Atap rumah berbahan “genteng” kini ramai dibahas di berbagai media sosial Indonesia, hal ini seiring dengan himbauan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam pidatonya dalam Rakornas (Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah) di Sentul Senin, 02/02/2025 yang membahas tentang “gentengisasi”atau program untuk mengganti atap-atap rumah di Indonesia menjadi berbahan genteng.
Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2021, penggunaan bahan atap di Indonesia memang sudah didominasi oleh bahan genteng dengan statistik 55.86% disusul seng 31.38%, asbes 9.42%, serta sisanya dari beton, jerami, ijuk serta lainnya.
Data diatas tentu berbeda-beda tiap wilayahnya, disesuaikan secara kondisi budaya, ekonomi, serta pertimbangan lainnya. Secara umum atap memiliki peran penting sebagai pelindung secara fisik dan psikologi. Peran atap dalam perlindungan melindungi dari fisik adalah perubahan cuaca, pergerakan angin, atau apapun yang membahayakan keselamatan penghuninya.
Atap Rumah Genteng, Apakah Cocok untuk Indonesia yang Rawan Bencana?

Dalam konteks wilayah Indonesia, adanya bencana harusnya menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan bahan atap di Indonesia. Iklim tropis yang basah, potensi bencana gempa bumi, serta tiupan angin menjadikan bahan atap rumah menjadi salah satu unsur penting dalam pondasi keamanan rumah agar dapat tahan dari bencana.
Jenis bencana di Indonesia yang beragam tentu membuat tiap wilayah Indonesia berbeda kerentanannya, kapasitas atapnya juga harus sesuai dengan jenis kerentanan yang ada.
Dikutip dari penelitian Zuber Angkasa Wazir(2019) yang berjudul Arsitektur Vernakular Tanggap Bencana Indonesia, menjelaskan bahwa,
Desain bangunan yang tahan puting beliung biasanya fokus pada bagaimana membuat struktur rumah cukup kuat menghadapi hembusan angin kencang. Karena itu, perencanaan harus memperhitungkan beban angin, memilih lokasi yang lebih terlindung, serta menanam pohon atau penghijauan untuk membantu meredam kekuatan angin.
Sementara itu, pada daerah rawan gempa, yang paling penting adalah membuat bangunan cukup kuat tetapi juga lentur (tidak kaku). Bangunan harus mampu bergoyang mengikuti getaran tanpa langsung roboh, dan semua bagian struktur harus saling terikat dengan baik supaya tetap menjadi satu kesatuan saat gempa terjadi
Karena itu pemilihan bahan atap rumah sebaiknya disesuaikan dengan antisipasi jenis bencana yang paling sering terjadi di suatu daerah. Baik seng, genteng, maupun asbes tidak bisa dipilih sembarangan, tetapi perlu menyesuaikan kebutuhan serta kondisi lingkungan tempat rumah dibangun agar lebih aman.

Sejatinya rumah tradisional di Indonesia juga mempunyai bentuk yang beragam, dari Sabang sampai Merauke karakteristiknya berbeda-beda, bahan atapnya pun yang berbeda, kebanyakan dari genteng serta ijuk, bahan baku yang mudah ditemui di geografis Indonesia.
Bentuk atapnya pun berbeda, ada yang berbentuk Pelana, Lasenar, Monsard atau bentuk-bentuk lainnya, ini juga menentukan seberapa besar bencana bisa merusak rumah.
Bukan hanya atap sebenarnya, banyak hal yang mempengaruhi rumah dapat dikatakan aman dari bencana, rumah adalah satu kesatuan konstruksi mulai dari struktur penyangga hingga atapnya.
Baca juga: Bencana Puting Beliung, Memikirkan Kembali Konstruksi Rumah di Indonesia
Keberagaman bahan atap di Indonesia, bisa jadi menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis atap yang sepenuhnya cocok untuk semua wilayah Indonesia. Faktor seperti risiko bencana, kondisi cuaca, kemampuan ekonomi masyarakat, serta ketersediaan material lokal menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pilihan atap yang paling aman dan sesuai dengan kebutuhan.(Kori)






