Bencana Puting Beliung, Memikirkan Kembali Konstruksi Rumah di Indonesia

Ilustrasi Angin Kencang, Foto: Dok. bbc.com
Ekspedisi Jawadwipa

Bencana angin kencang atau angin puting beliung merupakan salah satu cuaca ekstrim di Indonesia dan bencana yang perlu diwaspadai selain banjir dan tanah longsor. Meskipun dalam catatan statistik bencana angka bencana cuaca ekstrim di tahun 2025 menurun 715 dari sebelumnya di tahun 2024, 733 total kejadian. 

Baru-baru ini di Banyumas (16/01) puting beliung  menghantam ratusan rumah warga di Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, angin kencang yang terjadi kurang lebih selama 5 menit merusak kurang lebih 169 rumah warga, 4 diantaranya rusak berat. Sebelumnya di Maros, Sulawesi Selatan (11/01) hujan disertai angin kencang juga menumbangkan pohon serta meruntuhkan atap rumah warga. Yang terbaru di Jembrana, Bali (18/01) sebanyak 14 rumah warga rusak bagian atap.

Angin puting beliung yang sering kita lihat rupanya sebagai angin yang berputar dari awan cumulonimbus, puting beliung yang bersifat lokal dengan cakupan wilayah 5-10 km biasanya berdurasi singkat sekitar 3-5 menit. Kejadiannya berdurasi singkat namun dapat memporak porandakan pemukiman warga, apalagi dengan fenomenanya yang makin sering terjadi dan struktur konstruksi bangunan yang tidak kokoh dapat menyebabkan kerugian serius sekaligus korban jiwa.

puting beliung
Dampak Puting Beliung atau angin kencang hingga rusak rumah warga, Foto: Antara Foto/Raisan Al Farisi

Bencana Puting Beliung, Memikirkan Kembali Konstruksi Rumah di Indonesia

Di Tengah kekhawatiran meningkatnya kejadian angin puting beliung di berbagai belahan wilayah Indonesia, penting untuk memikirkan konstruksi bangunan yang kokoh untuk menahan ganasnya angin di musim bencana hidrometeorologi ini.

Atas yang berbahan ringan seperti asbes, seng tipis, atau genteng metal dan tanpa sistem pengikat yang kuat sering menjadi bagian bangunan yang paling rentan saat angin kencang melanda. Banyak kasus kerusakan rumah akibat puting beliung diawali dari terlepasnya atap, yang kemudian terjadinya kerusakan lanjutan pada dinding dan rangka bangunan. 

Dalam penelitian yang ditulis oleh Zuber Angkasa Wazir, Universitas Muhammadiyah Palembang (2019) berjudul “Arsitektur Vernakular Tanggap Bencana Indonesia”, menjelaskan bahwa seharusnya struktur bangunan kuat untuk tahan terhadap gaya angin punya beberapa standar antara lain, desain harus memperhitungkan beban angin, penempatan bangunan pada lokasi yang terlindung, dan penghijauan sebagai peredam gaya angin.

Namun dalam sebagian besar masyarakat Indonesia untuk memenuhi standar ini sangatlah sulit, bukan hanya tentang perolehan material yang mahal, penggunaan perancang arsitektur yang juga sama mahalnya, ataupun karena belum benar-benar paham potensi bencana yang akan muncul dalam pembangunan rumah.

Sebenarnya gaya arsitektur vernakular atau gaya arsitektur yang berkembang secara alami (dari budaya, iklim, bahan bangunan lokal, dan kebutuhan masyarakat setempat) di Indonesia telah menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dalam upaya penanganan bencana angin puting beliung.

Atap rumah tradisional di Indonesia umumnya mengambil bentuk segitiga, setidaknya pada sisi depan dan belakang bangunan. Bentuk segitiga ini terbukti lebih tahan terhadap angin puting beliung karena mampu mengurai aliran angin dengan lebih baik dibandingkan bidang datar.

puting beliung

Terdapat empat tipe atap yang umum ditemukan di Indonesia, yaitu atap pelana 45 derajat, kampung srotongan, lasenar, dan mansard. Keempatnya mempunyai daya tahan angin yang berbeda-beda, namun atap tipe mansard dinilai memiliki performa paling baik dalam menghadapi terpaan angin.

Atap mansard berbentuk segitiga dengan sudut landai, luasan bidang miring yang lebih kecil, serta lekukan pada bidang atap, sehingga menghasilkan nilai drag coefficient dan drag force paling rendah dibandingkan tipe atap lainnya, bentuk atap mansard tergolong jarang dijumpai pada hunian vernakular asli Indonesia. 

Bentuk ini lebih dikenal melalui rumah jengki, yang berkembang dari adaptasi arsitektur rumah tradisional Belanda sejak abad ke-17, ketika kolonial Belanda mulai membangun permukiman dengan karakter budaya mereka di Nusantara. Kini rumah beratap mansard masih dapat ditemukan di kawasan bersejarah bercorak kolonial, seperti Kampung Melayu di Semarang. 

Prinsip bentuk atap serupa juga dapat ditemukan pada rumah tradisional Sasak di Nusa Tenggara Barat. Atap rumah Sasak memiliki bentuk tumpul berlekuk dengan kemiringan landai dan penutup dari daun, yang secara aerodinamis mirip dengan atap mansard. 

Baca juga: Angin Lesus, Serat Centhini dan Potensi Bencana

Kesamaan ini diduga lahir dari kondisi geografis yang serupa, yaitu lingkungan pesisir dengan angin yang kencang. Keunggulan hunian Sasak tidak hanya terletak pada desain atapnya, tetapi juga pada pola tata ruang permukiman yang tidak rapat serta penggunaan rumah panggung, yang memungkinkan angin mengalir lebih bebas dan mengurangi potensi terbentuknya tekanan angin kencang di sekitar bangunan.(Kori)