Pulau Sebesi merupakan salah satu wilayah berpenghuni yang paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Pulau yang berada di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, ini berjarak sekitar 15–20 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Jarak tersebut membuat masyarakat Sebesi hidup sangat dekat dengan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Kedekatan geografis tersebut menjadikan posisi Pulau Sebesi menempatkan masyarakatnya pada wilayah yang memiliki potensi terpapar berbagai bahaya akibat aktivitas vulkanik, mulai dari erupsi hingga tsunami yang dapat terjadi akibat aktivitas gunung api.
Setelah letusan besar Krakatau pada 27 Agustus 1883 Pulau Sebesi sempat menjadi Pulau tak berpenghuni sebelum masyarakat kembali datang pada sekitar tahun 1938. Hingga saat ini Pulau Sebesi menjadi ruang hidup masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya pulau dan laut, serta daya tarik wisatawan ke sekitar Gunung Krakatau juga menjadikan masyarakat punya opsional penghidupan di pulau rawan bencana ini.
Waspada Masyarakat Pulau Sebesi, Pulau Terdekat Gunung Krakatau

Risiko kebencanaan kemudian kembali terlihat pada 22 Desember 2018. Aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan longsoran tubuh gunung yang kemudian memicu tsunami di Selat Sunda. Gelombang tsunami menerjang sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung, termasuk Pulau Sebesi.
Kondisi geografis Sebesi juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagai pulau, akses keluar-masuk masyarakat sangat bergantung pada transportasi laut. Dalam keadaan normal, mobilitas dapat dilakukan menggunakan kapal. Namun, ketika terjadi kondisi darurat, cuaca buruk, gelombang tinggi, atau aktivitas vulkanik yang mengganggu pelayaran, pilihan evakuasi dapat menjadi lebih terbatas.
Pulau yang memiliki penduduk sekitar 2.000 jiwa ini memiliki kerentanan tinggi, bukan hanya karena kedekatannya dengan sumber ancaman, tetapi juga karena keterbatasan infrastruktur dan layanan dasar. Penelitian Ahmad Robi Ulzikri yang terbit pada 2023 mencatat bahwa Pulau Sebesi masih menghadapi kesenjangan pembangunan, mulai dari infrastruktur, akses pendidikan dan kesehatan, hingga layanan telekomunikasi. Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan serius ketika masyarakat harus menerima informasi peringatan atau melakukan evakuasi dalam situasi darurat.
Dalam aspek mitigasi bencana, penelitian tersebut juga menemukan bahwa pada 2020 Pulau Sebesi belum memiliki sistem peringatan dini bencana alam, sistem peringatan dini tsunami, maupun perlengkapan keselamatan. Rambu evakuasi tercatat sudah tersedia, tetapi instrumen keselamatan lainnya masih minim.
Pengalaman tsunami 2018 memperlihatkan bagaimana ancaman tersebut dapat berkembang menjadi krisis bagi masyarakat Pulau Sebesi. Penelitian Ulzikri mencatat bahwa masyarakat memang memperoleh bantuan pada masa tanggap darurat, seperti sembako, uang tunai, hunian tetap, serta sejumlah bantuan sosial. Tetapi persoalan muncul dalam proses pemulihan jangka panjang, termasuk masalah legalitas tanah, distribusi bantuan, pembangunan infrastruktur, serta pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Salah satu persoalan penting adalah karakter kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada lingkungan pulau. Kebijakan relokasi hunian tetap ke Desa Maja, Kalianda, misalnya, dinilai berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir dan pekebun karena lingkungan baru tidak menyediakan kondisi sosial-ekonomi yang sama dengan Pulau Sebesi.
Sehingga kesiapsiagaan masyarakat Pulau Sebesi tidak cukup hanya dengan menyiapkan jalur evakuasi. Sistem peringatan dini, perlengkapan keselamatan, komunikasi darurat, akses transportasi, serta rencana evakuasi yang mempertimbangkan kondisi masyarakat pulau perlu menjadi bagian dari kesiapsiagaan.
Baca juga: Selain Gunung Anak Krakatau, 4 Gunung Ini Wajib diwaspadai
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Anak Krakatau, mengenali ancaman merupakan langkah pertama. Dan yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap orang mengetahui kemana harus bergerak ketika peringatan diberikan, bagaimana memperoleh informasi yang benar, dan bagaimana tetap dapat menyelamatkan diri ketika akses keluar pulau menjadi terbatas.(Kori)





