Bila mengunjungi Kelurahan Donggala Kodi tampak di belakangnya berdiri gagah Gunung Gawalise pada bagian selatan. Bila kita berbalik arah ke utara maka akan melihat Teluk Palu. pemandangan menakjubkan ini didapat ketika tim disasterchannel.co mengunjungi kantor Kelurahan Donggala Kodi. Kelurahan Donggala Kodi merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2018, penduduk wilayah ini sebanyak 10.048 jiwa dengan luas wilayah sebesar 2,36 KM2. Wilayah Kelurahan Donggala Kodi adalah salah satu kelurahan yang dilintasi oleh Sesar Palu-Koro. Hal ini yang menyebabkan daerah ini mengalami dampak yang cukup parah pada gempa 28 September 2018 silam.

Tepat di kantor Kelurahan kami berbincang dengan Muhammad Iqbal, Lurah Donggala Kodi. Sore hari ditemani hembusan angin sepoi-sepoi menandai mulainya pembicaran kami. Obrolan bermula mengenai Kelurahan Dongga Kodi setelah mengalami bencana bencana gempa 28 September 2018 silam. “Dampak bencana di tanggal 28 September 2018 banyak memberi dampak yang tidak baik pada masyarakat. Dampak yang dialami antara lain, kerusakan rumah, ada yang rusak sedang ringan dan berat” ungkap Iqbal.
Kelurahan Donggala Kodi, Kota Palu & Cerita Gempa Masa Lalunya
Data PBN menyebutkan kondisi bangunan pasca gempa di Keluarahan Donggala Kodi sebanyak 311 mengalami rusak ringan dan tanpa bangunan sebanyak 388. Kejadian gempa ini menyebabkan beberapa pemukiman harus direlokasi. Di Kelurahan Donggala Kodi sendiri terdapat 399 penduduk yang menempati bidang tanah tertentu bersedia untuk direlokasi, sementara sebanyak 1584 lainnya tidak bersedia direlokasi dengan alasan tanah yang ditempati masih layak.

Selain kerusakan rumah, Kelurahan Donggala Kodi juga mengali dampak ekonomi yang cukup parah. Pasalnya banyak sekali masyarakatnya yang bekerja di sektor informal yang seketika kehilangan pekerjaan saat bencana gempabumi terjadi. Masyarakat cukup terbantu dengan adanya dana jaminan hidup yang hanya didapat beberapa waktu.
Letaknya yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya, menjadikan Kelurahan Donggala Kodi dijadikan tempat pengungsian beberapa penyintas. “Karena kita menjadi tempat mengungis, penyintas yang masuk di kelurahan ini ada dari Lere, Kamonji dan Balaro dan kami menerima mereka maka menjadi tanggung jawab kelurahan setempat. Sampai hari ini ada yang mengungsi di huntara 84 pintu dari PUPR dan 42 yang dibangun oleh MDMC yang sangat membantu sehingga masyaralat ada yang masih tinggal di huntara dan ke huntap ada juga yang rumahnya sudah diperbaiki dari dana stimulan”.
Belum selesai masalah becana gempa, kini muncul pandemi COVID-19. Kegiatan ekonomi yang baru mulai pulih dengan terpaksa terhenti akibat pandemi. “Keadaan COVID-19 disini banyak terdampak langsung karena ada beberapa kegiatan usaha yang sempat terhenti karena masyarakat banyak enggan melakukan aktivitas karena wabah, baik menjual produk maupun membeli” kata Iqbal. Beberapa warga terdampak pandemi COVID-19 juga diberikan bantuan yang dibantu oleh dinas sosial, bantuannya berupa sembako.
Selepas obrolan mengenai kelurahan Donggala Kodi pasca gempa berakhir, Iqbal menunjukkan bukti-bukti gempa. ”Pasca gempa, ada patahan atau rekahan besar di depan kantor kelurahan. Rekahan itu pernah ditusuk pakai bambu dengan panjang 7 meter, kemudian bambu itu ditancapkan hingga dalam dan habis seolah ditelan tanah. Rekahan ini berarah utara-selatan” kata Iqbal. Ia juga menunjukkan beberapa bangunan kantor kelurahan yang retak akibat gempa.
Tepat berada sekitar 250 meter dari kantor kelurahan, tinggallah tokoh adat Kelurahan Donggala Kodi. Selepas solat ashar berjama’ah, Matra Lamohadi yang merupakan salah satu lembaga adat Donggala Kodi berjumpa dengan kami. Kelahiran Matra Lamohadi seolah misteri. Kakek yang dalam catatan sekolah kelahiran 1939 namun ia meyakini umurnya lima tahun lebih tua dari catatan yang ada, kini umurnya sekitar 87 tahun. Umurnya yang panjang ini membuat ia banyak diceritakan kisah masa lalu oleh para orangtua dahulu.

Ia menceritakan dengan detail sejarah Kelurahan Donggala Kodi. “Donggala adalah nama pohon yang buahnya seperti kelereng. Buah donggala mirip dengan kemiri, kalau buah donggala itu lebih kecil dan bulat. Pohon donggala itu pohonnya besar seperti ketapang” Ungkap Matra.
Sejarah penamaan Donggala menurut Matra bermula dari masuknya tentara Belanda di daerah ini. Matra bercerita, pertama kali Belanda memasuki daerah ini, serdadu Belanda ditampung di sebuah asrama. Kemudian serdadu belanda ini keluar untuk meninjau lokasi dan berjalan hingga daerah ini. Ketika serdaru Belanda ini kelelahan berjalan, mereka istirahat di bawah pohon besar.
Mereka menyadari bahwa daerah itu banyak ditumbuhi pohon besar dan beberapa buah yang mirip kelereng berjatuhan dan ada yang menimpa mereka. Suatu ketika ada pribumi yang lewat daerah ini dan ditanyai oleh serdadu. Serdadu itu bertanya buah apa yang menjatuhinya, dan pribumi menjawab dengan kata “Dongala”, sejak saat itu wilayah ini dinamai dengan nama Donggala. Nama Donggala juga sudah dipakai oleh Kabupaten Donggala terlebih dahulu, sehingga wilayah ini diberi nama Donggala Kodi, yang berarti Donggala kecil.
Kakek kelahiran tahun 1930-an ini banyak berkisah mengenai cerita gempa pada masa lalu. Menurut ayah dari Matra, pada tahun 1938 saat ia masih sangat kecil terjadi gempabumi besar, banyak daerah yang terdampak akibat bencana ini. “Menurut orangtua gempa ini mengakibatkan tanah terbelah di Kampung Lere dan Kamonji dan juga muncul lumpur yang berbau busuk, tapi di Donggala tidak terjadi.” Ujar Matra.
Kejadian gempa tak berhenti-henti datang setiap hari kala itu. “Orangtua dulu memasak digantung di ranting kayu, memasak pake tungku karena tanah bergoyang terus” tegas Matra. Selanjutnya Matra menjelaskan, kejadian gempa terjadi sepanjang hari. Orang-orang tidak ada lagi yang tinggal di dalam rumah, semua tinggal di tanah lapang.
Oleh orangtunya, Matra juga diceritakan bahwa dahulu memang ada “bomba talu” atau tsunami. “Cerita orangtua waktu bomba talu, ada rumah yang terlempar di jalan dan dibawa air tepatnya di Lere. Dulu yang terkena hanya daerah itu saja, karena dahulu semuanya itu masih berhutan hutan, Donggala Kodi ke daerah Lere itu rumah masih jarang” jelas Matra.
Baca juga: Warisan Peradaban Kuno di Sulawesi Tengah
Orangtua Matra adalah pelaut, mereka memiliki pengetahuan lokal sendiri mengenai tsunami. orang tua Matra sempat mewariskan pengetahuan lokalnya mengenai tsunami. mereka berpesan bila ada lingu atau gempa dan muncul bomba talu atau tsunami maka perahu diarahkan saja ke tengah laut. Pengetahuan ini diwariskan, sebab orangtuanya pernah mengalami kejadian tsunami saat mereka melaut. Diceritakan bahwa pada saat itu terjadi gempa dan air laut tiba-tiba naik dan mereka pun mengarahkan perahunya ke laut. Menurut cerita Matra, gempa dan tsunami sebelumnya tidak sebesar gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2018. (LS)
Sumber:
Wawancara Muhammad Iqbal, Lurah Donggala Kodi pada 07/12/2020
Wawancara Lembaga adat Kelurahan Donggala Kodi, Matra Lamohadi pada 07/12/2020
Laporan Inventarisasi Pengguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T) Kelurahan Donggala Kodi, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Kementrian PUPR tahun 2019.






