyarakat Bajo dengan sebuah peristiwa besar berupa tumbangnya pohon Walenreng yang menyebabkan banjir dan membuat penduduknya mengungsi.
Dalam konteks hubungan sosial dan politik, Lapian (2009: 111) mengemukakan bahwa orang-orang Bajo di perairan Bone dan Teluk Tomini memiliki orientasi yang lebih dekat dengan Kerajaan Bone. Pandangan tersebut turut memperlihatkan bahwa keberadaan masyarakat Bajo tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan dan masyarakat darat di sekitarnya.
Masyarakat Bajo dan Asal Usul Banjir Besar Didalamnya

Dalam Lontarak Assalenna Bajo, dikisahkan bahwa pada suatu ketika sebuah pohon besar yang disebut Walenreng ditebang. Peristiwa tersebut kemudian mengakibatkan terjadinya banjir besar. Penduduk yang berada di wilayah tersebut terpaksa mengungsi, termasuk orang-orang Bajo yang dipimpin oleh Ipapu. Mereka hanyut ke laut hingga akhirnya terdampar di wilayah Kerajaan Gowa.
Peristiwa tersebut tercatat dalam ayat 8 dan 9 sebagai berikut:
8. “… Ipapu ritubbangngi WalenrengngE nale mpe…”
9. “Nasiappimalirenna ri lauu…”
Terjemahan Anwar (2000) terhadap kedua ayat tersebut adalah:
8. “…Ipapu menyatakan bahwa pohon Walenreng telah ditebang dan terjadi banjir…”
9. “Banyak yang hanyut ke laut…”
Kisah tersebut kemudian berlanjut dengan kedatangan orang-orang Bajo ke Kerajaan Gowa. Bahkan, salah seorang putri bangsawan Bajo disebut kemudian dipersunting oleh Raja Gowa. Hubungan ini menunjukkan bahwa perpindahan masyarakat Bajo tidak hanya dipahami sebagai sebuah migrasi akibat bencana, tetapi juga sebagai bagian dari proses terbentuknya hubungan sosial dan politik dengan masyarakat darat.
Ketika Kerajaan Gowa kemudian ditaklukkan oleh Kerajaan Bone, orang-orang Bajo memilih untuk tunduk kepada Raja Bone. Oleh Raja Bone, mereka diberikan tempat tinggal di pesisir timur Kerajaan Bone yang kemudian dikenal dengan nama BajoE (Anwar, 2006: 2). Dari kisah tersebut muncul kemungkinan bahwa penyebutan “Bajo” berkaitan dengan nama tempat “BajoE” yang diberikan oleh Raja Bone kepada mereka.

Tetapi kisah tentang tumbangnya pohon besar dan terjadinya banjir besar tidak berdiri sendiri. Apabila ditelusuri lebih jauh, cerita tersebut memiliki kemiripan dengan kisah Sawerigading yang berkembang dalam tradisi masyarakat Bugis. Hope (2001) menunjukkan adanya kedekatan antara kisah asal-usul orang Bajo melalui peristiwa Walenreng dengan kisah Sawerigading. Kesamaan tersebut menjadi penting karena Sawerigading merupakan salah satu tokoh sentral dalam tradisi epik Bugis dan memiliki kedudukan penting dalam narasi asal-usul masyarakat Bugis.
Baca juga: Talang Tuwo, Sriwijaya, dan Jejak Pengetahuan Ekologis di Ekosistem Gambut
Lebih luas lagi, kisah mengenai asal-usul suatu kelompok masyarakat yang dikaitkan dengan peristiwa banjir besar juga ditemukan pada sejumlah kelompok etnis di Asia Tenggara. Nghiem (1993) menunjukkan bahwa motif banjir besar dalam cerita asal-usul masyarakat bukanlah sesuatu yang hanya ditemukan dalam satu kelompok tertentu. Banjir dalam berbagai tradisi tersebut dapat menjadi penanda perpindahan, kehancuran suatu tempat, sekaligus awal terbentuknya kelompok masyarakat baru.(Kori)






