Gempa Depok 1874, Mengarsipkan Berita Gempa

Ilustrasi era kolonial di Depok, Foto: historiek
Ekspedisi Jawadwipa

Sangat sulit mencari arsip kegempaan sebelum masuk abad ke-19, gempa-gempa kecil yang berdampak namun tidak signifikan hampir sedikit sekali tercatat dalam katalog kegempaan yang ditulis oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika).

Tentu sangat tidak sebanding dengan data real time BMKG sekarang yang perharinya bisa mendeteksi belasan hingga puluhan kejadian perhari, sehingga setahunnya lebih dari ratusan kejadian terjadi. Mulai dari yang skala kecil hingga besar, semua kini terdata apik oleh BMKG.

Di masa lalu utamanya sebelum abad 19, masyarakat hanya menjadikan gempa bumi sebagai tanda-tanda alam biasa kendatipun terjadi kerusakan dan korban jiwa, semuanya diungkapkan dalam istilahnya masing-masing lindu (Jawa Tengah) serta lini (Jawa Barat).

Era kolonial pendekatan yang berbeda memahami situasi alam ini, sebagai penjajah, Belanda melihat Hindia Timur (Indonesia sekarang) tentu dengan pandangan berbeda dalam menangani gempa. Laporan terkait kegempaan mulai dilakukan untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah jajahan berjalan dengan baik serta meminimalisir jumlah kerugian akibat bencana yang kemungkinan terjadi.

Gempa Depok 1874, Mengarsipkan Berita Gempa

gempa
Catatan yang terekam di Javasche courant, 22-11-1834, Foto: Dok. poestahadepok.blogspot.com

Depok merupakan salah satu wilayah kolonial terpenting di Hindia Belanda abad 19-20 bahkan hingga sekarang, kota ini menghubungkan antara wilayah Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor), wilayah yang dilalui sungai-sungai besar, serta memiliki peran strategis dalam jalur transportasi perekonomian.

Pada pertengahan Juni 1874, sekitar pukul 13.30, wilayah Depok dan sekitarnya diguncang gempa bumi yang berlangsung kurang lebih 63 detik dan dirasakan sangat kuat oleh penduduk. Laporan sezaman menyebutkan kaca-kaca bergetar hebat, gembok dan pintu saling membentur, sejumlah gelas jatuh dari bufet yang menempel di dinding, serta ranjang berguncang keras. Guncangan digambarkan bersifat vertikal dengan intensitas yang berubah-ubah, menimbulkan kepanikan di dalam rumah-rumah penduduk. kejadian ini tidak hanya dirasakan di Depok, tetapi juga menjalar hingga Buitenzorg. 

Pada malam harinya, wilayah tersebut dilanda badai petir yang sangat dahsyat disertai hujan lebat dan angin kencang, yang mengakibatkan beberapa rumah penduduk pribumi hancur serta menimbulkan berbagai kerusakan lainnya. Jika dikaitkan dengan laporan cuaca di wilayah Jawa pada periode yang sama yang mencatat hujan lebat dan badai peristiwa ini diduga berkaitan dengan kondisi monsun timur yang tidak lazim. 

gempa
Ilustrasi kejadian gempabumi pada era kolonial, Foto: Dok. radarsemarang.jawapos.com

Dalam catatan yang berbeda juga menunjukkan bahwa pada 16 Juni 1874, kejadian ini juga terjadi di Tjilatjap (kini Cilacap). Sekitar sepuluh hari kemudian hal ini kembali dirasakan di Buitenzorg dan Depok dengan durasi dan kekuatan yang serupa sekitar 63 detik dan cukup kuat untuk menimbulkan rasa panik serta kerusakan.

Baca juga: Taman Hutan Raya Depok, Hutan Bersejarah dan Resapan Banjir

Dalam laporan yang sama, muncul pula keluhan masyarakat terhadap Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Banyak dari keluhan tersebut dinilai beralasan, mengingat infrastruktur transportasi sangat rentan terhadap gangguan alam. Pada periode ini, pemerintah kolonial bahkan menunjuk jaksa negara di Batavia, Samarang (Semarang), dan Surabaya, menandai meningkatnya perhatian administratif terhadap pengelolaan wilayah dan dampak bencana.(Kori)