Pati, Kudus dan Jepara yang berada di sisi Pantai Utara Jawa Tengah disambangi bencana hidrometeorologi berupa banjir serta tanah longsor sejak 09 Januari 2026 lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga memperingatkan adanya kondisi curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Akibat dari bencana yang terjadi di berbagai wilayah Pantura ini, jalur nasional pantai utara Kudus hingga Pati terendam banjir dari luapan Sungai Dawe.
Pantai Utara Jawa Tengah Disambangi Bencana Hidrometeorologi

Dikutip dari Pemprov Jawa Tengah, banjir melanda 59 desa di 15 kecamatan di Kabupaten Pati. Peristiwa tersebut mengakibatkan 1 rumah rusak berat dan 5 rumah rusak sedang. Selain itu, 15 titik talud serta akses jalan mengalami kerusakan, dan 1 fasilitas umum berupa musala turut terdampak. Banjir ini juga menyebabkan 15 kepala keluarga atau 46 jiwa sempat mengungsi di Balai Desa Doropayung.
Di Kudus terdapat 25 desa yang terdampak banjir dengan ketinggian yang variatif, selain itu tanah longsor dengan berbagai skala baik besar juga terjadi, di Kecamatan Bae ada di 2 titik, Kecamatan Gebog ada 38 titik, dan Kecamatan Dawe 92 titik. Banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kudus setidaknya menyebabkan tiga korban meninggal dunia. Dua korban meninggal terseret arus banjir dan satu korban tertimbun material tanah longsor.
Kondisi serupa juga terjadi di Jepara, tepatnya di Desa Tempur, Kecamatan Keling, menurut BPBD setempat terdapat 23 titik lokasi longsor yang terjadi, sebelumnya wilayah yang tertutup longsor sempat terisolasi sebelum kemudian dilakukan penanganan pembukaan akses jalur.
Meskipun bencana hidrometeorologi ini dinilai masih dalam tahap bisa tertangani dengan baik sehingga menurut Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Lutfi tidak diperlukan status darurat bencana.
“Belum ada penetapan darurat bencana. Tetapi kita tetap harus siap apabila terjadi perkembangan yang lebih berat,” ujar Luthfi, saat meninjau banjir di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Selasa (13/1/2026).
Salah satu prioritas utama yang dilakukan pemerintah dalam penanganan bencana hidrometeorologi ini adalah pembukaan akses serta perencanaan langkah jangka panjang dengan penataan alur sungai.

“Terutama penanganan sungai. Rencananya, di sebelah kanan akan kita tangani dulu, baru kemudian bisa dibangun jalan. Sementara ini, kebutuhan masyarakat kita atasi dengan dapur umum,” tambah Lutfi
Untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat, pemerintah tetap menyiapkan langkah-langkah darurat berupa penyediaan dapur umum. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi selama proses penanganan dan perbaikan berlangsung.
Baca juga: 3 Fenomena Hidrometeorologi Pasca Terjadinya Bencana di Sumatera
Berdasarkan data Dinas Sosial Jateng, logistik yang disalurkan untuk menanggapi bencana di tiga wilayah ini antara lain: Jepara Rp. 140.755.720, Kabupaten Pati senilai Rp. 133.306.218 dan Kabupaten Kudus 188.014.483.(Kori)






