Ilmu Vulkanologi merupakan keilmuan yang mempelajari tentang gunung api. Apalagi keganasan gunung api di Indonesia memanglah sudah tidak asing lagi, bahkan bukan hanya saja dikenal sebagai bencana yang hanya terjadi Indonesia namun aktivitas letusan gunung api merupakan bencana global, sebab dampaknya yang begitu besar.
Di Masa lalu terutama abad ke 19 hingga awal abad ke 20, sebagai wilayah jajahan bangsa Eropa, tanah Indonesia sangat diperhitungkan untung ruginya. Deretan gunung api yang berdiri kokoh di hampir seluruh kepulauan Indonesia, menjadi rahmat sekaligus musibah tersendiri. Abu dan tanahnya yang subur menyuburkan hasil perkebunan yang menjadi program besar Belanda saat itu.
Awal Peradaban Keilmuan Vulkanologi di Indonesia, Diawali 3 Bencana Besar

Tiga letusan besar yang paling mengguncang dunia pada masa itu adalah Letusan Tambora (1815), Letusan Krakatau (1883), dan Letusan Kelud (1919). Ketiganya bukan sekadar bencana alam biasa, tetapi juga peristiwa monumental yang mengubah arah sejarah. Letusan Tambora misalnya, menyebabkan perubahan iklim global yang dikenal sebagai “the year without a summer”, dimana suhu dunia turun drastis dan gagal panen terjadi di berbagai negara. Krakatau, dengan dentuman terdahsyat dalam sejarah modern, menimbulkan tsunami raksasa dan menewaskan puluhan ribu orang. Sementara Kelud pada 1919 memuntahkan lahar hujan yang meluluhlantakkan ratusan desa di Jawa Timur.
Bagi kolonial Belanda, bencana-bencana ini merupakan kerugian besar secara ekonomi dan sosial. Perkebunan yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan hancur diselimuti abu vulkanik. Jalur perdagangan terhenti karena kapal-kapal tidak dapat berlayar akibat debu pekat yang menutupi langit dan laut.
Namun dari tragedi besar itulah lahir kesadaran ilmiah baru. Pemerintah kolonial melalui gagasan geolog ternama Rogier Verbeek, mulai menyusun langkah-langkah ilmiah untuk memahami aktivitas gunung api di wilayah Hindia Belanda. Verbeek, yang meneliti secara mendalam letusan Krakatau 1883, menjadi pelopor dalam pemetaan dan studi vulkanologi di Nusantara. Ia menyadari pentingnya mengamati tanda-tanda aktivitas vulkanik secara sistematis agar dampak bencana dapat ditekan.
Dari sinilah embrio lembaga pemantauan gunung api di Indonesia mulai terbentuk. Pos-pos pengamatan didirikan di berbagai daerah rawan letusan untuk memantau aktivitas gunung secara berkelanjutan. Lembaga ini kemudian berkembang menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang kita kenal saat ini.
Pasca letusan Kelud misalnya, stasiun pemantauan berupa gubuk bambu tipis yang terletak di Bukit Maron, dilengkapi teleskop serta yang tampaknya seperti seismograf pertama di gunung api Hindia Timur.

Para ilmuwan kemudian membangun stasiun pemantauan baru di Babadan, barat kaldera Merapi. Stasiun ini dilengkapi bunker tahan awan panas dan lontaran batu, serta seismograf baru yang menjadi bagian dari jaringan observatorium Merapi di lereng selatan dan barat daya.
Baca juga: Mau Naik Gunung?, Waspadai 4 Bencana yang Mungkin Bisa Terjadi
Kabel telepon dan telegraf dipasang untuk menghubungkan observatorium dengan kota-kota di kaki gunung, memperluas komunikasi dan membawa teknologi dataran rendah ke desa-desa sekitar. Observatorium pun berfungsi sebagai pos ilmiah sekaligus ruang pertemuan antara ilmuwan kolonial dan masyarakat pedesaan.
Vulkanologi di Indonesia lahir dari rangkaian letusan besar dan kemudian menjadi alat kebijakan kolonial. Meski disebut untuk melindungi penduduk, kegiatan pemantauan ini juga memperkuat posisi ilmuwan melalui tambahan fasilitas, dana, dan dukungan logistik. Mereka mencatat, memotret, dan menggambarkan setiap letusan secara sistematis.
Setelah letusan Gunung Kelud, juga misalnya, Kemmerling menyusun laporan setebal hampir 120 halaman untuk Dienst van het Mijnwezen in Nederlandsch Oost-Indië dalam seri Vulkanologische Mededeelingen.
Tiga bencana besar tersebut bukan hanya meninggalkan luka dan kehancuran, tetapi juga menjadi titik awal peradaban keilmuan vulkanologi di Indonesia warisan pengetahuan yang terus berkembang hingga masa kini untuk menjaga keselamatan jutaan jiwa yang hidup di tanah cincin api.(Kori/Nugrah)






