Muncul Sinkhole Pasca Bencana Sumatera, Masyarakat Berebut Airnya

Sinkhole yang muncul di persawahan warga, Foto: jawapos.com
Ekspedisi Jawadwipa

Munculnya lubang besar yang kerap disebut sinkhole menggemparkan masyarakat. Pasca bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang serta tanah longsor yang melanda sebagian Pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara) pada November 2025 lalu.

Lubang besar ini muncul di area persawahan milik warga di Jorang Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat pada 04 Januari 2026.

Muncul Sinkhole Pasca Bencana Sumatera, Masyarakat Berebut Airnya

sinkhole
Foto udara lubang besar yang muncul di persawahan warga di Sumatera Barat, Foto: Dok. bacaini.id

Fenomena alam ini menarik perhatian masyarakat untuk berbondong-bondong datang ke lokasi kejadian sebab dalam lubang tersebut memunculkan air jernih yang berwarna kebiruan. Bahkan tak ayal masyarakat mengambil air tersebut untuk berbagai macam kebutuhan.

Pihak kepolisian dan petugas keamanan telah memasang garis polisi demi keselamatan masyarakat, mengingat banyaknya warga yang ingin melihat dari dekat fenomena ini. Pasalnya sinkhloe ini memiliki kedalaman 7 meter serta berdiameter 10 meter sehingga cukup dalam dan luas, dikhawatirkan membahayakan keselamatan warga apabila mendekat tanpa pengamanan.

Berdasarkan kajian awal dari Geologi Kementerian ESDM(Energi dan Sumber Daya Mineral), sinkhole yang muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota ini termasuk tipe cover-collapse. Artinya, di bawah permukaan tanah terdapat rongga pada batu gamping (batu kapur) yang tertutup oleh lapisan tanah endapan. Ketika lapisan penutup ini tidak lagi kuat menahan beban diatasnya, tanah runtuh secara tiba-tiba dan membentuk lubang besar.

Dari bentuknya, sinkhole ini terlihat seperti sumur vertikal yang dalam, tanpa tanda-tanda amblesan bertahap sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa runtuhan terjadi secara mendadak.

Mekanisme utama yang memicu kejadian ini adalah pelepasan butiran tanah secara perlahan di bawah permukaan (ravelling), yang kemudian diperparah oleh aliran air bawah tanah yang mengikis material halus (piping). Curah hujan ekstrem dalam beberapa waktu terakhir diduga mempercepat proses tersebut hingga akhirnya terbentuk lubang besar di permukaan.

sinkhole
Warga yang datang untuk melihat fenomena sinkhole, Foto: X/@pemanahrasa101

Geologi ESDM juga merekomendasikan beberapa hal terkait sinkhole ini: sinkhole yang telah terbentuk tidak disarankan untuk langsung ditimbun. Jika penimbunan tetap dilakukan, maka harus disertai rekayasa teknis yang tepat serta perlu dilakukannya zonasi wilayah yang rentan sinkhole di sekitar lokasi kejadian sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kejadian serupa di masa depan.

Untuk menanggapi fenomena air yang muncul ketika terjadinya sinkhole, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari menjelaskan bahwa air yang ditemukan di dalam sinkhole umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Karena itu, kelayakan air tersebut untuk dikonsumsi tidak dapat langsung dipastikan. 

“Air perlu melalui uji laboratorium, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta potensi logam berat, sesuai standar kesehatan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan.” Ujar Adrin

Baca juga: 3 Fenomena Hidrometeorologi Pasca Terjadinya Bencana di Sumatera

Adrin juga mengingatkan bahwa permukiman yang berada di atas lapisan batu gamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.(Kori)