Pada bencana sosial atau konflik Aceh (1976-2005) UNHCR membantu mengidentifikasi dan mendaftarkan lebih dari 20.000 orang yang terpaksa melarikan diri karena konflik di Aceh ke negara lain, selain itu faktor bencana alam juga membuat banyak masyarakat Indonesia sering kali harus menetap sementara di tenda pengungsian atau tenda darurat yang didirikan pasca bencana, mengamankan diri dari rumah yang telah luluh lantah ataupun bencana yang kemungkinan akan kembali terjadi.
Selain yang melarikan diri ke luar negeri, jauh lebih banyak masyarakat yang mengungsi secara internal, tinggal sementara di kamp-kamp pengungsian, barak darurat, atau rumah kerabat untuk menyelamatkan diri dari kekerasan maupun ancaman bencana.
Selain itu sempat viral di media sosial wawancara guyon seorang ibu dari Lumajang yang ditengarai bernama Gimah saat diwawancarai seorang TNI, ia berkata:
“Coba itu dipindah sama bapak kemana gitu, biar saya aman disini, sekali-sekali masa empat tahun sekali harus begini?”
Kalimat yang sebenarnya adalah guyonan namun juga mensyaratkan keputusasaan atas musibah Gunung Semeru kerap kali evakuasi dan memaksa masyarakat untuk menghentikan aktivitasnya dan pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di masyarakat yang telah lama meninggalkan kehidupan nomaden, pengalaman menjadi pengungsi menghadirkan berbagai ketidakpastian: kehilangan mata pencaharian, rapuhnya jaminan sosial, terbatasnya akses kesehatan, hingga hilangnya privasi dan rasa aman.
Pengalaman kolektif tentang kehilangan, keterasingan, dan kerinduan terhadap kampung halaman ini juga terekam dalam karya seni. Salah satunya adalah lagu berjudul “Untong Kamoe Nyoe” (Nasib Kami), karya seniman Aceh Hasbi Burman yang kemudian dipopulerkan oleh band Nyawoeng.
Syair Untong Kamoe Nyoe – Aceh, Menjiwai Nasib Pilu Pengungsi

Lagu yang sempat dilarang diperdengarkan pada awal 2000an ini, punya makna yang mendalam terkait nasib di pengungsian, berikut lirik dan artinya:
| Untong Kamoe Nyoe Meulôt cém pahla ngön cicém tiyông Di ateuëh tampong meubura-bura Kamoë pengungsi nyang keunöng gulông Siôn ija krông cit nyang na geuba Aneuk luk kutru ateuëh triëng beutông Ateuëh bak nibong, badè tan reuda Aneuk peurumôh ji’ië meuranggông Lagèë ujeuën tron tijoh ië mata Riyeuëk ngön bakat meualôn-alôn Badè lam gampông jitron tan reuda Jak peusôm ulèë seube lam jurông Peusiblah untông bèk keunöng bala ‘Oh abéh buleuën meubileuëng ngön thônIngat u gampông, pajan jeuët tagisa Jeuët sagoë tangiëng itop lam jantông Meukeupông-keupông digulông lè bala Kuala Idi, bangka meususôn Kuala Bubon, arôn mubanja ‘Oh trôh kamoë woë, rumoh ka tutông Ka apui gulông sapeuë tan lè na Hareuta beunda tan lè lam gampông Habéh jipeuron asèë geureuda Harapan habéh, hana soë tanggông Meunan keu untông kamoë nyoë hamba Riyeuëk ngön bakat meualôn-alôn Badè lam gampông jitron tan reuda Jak peusôm ulèë seube lam jurông Peusiblah untông bèk keunöng bala ‘Oh abéh buleuën meubileuëng ngön thôn Ingat u gampông, pajan jeuët tagisa Jeuët sagoë tangiëng itop lam jantông Meukeupông-keupông digulông lè bala | Nasib Kami Burung murai dengan burung tiung berkelahi Bercek-cok diatas rabung Kami pengungsi yang terkena gulung Selembar sarung sajalah yang dibawa Anak perkutut mendekur diatas bambu betung Di atas pohon nibung, badai tiada mereda Anak istri menangis melolong Bagai turunnya hujan air mata mereka Riak dan ombak beralun-alun Badai dalam kampung datang tanpa reda Sembunyi kepala, terlihat punggung Selamatkan diri dari bencana Ketika bulan berganti tahun Teringat kampung, kapan bisa kembali? Melihat setiap sudut sangat menyayat hati Bertimbun-timbun digulung bencana DI Kuala Idi, tembakau bersusun Di Kuala Bubon, cemara berjejer Ketika kita pulang, rumah sudah terbakar Sudah tergulung api, tiada yang tersisa lagi Harta benda tiada dalam kampung Habis dirampas bajingan rakus Harapan habis, tiada yang bisa bantu Begitulah nasib kami rakyat jelata ini Riak dan ombak beralun-alun Badai dalam kampung datang tanpa reda Sembunyi kepala, terlihat punggung Selamatkan diri dari bencana Ketika bulan berganti tahun Teringat kampung, kapan bisa kembali? Melihat setiap sudut sangat menyayat hati Bertimbun-timbun digulung bencana |
Melalui metafora alam, riak ombak, badai, hujan air mata. Lirik lagu tersebut menggambarkan kepedihan para pengungsi yang terpaksa pergi hanya dengan membawa selembar sarung, meninggalkan rumah yang kemudian terbakar atau dijarah. Gambaran ini menunjukkan bahwa bagi pengungsi, kehilangan tidak hanya berarti kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan rasa memiliki terhadap ruang hidupnya.
Dalam beberapa bait juga disebutkan tempat-tempat seperti Kuala Idi dan Kuala Bubon, yang menggambarkan bagaimana wilayah-wilayah yang dahulu menjadi ruang kehidupan, ladang, rumah, dan kampung, berubah menjadi lokasi kehancuran.

Pada periode eskalasi konflik Aceh yang cukup parah antara tahun 1998 hingga 2005, menurut Patrick Barron dalam bukunya When Violence Works, diperkirakan sedikitnya 10.613 orang kehilangan nyawa. Angka tersebut belum termasuk puluhan ribu lainnya yang mengalami pengungsian, kehilangan harta benda, atau hidup bertahun-tahun dalam ketidakpastian.
Baca juga: Pantai Utara Jawa Tengah Disambangi Bencana Hidrometeorologi
Lagu “Untong Kamoe Nyoe” bukan sekadar karya musik. Ia adalah rekaman emosional tentang pengalaman pengungsian tentang bagaimana rakyat kecil merasakan konflik dan bencana dalam kehidupan sehari-hari. Melalui syairnya, kita diajak menjiwai nasib para pengungsi: mereka yang kehilangan rumah, terpisah dari kampung halaman, dan hidup dalam harapan sederhana untuk suatu hari dapat pulang kembali.(Kori)






