Situs Gunung Sunda dan Ular: Cerita Pergerakan Tanah di Subang

Pemandangan di Area Desa Sindanglaya, Tanjungsiang, Subang, Foto: Nugrah Aryatama
Ekspedisi Jawadwipa

Di Desa Sindanglaya terdapat sebuah situs yang dikenal dengan nama Gunung Sunda. Meski disebut “gunung”, tempat ini sejatinya bukanlah gunung vulkanik menjulang, melainkan sebidang tanah yang agak menanjak di antara hamparan sawah luas.

Dalam perjalanan menyusuri jejak Sesar Baribis, yang dilakukan oleh tim ekspedisi Yayasan Skala Indonesia pada Mei 2024, tim sempat mengunjungi wilayah Subang tepatnya di Desa Sindanglaya, Kecamatan Tanjungsiang.

Memori masyarakat terkait kejadian kegempaan di wilayah Sindanglaya hampir tidak terekam secara baik, selain tentang goncangan gempa kecil dari wilayah sekitarnya seperti Cianjur.

Meskipun di wilayah Sindanglaya tidak ditemukan secara langsung bukti atau jejak singkapan kegempaan namun ada cerita menarik terkait pemahaman masyarakat terhadap alam, utamanya dalam konteks bencana dan kepercayaan masyarakat.

Situs Gunung Sunda dan Ular: Cerita Pergerakan Tanah di Subang

gunung sunda
Petilasan Gunung Sunda, Foto: Nugrah Aryatama

Di Desa Sindanglaya terdapat sebuah situs yang dikenal dengan nama Gunung Sunda. Meski disebut “gunung”, tempat ini sejatinya bukanlah gunung vulkanik menjulang, melainkan sebidang tanah yang agak menanjak di antara hamparan sawah luas. Diatasnya berdiri sebuah bangunan sederhana tanpa tembok, dengan batu besar di tengahnya yang dianggap batu sakral. Tak jauh dari batu itu, mengalir mata air jernih yang tak pernah kering, menjadi sumber kehidupan sekaligus tempat suci bagi warga sekitar.

Bagi masyarakat setempat, Gunung Sunda bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga pusat spiritual yang menghubungkan mereka dengan alam, hal ini terlihat dari sesajen yang sering ditemukan di lokasi. 

Pernah terjadi pergerakan tanah atau tanah longsor di wilayah Desa Sindanglaya pada akhir tahun 2019 hingga awal 2020, kemudian masyarakat setempat mengaitkan kejadian tersebut dengan legenda ular yang dirupakan dengan tanah bergerak, ular dikatakan hendak atau ingin mengawini Situs Gunung Sunda, karena pergerakan tanah tersebut mengarah ke situs yang sebelumnya dibahas.

Cerita ini adalah cerita yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, meskipun keabsahannya masih perlu dipertanyakan kembali, namun hal ini menambah kearifan lokal masyarakat serta memahami bagaimana masyarakat secara sederhana mengetahui tentang pergerakan tanah.

gunung sunda
Petilasan Gunung Sunda, Foto: Nugrah Aryatama

Menurut laporan media lokal, material tanah di daerah longsoran merupakan tanah lepas tanpa batuan keras atau cadas, sehingga tidak mampu menahan pergeseran ketika air hujan meresap. Di lokasi itu juga terdapat selokan kecil di tepi jalan penghubung antar desa. Selokan tersebut biasanya kering, namun ketika musim hujan tiba, air yang mengalir deras membuat tebing di sekitarnya rapuh dan mudah ambles.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana perubahan kecil pada sistem aliran air dapat berdampak besar bagi kestabilan tanah pengetahuan yang sesungguhnya juga dipahami masyarakat, meski mereka menuturkannya lewat cerita mitos.

Baca juga: Gunung Tampomas: Merawat Memori Lewat Dongeng

Legenda tentang ular dan Gunung Sunda menjadi refleksi dari cara masyarakat Sindanglaya menerjemahkan dinamika alam dengan bahasa budaya. Dalam pandangan mereka, setiap peristiwa di bumi memiliki makna spiritual sebuah cara yang tidak hanya menjelaskan alam, tetapi juga mengajarkan kehati-hatian dan penghormatan terhadap bumi.(Kori)