Harga Plastik Bisa Naik?, Saatnya Mengurangi Bencana

Ilustrasi Mengganti tas plastik, Foto: ILUSTRASI/YAYASAN IAR INDONESIA
Ekspedisi Jawadwipa

Saat ini plastik digadang-gadang sebagai sumber masalah di berbagai hal, kehadirannya seperti berkah yang memudahkan aktivitas manusia, semua alat rumah tangga dan juga sandang, papan membutuhkan bahan ini namun kini juga menjadi bencana karena kuantitasnya yang cukup banyak dan sulitnya untuk didaur ulang, bahan ini pun kini menjadi masalah karena elemennya yang bertransformasi menjadi mikro bahkan nano masuk ke dalam tubuh dan menjadi polutan abadi bagi manusia.

Sejak konflik geopolitik antara Iran dan Amerika meningkat, harga minyak mentah melonjak dari sekitar US$67 per barel menjadi lebih dari US$98 pada puncaknya 20 Maret. Harga gas di Asia dan Eropa pun meningkat lebih dari 60%. Kenaikan ini bukan hanya soal energi, tetapi juga berdampak langsung pada industri bahan ini juga.

Lebih dari 99% plastik global berasal dari bahan bakar fosil, termasuk polyethylene (PE) dan polypropylene dua jenis plastik yang paling banyak digunakan. Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar seperempat ekspor global bahan tersebut. Ketika terjadi gangguan logistik di kawasan ini, dampaknya terasa hingga ke rantai pasok global.

Harga Plastik Bisa Naik?, Saatnya Mengurangi Bencana

plastik
Ilustrasi kenaikan harga plastik, Foto: Dok. jambione.com

Keluhan tentang kenaikan harga bahan ini juga dirasakan pedagang pasar di pasar-pasar Indonesia, Menteri Perekonomian Zulkifli Hasan soal lonjakan harga yang cukup tinggi hingga sekitar Rp 6 ribu per kemasan mulai terjadi sejak Lebaran.

Dampaknya akan terasa sangat dekat dengan kita, alat makan sekali pakai, minuman kemasan, hingga kantong sampah berpotensi mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat. Tetapi persoalan ini sejatinya bukan hanya soal inflasi atau biaya hidup yang naik. Selama ini, plastik sekali pakai menjadi pilihan paling mudah, paling murah, dan paling cepat. Kita menggunakannya dalam hitungan menit, tetapi membiarkannya bertahan ratusan tahun di lingkungan.

Selama ini harga plastik yang murah membuat kita tidak pernah benar-benar menghitung biaya ekologis dan bencana yang ditimbulkannya. Terbiasa menggunakan plastik sekali pakai tanpa berpikir panjang, seolah ia akan hilang begitu saja setelah dibuang. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: benda ini terus menumpuk, mencemari tanah, laut, dan bahkan tubuh manusia.

Kenaikan harga ini seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang tersebut. Ketika biaya ekonomi mulai terasa lebih mahal, maka harus ada cara lain bertahan dan mencoba lebih ramah lingkungan. Mengurangi penggunaannya bukan lagi sekadar pilihan moral, tetapi juga langkah rasional. 

plastik
Ilustrasi plastik di pedagang, Foto: Dok. news.fin.co.id

Membawa tas belanja sendiri, menggunakan wadah pakai ulang, hingga memilih produk dengan kemasan minimal adalah bentuk-bentuk sederhana yang bisa dilakukan dari level individu.

Dukungan dari pemerintah dan pelaku industri juga perlu dilakukan secara serius. Kebijakan pembatasan penggunaannya , penguatan sistem daur ulang, hingga inovasi bahan alternatif harus didorong secara konsisten. Tanpa intervensi yang sistematis, upaya pengurangan plastik hanya akan menjadi gerakan seporadis yang tidak mampu menjawab skala permasalahan.

Kenaikan harga plastik bukan hanya soal beban tambahan dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sinyal bahwa sistem yang selama ini kita anggap normal sebenarnya juga penuh risiko. 

Baca juga: Benarkah Ada Jamur Pemakan Plastik ?

Jika tidak ada perubahan, kita tidak hanya menghadapi krisis harga, tetapi juga krisis lingkungan yang jauh lebih besar. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai mengurangi bukan karena terpaksa, tetapi karena kita memahami bahwa setiap plastik yang kita hindari adalah satu langkah kecil untuk mencegah bencana yang lebih besar.(Kori)