Bagi sebagian masyarakat Jakarta, bendungan Katulampa menjadi indikator penting untuk mewaspadai banjir yang akan terjadi, terutama saat musim hujan dan bencana hidrometeorologi tiba.
Letaknya yang berada di hilir Kota Bogor, tengah-tengah antara hulu dan hilir sungai Ciliwung peranan bendungan ini menjadi sangat penting bagi masyarakat, penanda tinggi muka air sungai ciliwung sebelum benar-benar masuk ke wilayah Jakarta, sehingga orang selalu menyebutnya sebagai banjir kiriman dari Bogor.
Bendungan Katulampa keberadaannya sudah sangat tua, dibangun sejak masa Hindia Belanda tahun 1889. Dua puluh tahun awal pasca pembangunan awal bendungan ini sempat disapu oleh banjir besar tahun 1895.
“Van buiten vernemen wij, dat de dam te Katoe Lampa is weggeslagen, terwijl de tijdelijke dam te Empang zwaar beschadigd is” (Leeuwarder Courant, 15 Maart 1899).
“Kami mendapat informasi dari luar bahwa bendungan di Katulampa telah hanyut, sementara bendungan sementara di Empang mengalami kerusakan parah”(Leeuwarder Koran, 15 Maret 1899).
Sejak Kapan Katulampa Menjadi Indikator Banjir Jakarta?

Di Tahun 1912, bendungan Katulampa mengalami pembaruan dengan dibantu ahli insinyur Hendrik van Breen yang dibangun untuk meningkatkan drainase air, irigasi serta menahan laju banjir. Dalam pembaruan ini berbagai evaluasi dari pembangunan sebelumnya dilakukan mulai dari bahan dan material penyusun bendungan serta struktur dari bangunan tersebut.
Dalam sebuah koran menjelaskan:
“Een mooi Werk.—Den 11 en dezer wordt feest gevierd te Ketoe Lampa, boven Buitenzorg. De dam in de Tjiliwoeng, daar ter plaatse gelegd voor een betere regeling van den waterafvoer, in het bijzonder met het oog op de irrigatie, is gereed gekomen, en nu zal de inwijding van het werk in tegenwoordigheid van den gouverneur generaal plaats hebben. Talloze malen sloeg de oude dam, opgebouwd uit losse kalisteenen, door bandjirs weg en duizenden guldens aan materiaal dreven dan weg. Nu is er een gemetselde dam gebouwd, die de kracht van bandjirs kan weerstaan en die het mogelijk maakt noordeloos wegvloeien van water tegen te gaan. Een mooi werk, waarvan de uitvoerder, de ingenieur Van Breen. alle eer heeft.” (Bataviaasch Nieuwsblad, 09 Oktober 1912)
“Sebuah karya yang indah.— Pada tanggal 11 bulan ini, sebuah perayaan akan diadakan di Ketoe Lampa, di atas Buitenzorg. Bendungan di Tji Liwoeng, yang dibangun di sana untuk meningkatkan drainase air, khususnya untuk irigasi, telah selesai, dan peresmian proyek tersebut akan berlangsung di hadapan Gubernur Jenderal. Berkali-kali, bendungan lama, yang dibangun dari batu kapur lepas, terkikis oleh erosi, dan ribuan gulden material kemudian hanyut terbawa arus. Sekarang, sebuah bendungan batu telah dibangun yang dapat menahan kekuatan erosi dan memungkinkan untuk mencegah limpasan air yang tidak perlu. Sebuah karya yang indah, yang mana insinyur Van Breen pantas mendapatkan semua pujian.”(Bataviaasch Nieuwsblad, 09 Oktober 1912)
Koran tersebut menjelaskan bahwa konstruksi bangunan yang digunakan untuk membangun bendungan Katulampa dengan menggunakan batu yang diharapkan lebih kuat.Dalam keterangannya juga berita tadi memuat informasi tentang peresmian bendungan Katulampa yang dilakukan pada 11 Oktober 1912 oleh Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg.
Dikutip dari reportase Tempo, pencatatan debit air di Katulampa sudah dilakukan semenjak lama, yakni sejak bendungan ini beroperasi, pencatatannya dilakukan per hari kemudian dijadikan laporan bulanan, sehingga bisa menjadi acuan kapan musim penghujan dimulai.
Fungsi Katulampa sebagai indikator penanda datangnya banjir juga mulai ramai diperbincangkan sejak awal tahun 2000an, meningkatnya intensitas banjir di Jakarta menjadikan Bendung Katulampa jadi titik awal sebelum masuknya banjir ke Jakarta.
Aliran banjir dari Bendung Katulampa menuju wilayah hilir memerlukan waktu tempuh sekitar 3 jam untuk mencapai Depok dan sekitar 8–9 jam untuk mencapai Jakarta. Oleh karena itu, Bendung Katulampa berfungsi sebagai titik penting dalam sistem peringatan dini banjir di kawasan Jabodetabek.

Informasi potensi bahaya banjir disampaikan melalui status siaga banjir yang ditentukan berdasarkan tinggi muka air diatas mercu bendung. Status tersebut diklasifikasikan ke dalam empat tingkat, yaitu Siaga IV ketika tinggi muka air kurang dari 80 cm, Siaga III pada kisaran 80–120 cm, Siaga II pada kisaran 120–200 cm, dan Siaga I sebagai tingkat tertinggi ketika tinggi muka air melebihi 200 cm.
Klasifikasi ini digunakan sebagai acuan bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta mengambil langkah antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya banjir di wilayah hilir.
Baca juga: Mengerikan, Banjir dan Longsor Kembali Terjadi di Pulau Sumatera
Bendung Katulampa tidak hanya menjadi indikator banjir Jakarta dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang sejak masa kolonial. Sejak akhir abad ke-19 bendungan ini telah berfungsi sebagai infrastruktur pengendali dan pengamat aliran Sungai Ciliwung, selain itu perannya sebagai indikator banjir Jakarta semakin menguat seiring berkembangnya sistem pencatatan debit air, pertumbuhan wilayah hilir, serta meningkatnya informasi risiko banjir di Jakarta pada akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21.(Kori/Nugrah)






