Satu bulan pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah di Pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat), para relawan belum benar-benar balik kanan pulang ke tempat asal, memastikan tiap korban terdampak dapat kembali bangkit, menipiskan ketakutan akibat bencana yang pernah melanda, dan memastikan semua laju kehidupan kembali seperti semula.
Dalam tahap transisi rehabilitasi ini, semua elemen pentahelix (pemerintah, akademisi, perusahaan, masyarakat dan media) turut berperan bersama untuk memulihkan kembali Sumatera melalui berbagai cara: memberi dan mendistribusikan bantuan, memberikan informasi, melakukan layanan psikososial, kesehatan dan pendidikan serta perlahan memulihkan ekonomi dengan berbagai cara. Didalamnya ada peran-peran relawan yang banyak membantu dalam proses yang tidak mudah ini.
Pasca Bencana Sumatera, 2 Srikandi Ranita Ikut Hadir untuk Membantu Masyarakat

Di antara para relawan, hadir dua perempuan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ranita UIN Jakarta, Desra Putri dan Nida Lutfiyana. Mereka berangkat dari Jakarta sejak 10 Desember 2025, yang membawa semangat kemanusiaan untuk hadir dan membersamai masyarakat terdampak banjir.
Respon kebencanaan yang dilakukan Desra Putri dan Nida Lutfiyana sudah berlangsung lebih dari 3 minggu, terbagi dalam dua perjalanan yang mencakup wilayah Kecamatan Palembayan, Sumatera Barat dan Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari asesmen awal yang dilakukan di Palembayan, Sumatera Barat di 10 hari pertama, kemudian melakukan kegiatan belajar mengajar, dan PFA (psikososial First Aid) serta melakukan penguatan pos hangat bersama Disaster Management Center (DMC).
Setiap wilayah yang disinggahi memiliki karakteristiknya masing-masing, Desra menuturkan bahwa di Palembayan, cakupan wilayahnya lebih mudah, distribusi bantuannya juga lebih gampang dilakukan, bahkan bantuan dari berbagai wilayah di Sumatera Barat telah masuk sejak hari pertama pascabencana. Per 22 Desember, kondisi dasar dinilai cukup aman untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan ke depan, terutama karena masyarakat masih memiliki akses bertani dan berkebun, sekolah tidak terdampak signifikan, meskipun proses belajar mengajar belum sepenuhnya pulih. Sehingga hal inilah yang menjadi alasan kedua relawan tersebut untuk pindah lokasi ke Kabupaten Aceh Tamiang.

Sejak kedatangan, Nida merasakan bahwa suasana kerusakan di Aceh Tamiang, akibat bencana benar dirasakannya, fenomena kejar bantuan di awal-awal benar terjadi, konflik distribusi dan kecemburuan sosial terjadi di beberapa titik wilayah.
Dalam refleksinya Desra menuturkan bahwa, “Untuk Palembayan akses wilayah menjadi faktor penentu kecepatan respon. Palembayan relatif mudah dijangkau, ini didukung juga karena viralitas di sosial media, sedangkan wilayah pegunungan seperti Takengon dan Bener Meriah di Aceh lebih sulit dijangkau, kerusakan jembatan di beberapa titik menghambat proses distribusi bantuan, padahal logistik sebenarnya sudah tersedia,” ujar Desra.
Sementara itu, Nida menyoroti persoalan yang dihadapi warga pasca bencana di Aceh Tamiang. Menurutnya, lumpur yang mengeras dan tumpukan sampah menjadi masalah baru yang belum tertangani. “Lumpur yang mengering menJadi resiko bagi kesehatan seperti batuk, karena lumpur itu sudah berubah menjadi debu. Sampah juga terus menumpuk karena tidak ada truk pengangkut,” kata Nida.
Baca juga: RANITA UIN Syarif Hidayatullah Respon Bencana Gempa Cianjur
Dalam transisi rehabilitasi pasca banjir bandang di Sumatera, tidak lepas dari konflik-konflik lain yang bisa muncul dari berbagai aspek: sosial, lingkungan, ekonomi bahkan kesehatan, prioritas memulihkan kembali adalah kewajiban bagi semua, sembari meminimalisir konflik, kemudian memastikan tidak ada satupun yang tertinggal.(Kori/Nugrah)






