Yogyakarta, ITB Ingatkan Potensi Pelepasan Energi Kegempaan

Gambar Rumah Roboh Akibat Gempa 27 Mei 2006, Foto: EkaRockCIty
Ekspedisi Jawadwipa

Hampir 20 tahun berlalu,  gempa jogja di tahun 2006 masih menyisakan ingatan mengerikan bagi masyarakat. Dibalik istimewanya Kota Yogyakarta potensi bencana berjalan beriringan bersama tumbuh suburnya kehidupan sosial masyarakat, mulai dari aktifnya Gunung Merapi, potensi jalur kegempaan lewat sungai Opak hingga ganasnya deru laut Pantai Selatan.

Peristiwa Gempa Yogyakarta 2006 menjadi salah satu tragedi paling membekas dalam sejarah kebencanaan di wilayah ini. Pada pagi hari 27 Mei 2006, guncangan kuat datang dan  meluluhlantakkan ribuan rumah dan infrastruktur dalam hitungan detik. Wilayah Bantul menjadi kawasan yang paling terdampak, dengan korban jiwa mencapai ribuan orang dan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

Yogyakarta, ITB Ingatkan Potensi Pelepasan Energi Kegempaan

yogyakarta
Yogyakarta pasca gempa, 29 Mei 2006, Foto: AP

Secara geologis, gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif di selatan Yogyakarta yang memiliki karakteristik patahan dangkal. Berdasarkan analisis mekanisme fokal, sesar ini berarah barat daya–timur laut dengan parameter teknis tertentu, yang menyebabkan energi gempa dilepaskan sangat dekat dengan permukaan. Kondisi ini memperkuat dampak guncangan di wilayah padat penduduk. 

Kekhawatiran tentang potensi bencana di Yogyakarta tidak berhenti pada tragedi masa lalu. Para ahli kebencanaan mengingatkan bahwa kawasan selatan Pulau Jawa masih menyimpan potensi gempa besar yang belum terjadi. Dwikorita Karnawati dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menyebut bahwa wilayah ini tengah berada di fase akhir dari siklus gempa besar sekitar 200 tahunan. Kajian yang juga melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Bandung menunjukkan adanya akumulasi energi tektonik yang belum sepenuhnya dilepaskan.

Dalam konteks ini, zona megathrust di selatan Jawa menjadi perhatian utama. Zona ini merupakan batas pertemuan lempeng tektonik yang berpotensi menghasilkan gempa berkekuatan sangat besar. Jika energi yang tersimpan dilepaskan sekaligus, magnitudo gempa diperkirakan dapat mencapai hingga 8,7. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan gempa tahun 2006, sehingga memunculkan kekhawatiran yang lebih dalam terhadap potensi dampak yang bisa terjadi.

yogyakarta
Bangunan Hancur Akibat Gempa, Foto: Dok. Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY

Menanggapi kajian tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa hasil kajian potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa merupakan bagian dari skenario ilmiah yang valid dan perlu diapresiasi sebagai upaya edukasi publik. BMKG melalui Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami, Rahmat Triyono, menyatakan bahwa potensi tersebut memang benar ada dan bersifat nyata, namun belum dapat dipastikan kapan akan terjadi karena hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu dan lokasi gempa secara akurat. 

Baca juga: Kisah Gempa di Aliran Sungai Kaligarang, Semarang

BMKG juga menekankan bahwa skenario tsunami hingga 20 meter tersebut merupakan skenario terburuk dari zona megathrust, yang justru penting dijadikan acuan dalam perencanaan mitigasi bencana. Dalam konteks ini, fokus utama bukan pada kepastian terjadinya bencana, melainkan pada kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk agar risiko korban jiwa dan kerugian dapat diminimalkan.(Kori)