Sebagian catatan dalam penelitian ini bersumber dari Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Badan Observatorium Magnetik dan Meteorologi Kerajaan lembaga pusat pemantauan cuaca dan kegempaan di masa kolonial.Â
Bangunan ini didirikan pada tahun 1866 oleh Dr. Pieter Adrian Beergma, menandai tonggak awal sistematisasi pengamatan geofisika di Hindia Belanda. Sebelum keberadaan lembaga ini, pemantauan kondisi cuaca maupun aktivitas kegempaan hanya dilakukan secara sederhana, terutama melalui laporan para nahkoda kapal yang berlayar di perairan Nusantara.
Historis Observatorium Sebagai Bagian Penting dalam Catatan Kegempaan

Awalnya bangunan ini berlokasi di Weltevreden, kawasan pemukiman orang Belanda di Batavia (kini Jakarta Pusat), tepatnya di sebuah rumah besar dengan halaman luas di kawasan Jalan Prapatan. Seiring perkembangan kegiatan observasi, pada tahun 1902 observatorium tersebut dipindahkan ke Bogor, dan kemudian pada tahun 1925 kembali direlokasi ke sebuah pulau di dekat Batavia.Â
Meskipun mengalami beberapa kali perpindahan, kegiatan observasi tetap berjalan aktif hingga tahun 1942, ketika pendudukan Jepang dimulai dan seluruh staf Eropa di Batavia ditangkap serta dipenjarakan, sehingga operasional dari bangunan ini terhenti total.
Dalam hal metode pengamatan, tempat ini terus mengalami perkembangan pesat. Pada masa awal, kegiatan difokuskan pada pengamatan iklim dan cuaca, kemudian diperluas ke bidang geofisika dengan mempelajari struktur bumi. Tonggak penting terjadi pada tahun 1908, ketika observatorium mulai melakukan pengamatan gempa bumi menggunakan komponen horizontal seismograf Wiechert di Jakarta.Â
Sebelum itu mereka telah menggunakan microseismic recorder dan photographic seismograph, peralatan mutakhir pada masanya untuk mendeteksi gelombang dan getaran lapisan bumi.
Keberadaan dari tempat ini memiliki arti penting sebagai cikal bakal sistem pemantauan dan peringatan dini kegempaan di Indonesia. Melalui lembaga ini, data kegempaan mulai tercatat secara ilmiah dan sistematis, menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kebumian di Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Arsip-arsip yang ada di tempat ini menyimpan catatan berharga mengenai aktivitas seismik, perubahan medan magnet bumi, dan pola cuaca tropis, yang kini menjadi sumber penting untuk memahami sejarah alam Indonesia.

Selain sebagai pusat ilmiah, tempat ini juga berperan besar dalam penyebaran pengetahuan geofisika ke Eropa. Data yang dikumpulkan di Hindia Belanda dikirim secara rutin ke Royal Netherlands Meteorological Institute (KNMI) di Belanda untuk dianalisis lebih lanjut.Â
Pertukaran data ini membuat kawasan Nusantara menjadi salah satu wilayah pengamatan geofisika paling aktif di dunia tropis pada awal abad ke-20. Dengan demikian, observatorium di Batavia menjadi bagian dari jaringan pengamatan global yang membantu memahami ilmu bumi secara menyeluruh.
Baca juga: Jejak Gempa Batavia: Lenyapnya Observatorium Megah
Setelah kemerdekaan Indonesia, warisan pengetahuan dan data observatorium tersebut menjadi fondasi bagi pendirian BMKG. Alat, catatan, serta metodologi yang pernah digunakan di masa kolonial diadaptasi dan dikembangkan oleh para ilmuwan Indonesia untuk membangun sistem pemantauan modern, sumber-sumbernya juga dapat digunakan hingga saat ini. Meskipun didirikan pada masa kolonial, observatorium ini meninggalkan jejak penting dalam perjalanan panjang ilmu kebumian dan mitigasi bencana di Indonesia.(Kori/Nugrah)






