Banjir Jakarta bersamaan dengan musim hujan sering terjadi di Indonesia saat ini, termasuk di Ibu Kota Jakarta. Namun sayangnya, jika hujan berintensitas tinggi datang, sering disusul dengan terjadinya banjir di sejumlah daerah di Indonesia.
Hal ini juga terjadi di Jakarta. Namun apakah Sobat DC tahu, jika banjir Jakarta tidak baru-baru saja terjadi loh, melainkan terdapat sejarah panjang di dalamnya. Dilansir dari laman Ruangguru, disebutkan jika musim banjir di Jakarta sudah terjadi sejak Kerajaan Tarumanegara berdiri atau sekitar 15 abad yang lalu!
Sejak dahulu Jakarta menjadi tempat kapal-kapal pedagang singgah. Permasalahan banjir terus berlanjut sampai zaman penjajahan Belanda.
Pada masa itu, pedagang asal Belanda mengamati dan mengatakan kalau Jakarta memiliki penataan air yang sangat buruk. Meskipun demikian, Jakarta tetap diminati sebagai pusat bisnis karena tempatnya yang strategis.
Pada tahun 1612 bermunculan gudang sekaligus kantor, dan juga pangkalan di muara Ciliwung. Tempat itu dijadikan pusat perdagangan dan juga tempat bertemunya kapal-kapal Belanda. Jadi, selain sudah banjir sejak dulu, Jakarta juga sudah menjadi pusat bisnis.
Karena diminati sebagai pusat bisnis, Belanda pun mulai memikirkan cara untuk menanggulangi banjir. Belanda mulai melakukan pembangunan kota Jakarta, dengan meniru dan menggunakan pola perencanaan yang diterapkan di salah satu kota di Belanda.

Ada dua model terusan yang dibuat. Pertama, terusan yang memotong-motong kota. Kedua, terusan yang dibuat dengan melingkungi kota. Terusan pertama dibuat sebagai drainase dan juga lalu lintas air.
Agar saat musim hujan datang, air bisa tersebar dan mengalir ke hilirnya. Sedangkan terusan yang kedua hanya sebagai pertahanan saja.
Akan tetapi, pembuatan terusan pertama dan kedua ini mengalami kendala. Air-air yang mengalir di sungai, membawa lumpur dari pegunungan, dan mengakibatkan pendangkalan. kemudian barulah dilakukan pengerukan.Â
Sejarah Mencatat: Banjir Jakarta Sudah Terjadi Sejak 15 Abad Lalu
Kemudian, sekitar abad ke 17, sistem terusan-terusan yang telah dibuat, diperluas ke wilayah-wilayah di luar kota. Hal tersebut dilakukan karena terusan yang dibuat itu bisa mengaliri persawahan dan juga ladang tebu.
Sejak kejayaan Tarumanegara hingga ke pemerintahan Belanda, kemudian Inggris, kemudian Belanda lagi, banjir Jakarta masih belum juga teratasi. Akhirnya pada tahun 1911, seorang anggota dewan Kota Batavia yang bernama Ir. Hendrik Van Breen mengajukan proyek banjir kanal.
Tahun 1913, proyek banjir kanal mulai dijalankan. Pembuatan saluran dilakukan mulai dari Pintu Air Manggarai, kemudian menelusuri pinggiran-pinggiran kota bagian selatan dan barat. Kemudian, terakhir akan bermuara di Muara Karang. Bagian ini selesai di tahun 1919.

Proyek banjir kanal saat itu membuahkan hasil. Namun seiring berjalannya waktu penduduk Jakarta semakin bertambah.
Meningkatnya jumlah penduduk ini tidak dibarengi dengan respon cepat dari pemerintah kolonial. Akibatnya, pada tahun 1961 bencana banjir Jakarta pun tidak lagi bisa dihindari. Hingga saat ini, banjir di Jakarta masih terjadi. Berbagai solusi telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sejatinya memang solusi harus terus dibarengi dengan inovasi, karena jumlah penduduk dan kapasitas kota terus berubah setiap harinya. Semoga banjir Jakarta senantiasa berkurang atau bahkan menghilang seiring waktu ya!.
Baca juga: Banjir Dan Egois-nya Kita
Tulisan ini datang dari Rosalin, ia merupakan salah satu peserta workshop Jurnalisme Warga yang diselenggarakan oleh disasterchannel.co dan Asia Pacific Alliance for Disaster Management (APADM) Indonesia.(Rosalin)






