Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883, Bincang Bencana dengan Ki Sunda Labuan

Basith Djoma merupakan ketua dari Kampung Siaga Bencana (KSB) di Labuan., Foto: Nugrah Aryatama
Ekspedisi Jawadwipa

Jauh sebelum kejadian tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, wilayah Labuan dahulu pernah mengalami tsunami yang lebih parah akibat letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada 26-27 Agustus 1883.

Hidup di pesisir pantai barat daerah Banten membuat Basith Djoma mengalami tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 silam. Pasca bencana tsunami menurut Basith, wilayah Labuan tidak banyak berubah. Pembangunan yang sedang dilakukan adalah normalisasi Sungai Ciputen Agung sebagai sungai yang mengakibatkan Labuan terendam air setelah tsunami. Hal ini terjadi karena banyak perahu dan kapal motor yang karam akibat terkena gelombang tsunami. Hunian tetap untuk penyintas tsunami Selat Sunda baru separuhnya didapat dari penyintas yang mendiami hunian sementara.

Sebagai warga lokal yang tidak mau cerita mengenai kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada masa lalu hilang, membuat Basith tergerak melakukan upaya pengumpulan berbagai cerita mengenai letusan Gunung Krakatau tahun 1883 kepada para leluhurnya. 

Basith Djoma merupakan ketua dari Kampung Siaga Bencana (KSB) di Labuan. Pria yang dijuluki Ki Sunda Labuan ini menceritakan dengan detail cerita yang ia dapat dari leluhurnya mengenai dahsyatnya letusan Gunung Krakatau tahun 1883 kepada disasterchannel.co pada 27/08/2021.

Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883, Bincang Bencana dengan Ki Sunda Labuan

Awal mula aktivitas Gunung Krakatau sudah terlihat sejak bulan Mei. Pada tanggal 26 Agustus 1883 sudah terjadi letusan dan baru merutuhkan bagian-bagian kecil di puncak Gunung Krakatau.  Keesokan harinya tepatnya pada tanggal 27 terjadi letusan hebat semburan lava terjadi dan merutuhkan badan gunung yang tinggi hingga mengakibatkan tsunami. Cerita ini didapatkan oleh Basith dari kakeknya yaitu Kiai Haji Ismail.

“Dulu sebelum tsunami, katanya air sungai mengalami surut kandas bahkan pantai juga surut. Banyak masyarakat mengambil ikan ke sungai dan pantai, tiba-tiba dari arah laut datang gelombang besar yang sekarang disebut –tsunami-” ujar Basith dalam memulai cerita tsunami akibat letusan Krakatau tahun 1883. 

Selanjutnya Basith menceritakan kisah berbeda mengenai kakek buyutnya.

“Kiai Haji Sofie, buyut saya, turut menjadi korban tsunami tersebut. Saat itu (sebelum tsunami datang) Kiai Haji Sofie sedang menjemur padi di halaman rumahnya di Labuan. Padahal sebelum tsunami Kiai Haji Sofie sudah mengevakuasi diri bersama keluarga. Namun ada sesuatu yang harus dia ambil di rumah dan ketika pulang ke rumah gelombang besar itu menenggelamkannya hingga tak ditemukan jasadnya” kata Basith.

Akibat dari tsunami ini, wilayah Labuan kehilang berbagai macam bangunan, dari mulai pemukiman, hingga masjid agung yang sangat erat keberadaanya bagi kehidupan masyarakat Labuan. “Banyak warga Labuan yang menjadi korban di antaranya warga kampung Masjid” ujar Basith.

Ia menceritakan bahwa kejadian tsunami terjadi sekitar sore hari di hari Jumat. Tsunami ditandai dengan awan gelap, air laut surut dari pagi hari. Tak disangka, setelah solat Jumat, gelombang besar datang, bentuknya menyerupai payung dengan ketinggian kira-kira 50 meter. Menurut cerita, gelombang tsunami yang menghantam Labuan hanya sampai tanjakan di Kampung Karabohong. Wilayah ini adalah tanjakan dekat dengan kantor Kecamatan Labuan. Bila kita tarik garis lurus dari pantai kira-kira jaraknya sekitar 1,2 km.

krakatau
Ilustrasi Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883 sumber: Wikipedia

Letusan Krakatau 1883 memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat Banten. Dahsyatnya peristiwa bencana ini menyebabkan banyaknya korban yang meninggal, sehingga sebagian masyarakat Banten mengadakan sebuah acara untuk mengenang dan mendoakan para korban tsunami letusan Gunung Krakatau dengan melaksanakan tradisi Haul Kalembak.

“Haul Kalembak artinya peringatan dan ritual kirim doa kepada Allah atas para korban akibat letusan Gunung Krakatau” terang Basith. 

“Seperti biasa jika ada orang meninggal selalu diperingati tanggal meninggalnya, begitupun dengan kematian para korban akibat letusan Gunung Krakatau” tambahnya.

Jika dilihat dari susunan katanya, Haul Kalembak terdiri dari dua kata, yaitu Haul dan Kalembak. “Dari Kalimatnya, Haul itu berarti setiap peringatan korban atau yang meninggal sudah lebih dari 100 hari, makanya selalu diperingati dengan nama Haul atau Khaul. Sementara Kalembak artinya tersapu air besar, makanya diperingati sebagai Haul Kalembak”.

“Jadi Haul Kalembak adalah peringatan untuk orang-orang yang meninggal karena gelombang besar tsunami itu” kata Basith. 

Tradisi Haul Kalembak sendiri datang dari inisiatif Kiai Haji Ismail yang merupakan kakek buyut dari Basith Djoma. Dahulu kakek buyutnya tinggal di Kampung Panguseupan, Labuan yang merupakan sesepuh di daerah Labuan.

krakatau
Suasana Pantai di Labuan, Banten, Foto: Nugrah Aryatama

Haul Kalembak dilaksanakan pada tanggal 21 Syawal di Masjid Agung Al-Ittihad, Labuan. “Peserta yang mengikuti Haul Kalembak adalah warga Labuan, Caringin dan sekitarnya. Semakin kesini semakin sedikit (pesertanya) tapi masih bertahan dan dilaksanakan” terang Basith. Menurut Basith peringatan Haul Kalembak itu penting sebagai momentum untuk menyadarkan masyarakat akan bencana. Pemerintah daerah juga harusnya turut serta dalam melaksanakan tradisi ini, sehingga makna dan arti peringatan bencana dapat berkembang menjadi sebuah pengetahuan memahami bahaya atau ancaman bencana yang ada.

Baca juga: Rancag Kramat Karem: Kearifan Lokal Warga Jakarta Mengabadikan Letusan Krakatau 1883

“Masyarakat juga perlu dicerdaskan tentang pentingnya kesadaran terhadap bencana. Salah satu caranya dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan kebencanaan seperti tsunami drill. Karena terbukti nyata setelah ada latihan tsunami drill yang diselenggarakan oleh organisasi KSB atau Kampung Siaga Bencana yang saya ketuai. Pada saat tsunami terjadi, masyarakat banyak lari menuju titik evakuasi sesuai dengan SOP pada latihan” ujar Basith.

Melalui pengalaman dan cerita Basith Djoma, dapat diambil pelajaran bahwa pelestarian ingatan kolektif dan tradisi pengurangan risiko bencana sangat penting dilakukan. Tak lupa juga untuk selalu melatih diri untuk siapsiaga menghadapi ancaman bencana yang ada. (Lien Sururoh)