Ungu nama grup band pop Indonesia yang hadir sejak 1996, lagu-lagunya merajai tangga musik di awal-awal tahun 2000an. Para penggemar yang disebut Cliquers sejak dulu disajikan musik bernada mellow menyentuh hati.
Lagu sering dijadikan ungkapan perasaan baik sedih maupun senang di berbagai daerah, termasuk dalam menanggapi bencana. Jika dalam dimasa lalu, orang Aceh mempunyai syair “smong” sebagai kearifan lokal masyarakat untuk kini dikenal sebagai warisan mitigasi bencana, lalu Ebiet G. Ade dalam lagunya merenungi bencana Sinila yang pernah terjadi di Dataran Tinggi Dieng, Ungu sebagai band musik Indonesia juga punya caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya menanggapi bencana.
Entah dimasa lalu ataupun masa kini, mengungkapkan perasaan akibat peristiwa bencana adalah bagian dari budaya; syair, puisi, doa, lagu adalah hal paling sederhana yang bisa diciptakan manusia untuk menggambarkan kondisi prihatin ini, salah satunya yang dilakukan oleh Band Ungu.
Band Ungu Bersolidaritas Bencana, Lewat Lagu “Ngatata Notumangi”

Pada 2016, Pasha Ungu vokalis band Ungu memasuki dunia politik dan menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dalam masa jabatannya di 2018, Palu mengalami salah satu bencana yang paling dahsyat dalam sejarah Indonesia: gempa bumi yang mengguncang kota tersebut, disusul tsunami dan likuifaksi yang menewaskan lebih dari 4.000 jiwa.
Dalam suasana pilunya, penyanyi ini menciptakan lagu berjudul “Ngatata Notumangi” yang dalam bahasa Suku Kaili berarti Kota Kita Menangis, berikut liriknya:
| Ina…nasimpurara Eyo hi ngatata notumangi Eyo hi mangge ina nongare Eyo hi anata nakaekata Eyo hi ngata nakamburaka Nuapa saba ante ngataku Nuapa salahku O ina… nasimpurara Dako talumpae nompakavoe ngata Dako talumpae nompatolele ngata Otupu ala taala petiro kami Merapi ampu kami Kamaimo kita masintuvu Kamaimo kita morambanga Kamaimo kita mosangurara Mombangu vai ngata Kamaimo kita mosinggani Mombangu ngatata nipotoveta Kamaimo kita mosigande Mompakabelo ngata | Ibu… sedihnya hati Hari ini kota kita menangis Hari ini Bapak dan Ibu merintih Hari ini anak kita ketakutan Hari ini kota kita berserakan Mengapa? ada apa dengan kotaku? Apa salahku? Oh Ibu… sedihnya hati Baru tiga tahun memperbaiki kota Baru tiga tahun mempromosikan kota Ya Allah Ta’ala, lihatlah kami Kami memohon ampunan-Mu Marilah kita bersatu Marilah kita semua Marilah kita satu hati Membangun kembali kampung Marilah kita bersama Membangun kota yang kita cintai Marilah kita bergandengan Memperbaiki kota |
Suara seruling, instrumen musik tradisional yang mengawali alunan nada ini menambah pilu suasana orang yang mendengarkan lagu “Ngatata Notumangi”. Pasha selaku pencipta lagu mencurahkan isi hatinya sebagai pemimpin sekaligus masyarakat yang mendapat musibah tersebut, lewat untaian lirik ketakutan, kepasrahan serta ajakan untuk bangkit.

Bahasa Kaili menjadi pilihan bahasa lagu, diiringi musik pop khas Ungu, serta keterlibatan pencipta lagu yang memiliki pengalaman langsung dengan peristiwa tersebut, memberikan perasaan emosional yang mendalam pada karya ini. Meskipun lagu tersebut tidak secara langsung memuat pesan mitigasi atau pencegahan bencana di masa depan, keberadaannya bisa berfungsi sebagai penanda ingatan kolektif atas peristiwa gempa besar yang pernah mengguncang Palu dan wilayah sekitarnya.
Baca juga: Menyelami Peristiwa Bencana Lewat Lagu “Berita Kepada Kawan”
Selain lagu “Ngatata Natomangi” lagu dari Ungu yang masih dalam satu tema sama adalah “Baku Jaga” mengingatkan tentang bencana yang entah kapan datang tapi sebagai manusia harus saling berdoa dan mendukung, bedanya jika “Ngatata Natomangi” berbahasa Kaili maka “Baku Jaga” berbahasa Manado, wilayah lain yang terkena dampak bencana gempa 2018.(Kori/Nugrah)






