Antroposentrisme, Ego Manusia Memahami Bumi

Ilustrasi Antroposentrisme, Foto: Dok. suarabsdk.com
Ekspedisi Jawadwipa

Hubungan manusia dan alam sering kali dibentuk oleh prinsip antroposentrisme. Pandangan manusia terhadap alam mengalami perubahan sepanjang sejarah peradaban. Dalam paradigma modern, cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat dan ukuran segala sesuatu. 

Alam dianggap hanya memiliki nilai sejauh mana ia memberi manfaat bagi manusia, hanya sebagai sumber ekonomi yang memicu rasa eksploitatif yang tinggi. Perspektif ini membentuk ego kolektif yang membuat manusia merasa berhak mengatur, memanfaatkan, bahkan menguasai bumi.

Antroposentrisme, Ego Manusia Memahami Bumi

antroposentrisme
Ilustrasi Antroposentrisme, Foto: Dok. istimewa

Antroposentrisme berkembang kuat sejak masa Renaisans dan Revolusi Industri, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi mulai mendominasi cara manusia memahami dunia. Alam direduksi menjadi objek eksploitasi, sumber daya ekonomi, dan komoditas produksi. Akibatnya, relasi manusia dengan lingkungan menjadi transaksional dan tidak lagi spiritual.

Sejalan dengan pandangan antroposentrisme, dalam konteks geologis beberapa ahli juga merumuskan gagasan antroposen, bahwa sebuah istilah yang menandai era baru di mana aktivitas manusia menjadi kekuatan dominan yang banyak mengubah sistem bumi. Jika Holosen adalah masa stabilitas iklim yang memungkinkan peradaban tumbuh, maka Antroposen adalah masa ketika keseimbangan itu terganggu oleh tangan manusia sendiri.

Perjalanan Antroposen bermula dari kesadaran ilmiah bahwa aktivitas manusia kini menjadi kekuatan geologis yang mengubah sistem bumi. Istilah Antroposen pertama kali diperkenalkan oleh Paul Crutzen dan Eugene Stoermer pada tahun 2000 untuk menandai era baru setelah Holosen, masa stabil yang telah berlangsung sekitar 11.700 tahun. 

Lapisan bumi kini merekam jejak manusia, mulai dari plastik yang mengendap di lautan, emisi karbon di atmosfer, hingga logam berat di sedimen sungai. Semua menjadi fosil masa depan yang menandakan bahwa manusia bukan lagi bagian dari alam, melainkan faktor geologis yang mengubah wajah planet.

Meskipun Antroposen masih diperdebatkan sebagai satuan waktu resmi dalam geologi, tetapi secara simbolik “zaman antroposen” mencerminkan puncak ego manusia, ketika manusia tidak hanya mendominasi alam, tetapi juga mengubah struktur dasar bumi. Antroposen menandai peradaban besar manusia sekaligus menjelma menjadi ancaman bagi keberlanjutan hidup itu sendiri.

Sebab di balik lahirnya Antroposen, ada kuasa alam yang ditandingi. Manusia berusaha menaklukkan hukum-hukum alam melalui teknologi, industri, dan pengetahuan, seolah mampu mengatur ritme bumi sesuai kehendaknya. 

antroposentrisme
Ilustrasi Antroposentrisme, Foto: Dok. baladena.id

Padahal jika manusia mampu beradaptasi dengan alam, sesungguhnya alam masih akan berjalan sesuai dengan siklus dan keseimbangannya sendiri. Ambisi manusia untuk menguasai justru menabrak kuasa lain yang lebih besar kuasa yang mengatur keteraturan semesta di luar logika manusia. 

Baca juga: Historis Observatorium Sebagai Bagian Penting dalam Catatan Kegempaan

Dalam upaya menundukkan alam, manusia lupa bahwa ia bukan pencipta tatanan itu, melainkan bagian kecil darinya. Maka Antroposen bukan sekadar era baru dalam geologi, tetapi juga cermin kesombongan manusia yang berusaha menandingi kehendak alam.(Kori)