Indonesia sejak lama hidup dalam bayang-bayang bencana. Letaknya di cincin api Pasifik menjadikan gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami sebagai bagian dari realitas yang terjadi secara berulang. Dan dalam memori seseorang, kejadian itu dapat direkam dan diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda-beda dan tak pernah netral. Narasi tentang kejadian alam terus berubah mengikuti siapa yang bercerita, untuk siapa cerita itu ditujukan, dan kepentingan apa yang menyertainya.
Melalui film, kita bisa melihat bagaimana cara pandang itu berkembang dari masa ke masa. Bahkan, jika ditelusuri lebih jauh, film bencana di Indonesia tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga menjadi arsip ingatan, refleksi sosial, sekaligus ruang belajar.
Potret Bencana dalam Layar, Evolusi Film Bencana dari Masa ke Masa
Salah satu pendokumentasiaan film bencana di Indonesia yang apik untuk di tonton adalah Krakatoa: The Last Day, sebuah karya film dibuat pada 2006 dan mengisahkan tentang peristiwa letusan Krakatau 1883, Meskipun bukan karya yang lahir langsung dari perspektif masyarakat Indonesia, film ini tetap memberikan gambaran yang cukup hidup tentang situasi pada masa kolonial.
Yang menarik, narasi dalam film ini tidak hanya menampilkan kedahsyatan alam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana berbagai lapisan masyarakat penduduk lokal, kolonialis, hingga para ilmuwan berada dalam posisi yang sama: semuanya tertunduk lemah dibawah bencana, semuanya sibuk bertahan untuk selamat dari kejadian alam tersebut.Â
Kekuatan film ini juga terletak pada basis ceritanya yang bersandar pada catatan saksi mata, terutama dari seorang ahli geologi, Rogier Verbeek. Melalui rekonstruksi visual dan narasi yang dibangun dari dokumentasi tersebut, film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga jendela untuk memahami bagaimana bencana direkam, dimaknai, dan dikenang dalam konteks sejarah.
Di era Orde Baru, Perum Produksi Film Negara (PFN) menjadi salah satu aktor penting dalam produksi film nasional. Selain karya-karya yang paling dikenal luas seperti film tentang G30S/PKI dan serial Si Unyil, PFN juga menghasilkan beragam film lain mulai dari horor, roman, hingga yang mengangkat peristiwa bencana.
Salah satu yang menarik adalah film dokumenter-drama berjudul Si Nila: Peristiwa Gunung Dieng, yang mengangkat tragedi bencana kawah beracun di kawasan Dieng pada 1979. Film ini merekam peristiwa keluarnya gas beracun dari Kawah Timbang dan Sinila, yang saat itu menimbulkan korban jiwa dalam waktu singkat.
Dengan durasi yang lebih singkat, film ini juga banyak menampilkan sisi heroik serta kerelawanan pasca terjadinya bencana. Pendekatan ini bisa dipahami dalam konteks produksi Perum Produksi Film Negara pada masa itu, yang memang menempatkan film sebagai medium edukasi dan pembentukan semangat kebersamaan. Narasi heroik menjadi cara untuk membangun optimisme publik, meskipun dengan konsekuensi penyederhanaan pengalaman bencana itu sendiri. Dengan demikian, Si Nila: Peristiwa Gunung Dieng tetap penting sebagai arsip visual sekaligus cermin zamannya.

Salah satu film yang cukup kuat merepresentasikan perubahan narasi bencana ke arah yang lebih personal adalah Hafalan Shalat Delisa(2011). Film ini dilatar belakangi oleh peristiwa Tsunami Aceh 2004, namun tidak berfokus pada skala kehancuran semata. Film ini memilih sudut pandang seorang anak, Delisa, yang harus menghadapi kehilangan besar dalam hidupnya.
Film yang sering diputar dalam layar televisi Indonesia ini, memberi sudut pada menarik dalam pendekatan emosional seorang anak pasca bencana. Tentu pendekatan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Pada awal 2010-an, ketika industri film Indonesia mulai bangkit kembali, film seperti Hafalan Shalat Delisa hadir sebagai jembatan antara kebutuhan komersial dan pesan moral. Ia menawarkan cerita yang mudah diterima oleh khalayak luas, sekaligus membawa nilai-nilai yang dianggap relevan dengan masyarakat Indonesia saat itu terutama dalam hal religiusitas dan ketahanan keluarga.
Di era modern, film dokumenter seperti Beyond the Tsunami Aceh(2017) menunjukkan pergeseran penting dalam cara bencana diceritakan. Film berdurasi sekitar 70 menit ini disutradarai oleh Tim Barretto dan diproduksi oleh tim Australia–Indonesia, dengan penulis Melanie Filler dan Ben Mortley.Â

Film ini menyoroti kehidupan para penyintas pasca Tsunami Aceh 2004 mulai dari proses berduka, penyembuhan, hingga membangun kembali kehidupan. Melalui kesaksian sekitar sepuluh penyintas, film ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Aceh memaknai bencana sebagai titik balik sosial dan spiritual.
Di sisi lain, Film Kemarin (2020), menghadirkan pendekatan yang lebih personal dan intim dalam merekam bencana. Film yang disutradarai oleh Upi Avianto ini mengangkat peristiwa tsunami Selat Sunda 2018 melalui kisah para personel band Seventeen dan orang-orang terdekat mereka.
Berbeda dengan Beyond the Tsunami Aceh yang melihat bencana sebagai proses sosial yang lebih luas, Kemarin justru mempersempit gambaran cerita pada pengalaman kehilangan yang sangat dekat. Melalui rekaman arsip dan kesaksian keluarga, film ini memperlihatkan bagaimana bencana hadir secara tiba-tiba dalam kehidupan sehari-hari dan meninggalkan luka yang mendalam.
Baca juga: Film The Great Flood: Meskipun Mengulang Bencana Ribuan Kali, Pelukan Ibu Tetap Dinanti
Dari masa ke masa film menjadi ruang edukasi dan refleksi yang menarik sekaligus sederhana dari setiap penggambaran peristiwa yang luas tapi juga unik. Kacamatanya selalu berbeda sehingga bencana tidak pernah hadir sebagai cerita tunggal, melainkan sebagai ruang tafsir yang terus berkembang di mana film berperan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai arsip ingatan, medium empati, dan cara kita memahami serta menjaga cerita-cerita kemanusiaan di balik setiap peristiwa.(Kori)






