Kejadian tektonik pagi itu, ketenangan di pesisir Sulawesi Utara koyak dalam hitungan detik. Baru beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 2 April 2026, bumi kembali menunjukkan kuasanya. Sebuah guncangan hebat berkekuatan Magnitudo 7,4 menghantam, berpusat di zona subduksi Laut Maluku. Di Bitung dan Manado, gedung-gedung tinggi tampak “menari” mengerikan, sementara di Kepulauan Sangihe, suara retakan dinding rumah menjadi musik latar yang mencekam.
Data sementara mencatat 12 orang meninggal dunia—sebagian besar akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang tak kuasa menahan beban tektonik—dan lebih dari 150 orang luka-luka. Kerusakan infrastruktur tidak main-main; ratusan rumah warga hancur, beberapa ruas jalan trans-Sulawesi retak menganga, dan fasilitas publik di pusat kota mengalami kerusakan struktur berat. Peristiwa ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras yang membangunkan trauma kolektif masyarakat Sulawesi Utara.
Tanah yang Tak Pernah Diam: Menelusuri Jejak Tektonik dan Suara Purba Sulawesi Utara

Luka Lama: Estafet Bencana dari Abad ke-18
Tragedi beberapa hari lalu sebenarnya hanyalah babak terbaru dari buku besar sejarah bencana di wilayah ini. Jika kita menoleh ke belakang, ke abad ke-18, catatan kolonial Belanda telah merekam kengerian serupa. Pada tahun 1710, gempa dahsyat menghancurkan benteng-benteng kokoh milik kompeni, membuktikan bahwa batu dan semen sekalipun tunduk pada kekuatan bawah tanah Minahasa.
Erupsi gunung api yang dibarengi guncangan tektonik pada 1760-an kian mempertegas bahwa wilayah ini adalah “supermarket” bencana. Dari Gempa Laut Maluku 1998 (M 7,7) hingga peristiwa 7,4 yang baru saja kita lalui, benang merahnya jelas: Sulawesi Utara berdiri di atas raksasa yang tak pernah benar-benar tidur.
“Wadi!” dan “Sasi”: Saat Bahasa Ibu Menjadi Penyelamat
Di tengah raungan sirine BMKG yang canggih, ada suara lain yang lebih tua dan lebih dalam—suara kearifan lokal yang terpatri dalam bahasa daerah. Bagi masyarakat Sulawesi Utara, bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan instruksi keselamatan yang diwariskan turun-temurun.
Di tanah Minahasa, saat tanah mulai berguncang hebat, warga secara spontan akan berteriak, “Wadi! Wadi! Wadi!”. Seruan yang berarti “Masih Ada!” ini adalah cara masyarakat berkomunikasi dengan semesta—sebuah upaya psikologis untuk menyatakan keberadaan mereka agar guncangan segera mereda, sekaligus kode bagi sesama tetangga bahwa mereka masih hidup dan dalam keadaan sadar.

Bergeser ke utara, di Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro, masyarakat memiliki pemahaman yang lebih tajam terhadap laut. Bagi mereka, “Linuh” (gempa) besar adalah aba-aba untuk segera menatap ufuk. Jika mereka melihat “Sasi”—kondisi di mana air laut surut secara tidak wajar hingga menyingkap karang—maka mereka tahu bahwa “Alun” (tsunami) akan segera menyapu daratan. Pengetahuan inilah yang membuat banyak nyawa selamat pada gempa kemarin; tanpa menunggu instruksi aplikasi di ponsel, mereka telah berlari ke ketinggian begitu melihat laut “menarik napas”.
Mitigasi: Antara Teknologi dan Wale
Baca juga: Batasi Diri Mengambil Sumber Daya Alam, Lewat Sasi dan Egek
Kerusakan masif pada bangunan beton dalam gempa 7,4 Magnitudo tempo hari menjadi otokritik bagi pola pembangunan modern. Sebaliknya, sejarah mencatat bahwa “Wale” atau rumah panggung kayu tradisional Minahasa, dengan sambungan pasak yang elastis, dirancang untuk berdansa dengan gempa. Nenek moyang kita telah lama memahami bahwa melawan kekuatan bumi dengan kekakuan adalah kesia-siaan. Gempa beberapa hari lalu adalah pengingat bahwa kita tidak bisa menghapus sejarah tektonik Sulawesi Utara. Namun, dari peristiwa tersebut kita belajar: mitigasi yang paling tajam adalah gabungan antara teknologi mutakhir dan penghormatan pada kearifan lokal. Selama seruan “Wadi!” masih menggema dan pemahaman tentang “Sasi” tetap terjaga, masyarakat Sulawesi Utara akan terus membuktikan ketangguhannya di atas tanah yang tak pernah diam ini.(RN)






