Februari 2005 gunungan sampah TPA Leuwigajah mengalami kejadian longsor setelah dilanda hujan deras sebelumnya, menimbun lebih dari ratusan orang serta puluhan rumah. Merupakan bencana paling membekas di bagi masyarakat Kelurahan Leuwigajah. Masih teringat jelas oleh masyarakat Kelurahan Leuwigajah di pinggir Kota Kabupaten Cimahi (dulu Bandung).
Meskipun kejadian longsoran sampah tersebut hanya terdampak pada satu kampung namun kampung-kampung lain disekitarnya turut mendapatkan dampak dari bencana tersebut. Salah satunya adalah Kampung Adat Cireundeu yang berada disisi lain TPA tersebut.
Bencana Sampah Pernah Mengancam Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Cireundeu

Masyarakat Adat Cireundeu cukup unik sebab bertahan menjaga adat di tengah hiruk pikuk perkotaan tidaklah mudah, hanya berjarak 6 kilometer dari pusat kota Cimahi, wilayah Adat Cireundeu bagai oase di tengah bingar kota, hijau hutan yang cukup rapat. Lokasinya yang terlalu dekat dengan kota juga membuat Kampung Adat Cirendeu mengalami kesulitan untuk menolak pengoprasian TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah pada 1980, yang awalnya hanya sebagai tempat penitipan sementara.
Sebagai bagian dari masyarakat adat hal yang paling dijunjung tinggi oleh masyarakat Cireundeu adalah terkait nilai kelestarian alam, sejak 1924 masyarakat disini menjadikan singkong sebagai bahan pangan pokok yang disebut “rasi”, makanan yang cocok pada segala kondisi, mudah ditanam serta dapat dimanfaatkan buah dan daunnya. Ini menggantikan beras sebagai bahan pangan karena singkong dapat ditanam sendiri di lingkungan mereka, serta tanaman padi yang membutuhkan air sehingga tidak cocok ditanam di wilayah Cirendeu karena daerah yang airnya tidak cukup banyak.
Bagi mereka, Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.”
“Tidak Punya Sawah Asal Punya Beras, Tidak Punya Beras Asal Dapat Menanak Nasi, Tidak Punya Nasi Asal Makan, Tidak Makan Asal Kuat.”
Nilai ini menggambarkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu bergantung pada kepemilikan lahan luas, melainkan pada kemampuan menjaga sumber makan yang bisa mereka tanam sendiri.
Namun pasca tragedi longsor TPA Leuwigajah, ketahanan pangan masyarakat Cireundeu turut terancam. Limbah dan gas beracun yang terbawa longsoran membawa dampak pada lahan-lahan singkong di sekitar wilayah adat. Bau menyengat menyelimuti udara selama berbulan-bulan, sementara tanah dan air diduga telah terkontaminasi residu sampah.

Dalam wawancara yang dilakukan Disaster Channel pada 18/11, Kang Yana, selaku pengelola Kampung Adat Cireundeu, menjelaskan bahwa setelah peristiwa longsor, masyarakat mengalami penurunan drastis hasil panen singkong. Umbi yang biasanya menjadi sumber pangan utama tidak lagi layak konsumsi, tanaman singkong mudah membusuk. Beberapa lahan bahkan dibiarkan kosong karena dikhawatirkan telah tercemar dan gagal panen.
Baca juga: 4 Tips saat Ramadhan yang Dapat Kurangi Sampah
Dampak ini tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga psikologis dan kultural. Singkong, yang selama puluhan tahun menjadi simbol kemandirian dan ketahanan hidup masyarakat Cireundeu, mendadak berubah menjadi sumber kekhawatiran. Bencana itu menjadi bukti bahwa krisis lingkungan dan kesalahan tata kelola sampah di satu wilayah dapat menjalar luas hingga mengancam sistem pangan masyarakat adat yang selama ini telah hidup selaras dengan alam.(Kori)






