Gunung Dukono yang berada di Halmahera Utara, Maluku Utara, dilaporkan mengalami erupsi pada Jumat (08/05) yang menyebabkan tiga pendaki meninggal dunia. Selain itu lebih dari 20 pendaki lainnya dilaporkan masih tertahan di kawasan gunung akibat meningkatnya aktivitas vulkanik dan kondisi yang dinilai berbahaya untuk proses evakuasi. Hingga Jumat siang Tim SAR mengkonfirmasi 14 orang ditemukan dan dinyatakan selamat.
Dalam sepekan terakhir, Gunung Dukono memang berada dalam status waspada Level II selama beberapa pekan terakhir. Aktivitas vulkanik terus mengalami peningkatan dengan erupsi yang terjadi secara berkala.
Gunung Dukono Erupsi, Pendaki Jadi Korban

Berdasarkan laporan aktivitas vulkanologi, erupsi terjadi pada Jumat, 08 Mei 2026 pukul 07.41 WIT. Kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar ±10.000 meter di atas puncak atau sekitar ±11.087 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara. Hingga laporan ini disusun, erupsi masih berlangsung.
Erichson Pasaribu menjelaskan bahwa pihak kepolisian bersama pengelola kawasan sebenarnya telah berulang kali melakukan sosialisasi terkait larangan pendakian di Gunung Dukono. Imbauan tersebut disebarluaskan melalui media sosial, hingga pemasangan spanduk peringatan di pintu masuk jalur pendakian.
Meski demikian, masih ada sejumlah wisatawan yang nekat mendaki meskipun aktivitas vulkanik gunung sedang meningkat. Mayoritas pendaki tersebut diketahui berasal dari luar daerah dan diduga tetap memaksakan diri naik demi kepentingan dokumentasi pribadi maupun pembuatan konten di media sosial.
“Memang ada beberapa yang nekat mendaki karena ingin membuat konten dan sebagainya. Banyak pendaki ini merupakan wisatawan dari luar daerah. Kami menghimbau agar untuk sementara waktu Gunung Dukono ditutup dan tidak ada aktivitas pendakian,” ujar Erichson.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas erupsinya yang terus terjadi tidak lepas kaitannya dengan dinamika tektonik di kawasan Halmahera yang berada di jalur pertemuan lempeng aktif.

Secara geologis, wilayah ini dipengaruhi oleh sistem subduksi ganda, yakni pergerakan Lempeng Laut Maluku yang menunjam ke arah timur di bawah Lempeng Pasifik. Pergerakan tersebut membentuk busur vulkanik Halmahera yang memunculkan sejumlah gunung api aktif, termasuk Gunung Dukono.
Selain Dukono, terdapat beberapa gunung api lain di kawasan Maluku Utara yang juga dipengaruhi aktivitas tektonik yang sama, di antaranya Gunung Gamkonora, Gunung Ibu, Gunung Gamalama, serta Gunung Kei Besi.
Baca juga: Kisah Menak Jinggo, Peradaban yang Tertimbun dan Letusan Dahsyat Gunung Raung
Gunung Dukono sendiri memiliki karakter erupsi yang bersifat eksplosif sekaligus efusif. Sifat eksplosif membuat gunung ini kerap memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan material pijar ke udara dalam intensitas tinggi. Sementara sifat efusif ditandai dengan keluarnya lava cair yang mengalir melalui retakan-retakan.(Kori)






