Di Tengah cuaca ekstrim yang melanda berbagai belahan wilayah Indonesia, disusul dengan kasus bencana hidrometeorologi yang kian meningkat, salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah adalah menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan kegiatannya yang disebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), hal ini dilakukan untuk meredam bencana besar yang muncul, serta dalam beberapa kasus juga dilakukan untuk memperkecil resiko hujan ekstrim sehingga membantu memperlancar jalannya evakuasi korban bencana hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia.
Mengenal Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dan Dampaknya
Secara definitif, Modifikasi Cuaca adalah usaha campur tangan manusia dalam merekayasa pengendalian sumber daya air di atmosfer dengan memanfaatkan parameter iklim dan cuaca.

Biasanya modifikasi ini melibatkan penyebaran zat ke dalam awan untuk mengubah pola curah hujan guna meningkatkan curah hujan, mengurangi hujan es, atau menghilangkan tutupan awan.
Di Indonesia sendiri Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diatur dalam perundangan- undangan, tepatnya dalam Peraturan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Modifikasi Cuaca.
Yang perlu dipahami, bahwa melakukan modifikasi ini bukanlah mengubah iklim. Teknologi seperti penyemaian awan tidak dapat serta-merta mengakhiri hujan begitu saja. Pasalnya iklim terbentuk dari interaksi sistem alam yang kompleks, dinamis, dan bekerja dalam skala global jangka panjang.
Dalam praktiknya, penyemaian awan untuk pertanian didasarkan pada harapan meningkatnya curah hujan selama musim tanam guna mendongkrak produksi pangan. Sementara modifikasi ini dilakukan untuk menekan hujan diarahkan untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman. Dan yang dilakukan Indonesia belakangan ini adalah untuk menghindari resiko korban tinggi pada musim bencana hidrometeorologi ini.
Namun berbagai upaya tersebut tetap menghadapi batasan, karena proses atmosfer tidak sepenuhnya bisa dikendalikan manusia.
Berdasarkan penjelasan Sekretaris Pusat Pengelolaan Peluang dan Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) IPB University, Dr I Putu Santikayasa, dalam hal ini sebetulnya banyak metode yang sebenarnya bisa dilakukan, tapi pada umumnya dilakukan dengan penyemaian awan (cloud seeding).
Dikutip dari Earth.org, banyak literatur ilmiah memang menilai penyemaian awan sebagai teknologi yang cukup membantu, tetapi tetap ada ketidakpastian yang tidak bisa diabaikan. Masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk memahami dampak jangka panjangnya terhadap iklim.
Apalagi dengan penggunaan bahan seperti perak iodida (Agl) dalam penyemaian awan masih banyak menuai pro kontra, pasalnya Agl berpotensi menghambat pertumbuhan organisme akuatik dan mengganggu siklus nutrisi di ekosistem air tawar. Sehingga masih dicari bahan alternatif lain yang kiranya lebih ramah lingkungan.

Peraturan Modifikasi Cuaca yang telah disahkan pada 2025 lalu, sudah seharusnya menjadi rujukan penting dalam pengelolaan operasi modifikasi yang bertanggung jawab.
Baca juga: 5 Bencana Banjir di Indonesia dengan Jumlah Korban Terbanyak
“Regulasi ketat harus diterapkan agar teknologi ini tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Pendekatan berbasis data dengan bantuan teknologi serta analisis yang tepat dapat meminimalkan risiko dari TMC sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara maksimal tanpa merugikan lingkungan” Ujar Dr. Putu dikutip dari ipb.ac.id.(Kori)






