Eropa Siapkan Booklet Emergency Situation, Apa yang Bisa Kita Adaptasi?

Ilustrasi booklet emergency situation di Belanda, Foto: english.denkvooruit.nl
Ekspedisi Jawadwipa

Negara-negara di Uni Eropa kini gencar mempersiapkan warganya untuk dapat mandiri di situasi yang yang alam dan geopolitik yang tidak menentu. Dikutip dari DW, himbauan ini telah dilakukan sejak Maret 2025 lalu, Uni Eropa meminta pemerintah nasional untuk menerapkan langkah untuk memastikan warga dan layanan seperti sekolah dan rumah sakit lebih siap menghadapi kemungkinan krisis di masa depan, mulai dari kebakaran hutan, kecelakaan industri, atau bahkan konflik bersenjata.

Di tengah situasi dan kondisi geopolitik yang terus memanas, ini juga menjadi pertimbangan penting bagi negara-negara sekitar untuk tetap aman dan bersiap untuk bertahan hidup, salah satunya adalah langkah untuk melewati 72 jam pertama saat darurat nasional.

Eropa Siapkan Booklet Emergency Situation, Apa yang Bisa Kita Adaptasi?

eropa
Ilustrasi isi dari booklet saat situasi darurat di eropa, Foto: english.denkvooruit.nl

72 jam pertama, atau tiga hari awal masa krisis, adalah fase krusial yang sering menentukan apakah seseorang dapat bertahan atau tidak, terutama ketika bantuan belum tiba dan sistem publik belum pulih.

Setidaknya dalam booklet yang disebarkan oleh negara Belanda, ada tiga langkah yang bisa dipersiapkan:

  1. Siapkan perlengkapan darurat
  2. Buat rencana darurat
  3. Berdiskusi dan membantu sesama

Beberapa kondisi di Eropa tentu tidak sama dengan wilayah Indonesia, karakteristik iklim yang berbeda potensi bencana yang beda, serta kemungkinan-kemungkinan geopolitik juga akan berbeda, bergantung pada letak geografis dan juga hubungan internasional. Namun kesamaan adanya bencana serta kemungkinan terburuk akibat geopolitik akan selalu ada.

Tiga langkah di atas bisa diadaptasi dengan disesuaikan kebutuhan, dalam peralatan darurat misalnya di Indonesia mempunyai tas siaga bencana yang berisi: kotak P3K, makanan tahan lama, air minum, pakaian secukupnya, dokumen penting, minuman, alat penerangan, alat komunikasi serta uang cash.

Dalam situasi bencana, banyak hal tak terduga bisa terjadi. Akses jalan terputus, wilayah terisolasi, dan kemandirian menjadi kebutuhan utama. Pasokan listrik sering padam, sehingga telekomunikasi terganggu dan transaksi uang elektronik tidak dapat digunakan secara optimal.

Membuat rencana darurat, sering kali masih diabaikan dalam banyak keluarga. Padahal saat darurat terjadi, keputusan spontan justru bisa berbahaya. Rencana sederhana seperti menentukan titik kumpul keluarga, mengenali jalur evakuasi terdekat, menyimpan nomor penting di luar ponsel, atau kesepakatan siapa yang menolong kelompok rentan dapat menyelamatkan banyak nyawa. Rencana ini tidak harus yang sulit, cukup dapat dipahami anggota keluarga.

Berdiskusi dan membantu sesama, sebenarnya sudah menjadi budaya, gotong royong sudah ada dan mengakar di Indonesia. Dalam banyak kejadian bencana, warga sering menjadi penolong pertama sebelum tim resmi tiba. Membangun komunikasi antar tetangga, membentuk grup siaga kampung, atau sekadar saling mengenal kondisi lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas di sekitar kita adalah bentuk kesiapsiagaan sosial.

eropa
Ilustrasi masyarakat eropa sedang membaca panduan situasi darurat, Foto: Sander Foederer

Semua ini terasa relevan untuk dilakukan hari ini, ketika dunia menghadapi ketidakpastian berlapis: krisis iklim yang memperbesar resiko bencana, ketegangan geopolitik yang mempengaruhi pasokan energi dan pangan, serta ketergantungan kita pada teknologi digital yang rentan lumpuh saat listrik padam.

Baca juga: Didukung JRCS, PMI Sukabumi Tingkatkan Kapasitas Manajemen Tanggap Darurat Bencana dan Posko

Dalam situasi seperti ini, kesiapsiagaan tidak lagi sekadar wacana kebencanaan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat modern dan dalam jangka panjangnya kita bukan hanya harus mempersiapkan 72 jam pertama darurat namun juga memulai kehidupan dengan minim ketergantungan, mempersiapkan bahan pangan dari lingkungan sekitar kita sendiri.(Kori)