Upacara Labuhan, Penjaga Keseimbangan Alam Jawa, Pengingat Bencana

Ilustrasi Upacara Labuhan, Foto: Dok. kratonjogja.id
Ekspedisi Jawadwipa

Upacara Labuhan merupakan salah satu tradisi sakral di tanah Jawa, yang diwariskan turun-temurun dari masa kerajaan hingga kini. Kata labuhan berasal dari kata “labuh”, yang berarti melarung atau menurunkan sesuatu ke laut atau tempat tertentu sebagai bentuk persembahan. 

Dalam konteks budaya Jawa, ritual ini dilaksanakan di dua titik penting secara kosmologis yaitu Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di selatan. Keduanya dianggap sebagai poros energi alam yang menjaga keseimbangan jagat, sekaligus simbol kekuatan yang dapat membawa kehidupan dan sekaligus bencana.

Upacara Labuhan, Penjaga Keseimbangan Alam Jawa, Pengingat Bencana

labuhan
Ilustrasi Upacara Labuhan, Foto: Elang Kharisma Dewangga

Dalam pelaksanaannya, Labuhan tidak hanya digelar oleh Keraton Yogyakarta sebagai bagian dari tradisi kerajaan, tetapi juga oleh masyarakat di sekitar lereng Merapi dan pesisir Laut Selatan. Menurut data dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, garis imajiner yang menghubungkan Merapi, Keraton, dan Laut Selatan mencerminkan falsafah keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. 

Melalui ritual Labuhan, masyarakat mengungkapkan rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta sekaligus kepada kekuatan alam yang mereka hormati. Sesaji seperti hasil bumi, kain, dan benda pribadi raja atau masyarakat dilabuh sebagai simbol melepas sifat buruk dan menjaga keharmonisan alam.

Hubungan upacara Labuhan dengan kebencanaan terlihat jelas ketika melihat konteks geografisnya.Wilayah Jawa khususnya Yogyakarta diapit oleh dua ancaman besar, pijaran erupsi Merapi dan tsunami Laut Selatan. Gunung Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di dunia. Berdasarkan laporan BNPB hingga September 2025, dalam satu pekan saja Merapi tercatat 88 kali mengeluarkan guguran lava pijar dengan jarak luncur hingga dua kilometer. 

Di sisi lain, Laut Selatan dikenal dengan ombak besar Samudra HIndia dan potensi gelombang tinggi. Wilayah dengan risiko bencana tinggi seperti ini, ritual Labuhan menjadi cara masyarakat berinteraksi secara simbolik dengan alam dan penjaganya yang disebut Nyi Roro Kidul. Seakan bernegosiasi dengan kekuatan alam agar terhindar dari bencana yang berasal dari gunung maupun laut.

Dalam dongeng yang hidup di kalangan masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul, sang penguasa Laut Selatan, digambarkan sering berkunjung ke Kyai Sapu Jagad, sosok penjaga Gunung Merapi. Ia menempuh perjalanan dengan kereta gaibnya yang melesat cepat melalui aliran sungai-sungai yang diyakini menghubungkan laut dan gunung.

labuhan
Ilustrasi Upacara Labuhan, Foto: Dok. bantulkab.go.id

Dalam kajiannya, mantan kepala PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana), Surono menunjukkan bahwa letusan Merapi yang terjadi tahun 2010 tidak hanya disebabkan oleh magma di perut gunung, tetapi juga oleh pergerakan lempeng dari Laut Selatan melalui Patahan Opak yang membentang hingga kaki Merapi. 

Baca juga: Galodo, Kearifan Lokal Tentang Banjir Bandang Masyarakat Minang

Arah patahan ini sejalan dengan garis imajiner utara–selatan yang menghubungkan Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan garis yang juga menjadi dasar prosesi Upacara Labuhan, hal ini menunjukan bahwa upacara labuhan juga mempertegas bahwa terdapat dua wilayah penting yang berpotensi besar yang seimbang dan dapat menghasilkan berkah maupun bencana untuk wilayah sekitarnya.(Kori)