Refleksi ; “Pengungsi Bencana sebagai Subjek dan Solidaritas Lintas Batas”

Ilustrasi Pengungsi, Foto: reuters
Ekspedisi Jawadwipa

Pengungsi yang muncul akibat bencana Hidrometeorologi Sumatera yang terjadi pada November 2025 lalu, membuka banyak mata tentang runtutan bencana ekologis sekaligus bencana manusia, bukan hanya secara data statistik yang membuat ratusan lebih manusia yang menjadi korban jiwa tetapi tentang nasib ribuan manusia yang menjadi pengungsi akibat bencana.

Pembahasan tentang penyebab bencana ini telah banyak dibahas oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang sehari sebelum kejadian dalam reportnya telah menghimbau adanya Siklon Senyar yang sebenarnya tidak umum terjadi di sekitar Selat Malaka, dan secara persoalan daya tampung wilayah Sumatera yang semakin sempit akibat berbagai peralihan hutan tampaknya juga telah ditinjau pemerintah, Tempo mengabarkan ada 28 perusahaan yang dicabut izinnya karena diduga menjadi penyebab kerusakan hutan yang menjadi penyebab banjir bandang di Sumatera.

Pasca bencana, permasalahan tidak terhenti pada material alam yang menghentikan aktivitas manusia, tapi juga tentang penambahan jumlah pengungsi, data UNCR pada tahun 2024 sudah ada 73,5 ribu manusia yang mengungsi akibat konflik, kemudian pasca bencana Sumatera ada 32.553 jiwa yang terdaftar sebagai manusia yang menjadi pengungsi baru akibat bencana alam.

Keadaan tenda-tenda pengungsian menambah pula jumlah kerentanan manusia, lewat Kuliah Umum Awal Tahun yang diselenggarakan oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) yang bertajuk “Pengungsi Bencana sebagai Subjek dan Solidaritas Lintas Batas”, nampaknya mencoba merekonstruksi ulang istilah pengungsi dan solidaritas yang sering hanya dikaji sebagai bagian dari angka dan data atay sebatas dukungan empatis. 

pengungsi
Warga yang berjalan melewati jembatan sementara, Foto: ANTARA/HO-Pendam I/Bukit Barisan

Refleksi ; “Pengungsi Bencana sebagai Subjek dan Solidaritas Lintas Batas”

Kuliah yang diberikan oleh dua sosok penulis perempuan; Raisa Kamila dan Intan Paramitha di Taman Ismail Marzuki (Rabu, 28/01/2026) ini, bukan hanya sekedar momentum merespon peristiwa bencana, namun juga melihat bencana dalam lanskap yang lebih luas.

Raisa Kamila, seorang perempuan Aceh merefleksikan bencana yang terjadi, lewat lantunan lagu Untong Kamoe Nyoe dari grup Nyawoung Aceh, sebuah ingatan tentang bencana di tanah kelahirannya yang banyak meluluhlantakkan kehidupan masyarakat.

Uniknya, Raisa melihat wajah bencana bukan dari cerita heroik, namun dari “kisah pengungsi” yang ia sebut; harusnya menjadi titik pijak memahami sejarah, baik sejarah bencana sekaligus sejarah lingkungan.

Sejarah panjang pergerakan kehidupan sosial manusia sejatinya ditentukan oleh alam, pengalaman mengungsi inilah yang membuat manusia bisa lebih dalam menelusuri sejauh mana alam bergerak.

“Dengan menjadikan pengungsi sebagai subjek, ruang tidak lagi tampak statis dan mapan, melainkan dinamis, dibentuk oleh arus manusia yang bergerak karena bahaya. Bukit, lembah, dan hulu sungai pun dapat dibaca sebagai arsip hidup, yang menyimpan jejak trauma sekaligus strategi bertahan” paparnya.

Dalam kuliah umum awal tahun ini, bukan hanya konteks pengungsi yang dibahas namun juga solidaritas lintas batas, baik bencana Sumatera maupun bencana-bencana lain yang disebabkan manusia, misalnya Palestina, Rohingya ataupun Papua.

Intan mencoba membawa panelis untuk berfikir, Apa artinya solidaritas? baginya solidaritas berangkat dari struktur penindasan, tidak terbatas pada simpati kemanusiaan ataupun kesamaan identitas.

pengungsi
Foto tenda pengungsi di bencana sumatera, Foto: KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO

Dari beban ganda para perempuan pengungsi bencana Sumatera ada benang merah yang menghubungkan antara peristiwa  bencana ini dengan bencana-bencana sosial lainnya, yaitu kesenjangan dan ketidaksetaraan.

Palestina dan Rohingya mendapat diskriminasi akibat ketidaksetaraan kekuatan sama halnya dengan isu Papua yang hutannya hilang akibat ketidaksetaraan, pun bencana Sumatera, mereka yang rentan bertambah rentan karena ketidaksetaraan akses, dan dalam konteks yang lebih luas manusia mengeksploitasi bumi karena ada unsur ketidaksetaraan.

“Kepedulian tidak hanya merawat sesama manusia, tapi juga merawat bumi yang kita huni bersama dengan menyadari bahwa kita semua dibentuk oleh interseksionalitas penindasan: penindasan berbasis kapitalisme, rasisme, kolonialisme, dan patriarki” Pungkas Intan.

Baca juga: Gempa Beruntun Picu Aktivitas Gunung Burni Telong, Bener Meriah

Dari kuliah umum tersebut, setidaknya keduanya sama-sama berpikir, ada permasalahan penting lain dalam bencana selain memastikan semua korban dapat ditangani dengan baik,  tapi juga mencoba adil sejak dalam pikiran bahwa bencana bukan peristiwa tunggal, ada latar belakang panjang historis bumi dan juga pola penindasan terhadap alam.(Kori)