Eco Enzym, Cairan Multi Guna dan Praktiknya

contoh cairan eco enzim, Foto: Dok. tabloidsinartani.com
Ekspedisi Jawadwipa

Cairan eco enzym menjadi cairan yang diusulkan dalam kasus pencemaran pestisida di Sungai Cisadane, Tangerang Selatan salah satu yang diupayakan oleh pemerintah adalah dengan pembersihan sungai dengan bahan alami cairan eco-enzym, 1.500 liter dituangkan sebagai bagian dari upaya pembersihannya.

Penggunaan eco enzym di Indonesia belakangan ini makin meningkat, menyusul peningkatan kesadaran lingkungan dan pengenalan cara alternatif pengurai limbah organik pada buah dan sayur yang semakin masif dikenalkan di berbagai tingkatan, mulai dari sekolah hingga komunitas-komunitas ibu-ibu.

Diberbagai wilayah Asia Tenggara penggunaan eco enzym cukup terkenal, setelah Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand menggagas proyek untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya dibuang ke dalam tong sampah sebagai pembersih organik, pada kisaran tahun 1980 an.

Eco Enzym, Cairan Multi Guna dan Praktiknya

eco enzym
contoh pembuatan cairan eco enzym, Foto: Dok. generalaffairs.binus.edu

Eco enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Warnanya coklat dan memiliki aroma fermentasi asam manis.

Cairan ini memiliki berbagai manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Cairan hasil fermentasi ini dapat digunakan sebagai pembersih lantai, pembersih toilet, dan pembersih dapur karena kandungan asam alaminya membantu mengurangi kotoran dan bau. 

Selain itu, eco enzyme juga bisa dimanfaatkan sebagai pembersih piring serta campuran deterjen pakaian. Dalam skala rumah tangga, eco enzyme berfungsi sebagai pembersih udara dan pengolah limbah organik karena membantu mengurangi bau tidak sedap. 

Tidak hanya itu, cairan ini juga dapat digunakan sebagai pembersih badan dan rambut dalam pengenceran tertentu. Di bidang pertanian, eco enzyme sering dimanfaatkan sebagai pembasmi serangga, pestisida ramah lingkungan, serta penyubur tanaman karena kandungan alaminya dapat membantu meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi hama

Eco enzyme dapat berfungsi sebagai desinfektan karena mengandung alkohol dan/atau asam asetat yang terbentuk selama proses fermentasi. Zat-zat tersebut dihasilkan dari metabolisme bakteri alami yang terdapat pada sisa buah dan sayur. 

Ketika bahan organik ini difermentasi dalam kondisi tanpa oksigen (anaerobik), bakteri memecah karbohidrat atau gula untuk memperoleh energi. Sebagai hasil sampingan dari proses tersebut, terbentuklah alkohol atau asam asetat, tergantung pada jenis mikroorganisme yang berperan. Kandungan inilah yang memberikan eco enzyme sifat antimikroba sehingga mampu membantu menghambat atau membunuh kuman.

Penggunaan eco enzyme pernah dipraktikkan dalam upaya pemulihan lingkungan di beberapa negara. Di India, kegiatan ini didukung oleh The Art of Living dan diterapkan di Saluran Air Barapullah yang bermuara ke Sungai Yamuna sebagai bagian dari aksi pembersihan dan pengurangan pencemaran air.

eco enzym
contoh hasil dari pembuatan eco enzym, Foto: Arimami Suryo A

Di Johor Bahru, Malaysia, komunitas daur ulang setempat juga pernah mengupayakan pembersihan Sungai Kim Kim dengan memanfaatkan eco enzyme sebagai alternatif ramah lingkungan dalam restorasi kualitas air.

Pembuatan cairan ini juga yang tergolong mudah dan dapat dibuat sendiri dalam skala kecil, membuat praktik ini juga kian digemari dan menjadi kegiatan yang menarik untuk dipraktekkan bersama.

Cara membuat eco-enzyme bisa dimulai dengan menyiapkan wadah plastik bersih yang memiliki tutup, lalu masukkan air sesuai kebutuhan. Setelah itu tambahkan gula (bisa gula merah atau molase) dan aduk hingga larut, kemudian masukkan bahan organik seperti kulit buah atau sayur dengan perbandingan 1 : 3 : 10 (1 bagian gula, 3 bagian bahan organik, dan 10 bagian air). 

Baca juga: Cisadane Terkontaminasi Pestisida, Bahaya Lingkungan dan Tak Layak Pakai

Wadah tidak boleh diisi penuh, sisakan ruang untuk gas hasil fermentasi. Tutup rapat dan simpan di tempat teduh selama kurang lebih tiga bulan. Pada minggu pertama, buka tutup wadah setiap hari untuk mengeluarkan gas agar tidak meledak. Setelah fermentasi selesai, saring cairannya dan eco-enzyme siap digunakan untuk pupuk cair, pembersih alami, atau penyubur tanaman.(kori)