Rekapitulasi Bencana Sepanjang 2025, Lebih Baik Dari Tahun Sebelumnya?

Ilustrasi Banjir, Foto: unsplah
Ekspedisi Jawadwipa

Sebagai negara yang sering dikunjungi oleh bencana alam, Indonesia lewat BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) tiap tahunnya selalu rutin menerbitkan data rekapitulasi kejadian yang terjadi, baik karena hidrometeorologi maupun geologi.

Jika di tahun 2024, ada 3.472 bencana yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, di 2025 hingga per tanggal 17 Desember 2025 ada sekitar 3.116 kejadian yang terjadi, meskipun data ini juga terus mengalami peningkatan hingga akhir tahun 2025, karena kondisi hujan yang kian meningkat. Sehingga secara data bisa dinyatakan menurun namun tidak signifikan dan tidak mutlak, karena bisa jadi terdapat update.

Jenis kejadian yang terjadi di 2024 dan 2025 juga mengalami perubahan dimana 2024 bencana karhutla (kebakaran lahan dan hutan) menempati posisi kedua bencana setelah banjir, maka di 2025 peringkat pertama dan kedua didominasi kejadian hidrometeorologi banjir dan cuaca ekstrem baru disusul oleh karhutla di peringkat ketiga. Secara persentase di dua tahun tersebut kejadian hidrometeorologi masih mendominasi dibanding kejadian yang disebabkan oleh geologi. 

Rekapitulasi Bencana Sepanjang 2025, Lebih Baik Dari Tahun Sebelumnya?

bencana
Petugas SAR mencari Korban di lokasi tanah longsor, Foto: Tempo/Budi Purwanto

Meskipun secara data, kejadian bencana di 2025 lebih menurun tipis, namun berdasarkan jumlah korban yang terdampak, peningkatan korban terdampak malah meningkat secara signifikan. Dimana di 2025 terdapat 10.275.745 yang menderita serta mengungsi sedang di 2024 datanya terdapat 8.136.271. 

Tentu, kejadian banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera (27/11) menjadi penyumbang korban meninggal terbanyak sepanjang 2025, korban meninggal yang lebih dari 1.000 menjadikan banjir dan tanah longsor di Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh) menjadi fenomena paling besar sepanjang tahun 2025.

Selain di Sumatera berbagai wilayah yang menjadi perhatian BNPB sepanjang 2025 adalah banjir di Jabodetabek (Maret), siaga tsunami dari gempa Katchmanka (Juli), banjir Nagekeo NTT (September), Banjir Kota Denpasar Bali (September), Gempa Bumi Sumenep Jawa Timur (Oktober), Banjir Kota Semarang Jawa Tengah (November) serta bencana non alam bangunan pesantren roboh Sidoarjo Jawa Timur (Oktober).

Angka kejadian di tahun 2025 yang menyentuh 3.116 memanglah tidak sebanyak yang terjadi di dua tahun sebelumnya 2023 yang menyentuh angka 5.400 kejadian, namun hal ini tidak meniscayakan kondisi alam Indonesia akan berada di masa terburuknya, maka perlunya bersiaga menghadapi kejadian yang akan datang.

bencana
Petugas melakukan pendataan wilayah terdampak banjir, Foto: Dok. BNPB

Dalam memahami kejadian alam di Indonesia penting memahami pola perulangan alam, seperti dalam siklus tahunan berbagai fenomena seperti El Nino dan La Nina perlu dipahami untuk mengantisipasi bencana seperti karhutla dan memahami siklon untuk antisipasi kejadian hidrometeorologi lainnya. Secara rutin lembaga pemerintah baik BMKG, BNPB maupun BRIN sering memperingatkan berbagai kondisi alam yang berpotensi menyebabkan kerusakan yang besar ataupun kecil.

Baca juga: Mengenal SinkHole, Bencana Lubang Mengerikan

Berbeda dengan kejadian hidrometeorologi yang dapat diprediksi maka risiko bencana geologi lebih tidak diprediksi, sehingga hal yang bisa dilakukan adalah memahami tanda-tanda alam atau bahkan warisan ingatan yang pernah dimiliki generasi sebelumnya.(Kori/Nugrah)