Kisah Gempa di Aliran Sungai Kaligarang, Semarang

Sungai Kaligarang, Foto: halosemarang.id
Ekspedisi Jawadwipa

Sungai Kaligarang adalah salah satu sungai yang turut andil dalam banjir Semarang karena erosinya. Seperti kota-kota kebanyakan yang dekat dengan laut dan merupakan hilir dari sungai kerap dikabarkan mengalami banjir, seperti halnya Kota Semarang. Tak asing bila kita mendengar berita mengnai banjir Semarang, dan yang paling disoroti adalah keberadaan sungainya.

Peran Sungai Kaligarang sangat berpengaruh dalam pembentukan Kota Semarang. Van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda, mengemukakan satu teorinya, bahwa garis pantai utara pulau Jawa pada jaman dahulu terletak beberapa kilometer menjorok ke daratan saat ini. Laju pengendapan lumpur yang membuat endapan tanah baru bergerak dengan kecepatan 8 m per tahun. Endapan lumpur tersebut berasal dari Demak yang mengalir melalui Sungai Kaligarang.

Kisah Gempa di Aliran Sungai Kaligarang, Semarang

sungai kaligarang
Jembatan Kaligarang, Foto: Suara.com/Aninda Putri Kartika

Sebelum bercerita lebih jauh, mari kita telusuri aliran Sungai Kaligarang. Hulu Sungai Kaligarang berada di kawasan Gunung Ungaran dengan ketinggian mencapai lebih dari 1750 meter. Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaligarang terletak di 3 wilayah administratif yaitu Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal dan berakhir di Kota Semarang. Panjang Sungai Kaligarang sebesar 35 Km. Sungai Kaligarang di bagian hulu sebenarnya bukanlah sebuah sungai yang besar, namun keberadaan Sungai Kaligarang sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup masyrakat sekitar daerah aliran sungai. 

Tak banyak yang mengetahui bahwa aliran Sungai Kaligarang menyimpan misteri. Tak hanya permasalahan banjir saja yang menghampiri daerah aliran Sungai Kaligarang. Mengagetkannya, gempa besar pernah terjadi di kawasan Kaligarang.

Sungai Kaligarang adalah sungai yang membelah kota Semarang. Daerah Semarang yang terletak di bagian utara Pulau Jawa yang merupakan daerah relatif stabil terhadap gempabumi subduksi. Oleh karena itu adanya sesar aktif yang menjadi sumber gempa perlu diperhatikan. Pada penelitian Hidayat, 2013 membuktikan bahwa citra landsat, di daerah Semarang terdapat kelurusan-kelurusan struktur geologi, sedangkan penelitian lapangan dijumpai tanda-tanda sesar yang meliputi gawir sesar, pengangkatan teras sungai, gerakan tanah rayapan, pergeseran batuan dan rekahan yang memotong batuan Kuarter Formasi Damar.

Hasil analisis bukti temuan lapangan menyebutkan bahwa di atas sesar Kaligarang dengan arah utara – selatan merupakan sesar aktif. Sebelumnya, penelitian Murwanto (2008), menyebutkan bahwa sesar Kaligarang ini memiliki arah relatif utara-selatan yang melintas sepanjang Kaligarang dari daerah Gajahmungkur di utara sampai Gunung Swakul di bagian selatan.

Sesar Kaligarang merupakan sesar aktif yang memotong batuan muda yang ada di selatan Kota Semarang dan diperkirakan menerus hingga Laut Jawa. Sesar Kaligarang sendiri memiliki laju pergeseran batuan (slip rate) sebesar 4,5 mm per tahun. Nilai slip rate batuan memang relatif sangat kecil, namun jika terakumulasi dalam waktu lama, nilainya dapat bertambah besar dan akan berwujud gempa bumi saat energi dilepaskan.

Berdasarkan catatan sejarah, memang pernah terjadi gempa besar yang mengguncang wilayah Semarang. Data katalog kegempaan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperlihatkan kejadian gempabumi di Semarang pada tanggal 19 Januari 1856 dengan kekuatan VIVII MMI (Modified Mercalli Index) yang menyebabkan adanya kerusakan pada bangunan. Kemungkinan gempabumi tersebut terkait dengan adanya sesar aktif.

sungai kaligarang
Jembatan Sungai Kaligarang, Foto: POSE Semarang

Sejarah pemerintahan zaman Kolonial Belanda pun mencatat wilayah Semarang pada 19 januari 1856 pernah diguncang gempa dengan episenter di daratan dengan kekuatan V-VI MMI. Kekuatan V-VI MMI digambarkan sebagai gempa dirasakan oleh semua orang, barang-barang berjatuhan hingga merubuhkan bangunan semi permanen dan pepohonan, serta menyebabkan likuifaksi pada beberapa tempat tertentu.

Baca juga: Eropa Siapkan Booklet Emergency Situation, Apa yang Bisa Kita Adaptasi?

Laporan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda tidak menyebutkan penyebab gempa yang terjadi. Namun, studi lebih lanjut dilakukan oleh PusGeN (Pusat penelitian Gempa Nasional) yang memperkirakan gempa pada tahun 1856 disebabkan oleh sesar Kaligarang. Rasa-rasanya selain waspada terhadap ancaman banjir, daerah Semarang juga harus mewaspadai ancaman gempa bumi. (Lien Sururoh)

Sumber:

Hidayat E. Identifikasi Sesar Aktif Di Sepanjang Jalur Kaligarang, Semarang Identification Of Active Fault Kaligarang, Semarang. JSD.Geol. Vol. 23 No. 1 Maret 2013

https://kumparan.com/angga-jati-widiatama/sesar-kaligarang-sesar-aktif-pembelah-k

Sucipto. 2008. Kajian Sedimentasi Di Sungai Kaligarang Dalam Upaya Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kaligarang – Semarang. Tesis. Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang

Purwanto L.M.F. Kota Kolonial Lama Semarang (Tinjauan Umum Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota). Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33, No. 1, Juli 2005: 27 – 33