Gaza, Banjir dan Musim Dingin Hantui Masyarakat

Ilustrasi Musim dingin di Gaza, Foto: Dok. aa.com.tr
Ekspedisi Jawadwipa

Gaza kembali menghadapi situasi mengerikan ketika musim dingin dan ancaman bencana hujan banjir tiba bersamaan, memperburuk kesulitan warga yang sudah terjebak dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan di tenda-tenda pengungsian. 

Dengan infrastruktur yang rusak, minimnya akses bantuan, serta kondisi tempat tinggal yang tidak layak, masyarakat disana kini berhadapan dengan kerentanan berlapis yang mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup mereka.

Gaza, Banjir dan Musim Dingin Hantui Masyarakat

gaza
Musim dingin dan hujan di Gaza, Foto: anadolu

Dikutip dari media Anadolu, sejumlah tenda-tenda di kamp pengungsian  sobek dan roboh akibat hujan yang mengguyur pada Jumat pagi 14 November 2025. Tenda-tenda juga terlihat terendam air 

Juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Husni Mahna, menyebutkan bahwa sekitar 85 persen infrastruktur layanan publik di kota terbesar di Jalur tersebut itu telah rusak berat. Empat kolam utama penampung air hujan yang berfungsi sebagai benteng pelindung kota saat musim hujan hancur total.

Dilansir CNN, Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Sabtu, 15 November.”Seluruh pusat penampungan telah mengalami kenaikan ketinggian air hingga lebih dari 10 sentimeter (3,94 inci). Kasur basah kuyup, selimut basah kuyup, dan tidak ada pilihan tersisa karena semua pilihan telah dihancurkan oleh Israel,” ujarnya.

Departemen Meteorologi Palestina melaporkan bahwa Gaza dan wilayah Palestina lainnya tengah dilanda sistem tekanan rendah yang membawa udara dingin, hujan deras, dan badai petir, memperburuk situasi di tengah krisis kemanusiaan yang masih berlangsung. 

gaza
Ilustrasi cuaca mendung di area pengungsian di Gaza, Foto: Dok. Beit Lahia Development Association

Menyikapi kondisi cuaca ekstrem ini, Pertahanan Sipil Gaza mengeluarkan pedoman darurat bagi para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda sementara, menekankan pentingnya memperkuat tali dan penopang tenda terutama di kawasan pesisir yang rawan angin kencang, membangun penghalang pasir untuk mencegah air laut masuk ke area tenda, menghindari bangunan yang rusak akibat serangan karena berpotensi runtuh saat hujan lebat, tidak menyalakan api di dalam tenda demi mencegah kebakaran, serta membuka saluran tanah dan drainase di antara tenda-tenda untuk mengurangi risiko banjir.

Baca juga: Sebuah Botol Harapan, di Tengah Krisis Kemanusiaan

Wilayah ini terus dalam situasi mengenaskan, Kantor Media Gaza memperkirakan 93 persen tenda pengungsian sudah tidak layak huni, terhitung sekitar 125.000 dari total 135.000 tenda yang mengalami kerusakan parah. Perbaikan sulit dilakukan karena Israel membatasi masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk material vital seperti tenda dan rumah mobil.(Kori)