Kabar bencana hidrometeorologi yakni banjir bandang kini datang di wilayah Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Provinsi Sulawesi Utara pada Senin, 05 Januari 2026. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sekitar pukul 03.00 Wita menyebabkan meluapnya air sungai dan menjadikan banjir, yang tersebar pada empat kecamatan meliputi Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.
Berdasarkan data dari BPBD setempat banjir bandang mengakibatkan tujuh rumah hanyut, 29 rumah rusak berat, dan 112 rumah rusak ringan. Beberapa akses jalan terputus, serta beberapa bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan. Selain itu dikonfirmasi korban jiwa sebanyak 17 orang dan 2 lainnya hilang.
Banjir Bandang Sitaro Tewaskan 17 Orang, Tetap Waspadai Bencana

Hingga kini Pemerintah daerah telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro selama 14 hari, sejak 5 Januari hingga 18 Januari 2026 mendatang.
Belum usai dampak bencana akibat yang terjadi di Pulau Sumatera akhir tahun lalu, banjir bandang Sitaro mengawali kejadian banjir bandang besar di tahun ini, namun penanganan juga tetap dilakukan oleh BNPB bersama BPBD setempat.
“Hingga kini, proses penanganan darurat masih terus dilakukan. Operasi pencarian dan penyelamatan korban, pendataan dampak, serta penyaluran logistik tetap menjadi prioritas utama di wilayah terdampak” Ujar Abdul Muhari, Kepala pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB.
Selain menyebabkan korban jiwa bencana ini juga memutus jaringan listrik dan telekomunikasi, dikutip dari Kompas, Basarnas Sulut menyiapkan jaringan internet berupa perangkat starlink yang sebenarnya digunakan untuk mendukung pelaporan dan publikasi operasi SAR, namun digunakan juga untuk masyarakat melakukan komunikasi dengan keluarga atau kerabat di luar daerah.

Memasuki musim penghujan dan cuaca ekstrem di Indonesia, setiap wilayah harus bersiap pada kemungkinan terburuk bencana yang akan terjadi. Bukan saja di Sumatera ataupun Sulawesi namun wilayah-wilayah lain juga harus selalu waspada bencana hidrometeorologi, baik berupa banjir, tanah longsor, ataupun angin kencang.
Baca juga: Rekapitulasi Bencana Sepanjang 2025, Lebih Baik Dari Tahun Sebelumnya?
Selain kesiapsiagaan pemerintah, masyarakat juga menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana. Warga di daerah rawan diimbau untuk memantau informasi cuaca dari BMKG, mengenali tanda-tanda awal bencana, serta menyiapkan jalur evakuasi dan perlengkapan darurat di tingkat keluarga.(Kori/Nugrah)






