Kata Bencana Gempa dalam Bahasa Jawa Kuno

Ilustrasi Gempabumi, Foto: Getty Images/CHUYN
Ekspedisi Jawadwipa

Kata bencana gempa yang kita dengar sekarang ini mungkin merupakan penyempurnaan bahasa, tapi bagaimana dengan penyebutannya di masa lampau ?. Berbicara masa lalu tidak selalu membosankan seperti yang diperkirakan kebanyakan orang. Berbicara masa lalu justru terkadang membawa kita pada temuan baru yang menakjubkan. 

Disasterchannel.co berkesempatan mendengarkan penjelasan arkeolog asal Malang bernama Rakai Hino dalam diskusi virtual pada 31/07/2021. Rakai Hino merupakan Arkeolog Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang lulusan megister di Universitas Negeri Malang. 

Kata Bencana Gempa dalam Bahasa Jawa Kuno

bencana
Ilustrasi Kitab Negara Kertagama, Foto: Istimewa

Rakai menjelaskan mengenai penamaan bencana gempa pada masa klasik atau masa Hindu-Buddha. Rakai menganalisis nama-nama yang ditemukan pada masa klasik dalam naskah dan prasasti. Dari temuannya menyebutkan terdapat tiga sebutan pada masa klasik dalam bahasa Jawa kuna atau kuno, di antaranya adalah:

LIṆḌŪ : Bergoyang, bergetar, gempa bumi, lindu (Zoetmulder, 2004: 600)

GUNTUR : Sama dengan liṇḍū, namun selalu berhubungan dengan gunung meletus

KAMPA : Getaran, goncangan, bergetar (Zoetmulder, 2004: 451)

Jejak gempa dalam kesusastraan salah satunya terdapat di Nagarakertagama, dalam kitab ini tertulis:

‘liṇḍuṅ bhūmi ketug hudan hawu gêrh kilat awiltan iŋ nabhastala, guntur ttaŋ himawān ri kāmpud ananaŋ kujana kuhaka māti tanpagap’

Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar; gunung kampud (Kelud) meletus membunuh durjana, penjahat musnah dari negara. (Pigeaud, 1960:3)

Selain kata macam-macam kata gempa, di dalam kesusastraan Nagarakertagama juga menggambarkan indikasi terjadinya gempa pada kalimat:

tāmbeniŋ kahawan / winārnna ri japan / kuti kuti hana candi sāk rbah

pertama melalui Japan kemudian di Kuti (asrama kependetaan Buddha), ada bangunan candi yang ambruk berantakan. (Pigeaud, 1960:15) 

Kejadian ini tertuang dalam kalimat deskripsi di kesusastraan Nagarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Tulisan ini dicatat ketika Empu Prapanca dan Hayam Wuruk akan melakukan perjalanan. Disana ditemukan sebuah candi yang ambruk atau rebah. “Analisis saya mengindikasikan bahwa terjadinya gempa ini sudah ada ketika Prapanca mencatat itu. Gempa terjadi sebelum dia (Empu Prapanca) datang, sebelum dia melakukan mencatat perjalanan Hayam Wuruk. Yang jelas gempa itu tidak jauh dari masa dibuatnya catatan itu”.

Lebih lanjut ia berkata “Analisis saya mengarah kepada bencana alam karena dahulu belum ada alih alih bom yang merusak tempat ibadah. Tidak mungkin tempat ibadah rusak akibat ulah manusia dan itu jelas kerusakannnya akibat gempa dan ini ditemukan di Nagarakertagama”.

Kata Lindu dan Guntur ditemukan di Nagarakertagama. Kata Guntur disebutkan kembali di serat Pararaton. 

Tumuli guntur pamadasiha i saka rêsi-sunya-guna-tunggal, 1307’; lalu terjadi gunung meletus di minggu Madasia, tahun saka: resi-sunya-guna-tunggal, 1307 (1385). 

Tumuli guntur Prangbakat i saka mukaning-wong-kaya-naga, 1317’; lalu terjadi gunung meletus di minggu Prangbakat, tahun saka: muka-wong-kaya-naga, 1317 (1395).

Tumuli guntur pajulung-pujut, i saka kaya-weda-gunaning-wong, 1343’; lalu terjadi gunung meletus di minggu julungpujut, tahun saka: kaya-weda-guna-wong, 1343 (1421). 

Tumuli palindu i saka paksa-gananahut-wulan, 1362’; lalu terjadi gempa di tahun saka: paksa-gana-nahut-wulan, 1362 (1440).

Tumuli guntur pakuningan i saka wëlut-wiku-anahut-wulan, 1373’; lalu terjadi gunung meletus di minggu kuningan, tahun saka: welut-wiku-nahut-wulan, 1373 (1451). (Brandes,1896:29-32)

Dari kelima kalimat dalam serat pararaton ini ditemukan banyak kata Guntur dan hanya satu kata lindu yang ditulis sebagai ‘palindu’. Dari naskah ini, dapat terlihat perbedaan makna dari kata guntur dan lindu. Kata guntur juga salah satu artinya adalah gempa, di serat Pararaton, kata guntur erat kaitannya dengan aktivitas gunung berapi. Guntur bisa diartikan sebagai gempa vulkanik.

Kata ‘lindu’ juga terdapat dalam kitab Adi Parwa yang ditulis sebagai berikut:

Sĕḍĕng ning amṛta haneng gulûnya, cinakra ta ya, pĕgat gulûnya. Tibâ ta lawayanya ring lĕmah, kadi tibâ ning parwataçikara; liṇdû tang pṛthiwî, molah de ni bwat ni kawandhanya, ndan çirahnya mĕsat ring âkâça de ni kapawitran ikang amṛta, anghing çarîranya juga pĕjah, apan tan katĕkân amṛta’. 

Begitu amerta diminum sampai lehernya, dicakralah iya putus lehernya, jatuhlah badannya ke tanah bagai runtuhnya puncak gunung, terjadi gempa bumi dari sebab beratnya badannya, sedangkan kepalanya melesat ke angkasa karena kesucian amerta, hanya badannya saja yang mati, karena tidak terkena amerta. (juynboll, 1906:35)

Kata kampa ditemukan pada prasasti Arjuna Wijaya

 ‘ŋhiŋ têkaŋ bhūmi kampācala makasulayah siŋ katub bhasmibhūta’

Bumi berguncang bagai gempa gunung-gunung runtuh dan apapun yang dihantam menjadi abu. (Supomo, 1977:105)

Dalam prasasti Arjuna Wijaya ini ditemukan kata ‘kampacala’ yang merupakan gabungan dari kata ‘kampa’dan ‘acala’‘Kampa’ berarti gempa dan ‘acala’ adalah nama sebuah gunung.

bencana
Ilustrasi bencana Gempabumi, Foto: freepik

Selanjutnya ada prasasti yang membuat kita lebih memahami perbedaan antara kata lindu, guntur dan kampa. Tertera Penelitian Sambodo, 2018 dalam Prasasti Waruṅgahan yang merupakan sebuah prasasti yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa kuno ini berasal dari tahun 1227 Ś/1305. Prasasti dari masa awal Majapahit ini berisi uraian penetapan ulang anugerah sīma oleh Raja Śrī Maharaja Nararyya Sanggramawijaya telah memberikan sebuah piagam peresmian penetapan ulang daerah Waruṅgahan menjadi sebuah sīma. Alasannya adalah karena prasasti sebagai bukti penetapan dahulu hilang ketika terjadi kejadian gempa bumi. Dalam prasasti ini terdapat berita bahwa “°ika taŋpraśāsti hilaŋri kāla niŋbhūmi kampa, yang berarti praśāsti itu (telah) hilang ketika bhūmi berguncang. 

“Awalnya Prasasti Warungahan diduga merupakan prasasti berbentuk linggo atau batu yang ditancapkan ke dalam tanah. Biasanya prasasti batu memiliki bagian bawah untuk yang disebut ‘manusup’ untuk menujamkan batu ke dalam tanah. Namun di dalam prasasti Warungahan yang dibuat itu adalah berdasarkan permintaan dari warga. Karena prasasti sebelumnya hilang akibat kampa ”ujar Rakai.

Baca juga: Upacara Labuhan, Penjaga Keseimbangan Alam Jawa, Pengingat Bencana

Prasasti batu adalah sebuah benda yang umumnya besar, terlebih ada manusup di bawahnya yang membuat keberadaanya sulit untuk dipindahkan. Namun dalam penelitian Sambodo, 2018 menyebutkan bahwa prasasti itu hilang akibat kampa. Dari kumpulan bukti ini maka dapat diartikan bahwa kampa adalah gempa dengan guncangan yang sangat besar.

“Disini memberikan catatan kepada kita, bahwa pencatat-pencatat naskah juga membedakan kriteria guncangan dan getaran antara lindu, guntur dan kampaLindu itu adalah gempa yang kecil getarannya. Guntur adalah gempa yang berhubungan dengan gempa gunung meletus, dan kampa pasti merupakan gempa besar.” kata Rakai.(LS)