Sejarah Desa Lonca, Terus Berpindah Menghindari Bencana

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Bila biasanya kerusakan parah banyak terjadi di wilayah yang dekat dengan pusat gempa. Namun berbeda dengan gempa yang terjadi di lepas pantai Donggala pada 28 September 2018 silam. Walau pusat gempanya berpusat dekat dengan wilayah Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, namun kerusakannya meluas sampai ke wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi yang letaknya ada di selatan Kabupaten Donggala.

Dalam diskusi online yang dilaksanakan oleh tim Ekspedisi Palu-Koro (28/09/2021), Mudrik Daryono, peneliti BRIN menceritakan bagaimana awal kisahnya meneliti sesar Paku-Koro. Ia berkata bahwa gempa yang terjadi pada tahun 2012 identik dengan gempa yang terjadi pada tahun 1907. Pada tahun 1909 terjadi gempa besar dan gempa ini identik dengan gempa yang terjadi pada tahun 2018.

Mudrik juga tidak menyangka bahwa  keberulangan gempa ini benar-benar terjadi setelah dua bulan sebelumnya ia menyusuri sesar Palu-Koro bersama tim Ekspedisi Palu-Koro. Berdasarkan risetnya memang gempa identik di tahun 1907 dan 1909 akan terulang kembali, namun ia tidak menyangka akan terulang pada September 2018. 

”Yang diperikaran bergerak hanya satu segmen, ternyata tiga segmen sekaligus berkerja. Itu di luar dugaan dan membuka mata para geolog” kata Mudrik.

Beberapa wilayah di Kabupaten Sigi yang posisinya dilewati dan berdekatan dengan sesar Palu-Koro mengalami kerusakan bangunan yang parah. Salah satunya adalah Desa Lonca di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Walaupun kerusakan bangunannya tak separah Desa Namo, Bolapapu dan Boladangko yang tepat dilewati oleh sesar Palu-Koro. Namun tak sedikit rumah yang rusak, akses kehidupan dan penghidupan juga berdampak karena wilayah Kulawi sempat terisolasi akibat longsor yang terjadi setelah gempa. 

Gambar 1. wilayah pemukiman Desa Lonca, 20 Februari 2021

Perjalanan menuju Desa Lonca dilewati terasa begitu mengasikkan. Sebab posisinya yang berada di lembahan, menyajikan pemandangan perbukitan yang indah. Banyak kisah yang muncul di balik pemukiman yang didiami oleh warga Desa Lonca saat ini. Awalnya, warga Desa Lonca berasal dari rumpun sub Suku Powatua. Karena perkembangan dan pertambahan jumlah penduduk serta keterbatasan lahan pertanian, maka beberapa masyarakat adat Powatua kemudian mencari tempat baru untuk membuka ladang pertanian. 

Sebagian kelompok masyarakat adat Powatua mulai berjalan ke arah barat Kulawi, dan akhirnya menemukan tempat di Hulu Sungai Miu. Kelompak masyarakat adat Powatua tersebut membuka ladang di Wilayah Ue Susu dan sebagian lagi ke Bulu Langa. Sekitar tahun 1900-an, tujuh kepala keluarga yang berladang di Bulu Langa pindah tempat ke gunung sebelah barat dan menetap di atas bukit tersebut sampai akhirnya membentuk komunitas baru, dan tempat disebut dengan Bolahae. 

Lonca sendiri berasal dari sekelompok orang yang hidup di Bulu Langa (wilayah yang berbatasan dengan Winatu) dan berpindah ke Ue Susu (Winatu), sebagian lagi ke daerah Kulawi dan Ue Powatua (Lonca) setelah itu mereka ke Bolahae, dari Bolahae mereka turun ke daerah yang lebih datar dipinggiran sungai kecil yang disebut Ue Lonca tempat dimana orang mandi dan mengambil air untuk kehidupan sehari hari.

Satrio, warga Desa Lonca juga pernah mendapatkan cerita dari orang tuanya. 

Satrio berkata “Wilayah Lonca dulu bukan berada di wilayah yang didiami desa ini sekarang. Wilayah Desa Lonca yang dahulu tertimbun oleh longsor yang terjadi sekitar tahun 1970”.

Sekitar tahun 1970 terjadi bencana tanah longsor yang merusak dan mengubur pemukiman masyarakat Desa Lonca. Hingga pada akhirnya mereka berpindah menetap di daerah yang baru, letaknya di seberang Sungai Miu. Mereka tinggal disana sampai sekarang, dan nama tempat pemukiman baru tersebut tetap diberi sebutan Lonca.

Desa Lonca memiliki potensi bencana alam seperti gempabumi, gerakan tanah, longsor dan banjir bandang yang bernilai tinggi. Beberapa kali wilayah ini dilanda bencana longsor dan banjir bandang yang mengharuskan mereka berpindah tempat tinggal.

Berdasarkan data yang disampaikan saat fokus grup diskusi (24 Februari 2020), Ikhsam Djorimi, Wakil Ketua Museum Sulawesi Tengah berkata “Masyarakat di Lonca setidaknya sudah mengalami perpindahan sebanyak empat kali, karena bencana yang mereka alami”. 

Bila dilihat dari sejarahnya, Desa Lonca telah mengalami perpindahan akibat bencana yang terjadi. Kebanyakan perpindahan yang mereka lakukan karena bencana longsor dan banjir bandang. Perpindahannya pun tidak secara signifikan menjauhi keberadaan sesar Palu-Koro. Sebab waktu keberulangan gempa sangatlah panjang bila dibandingkan dengan bencana longsor dan banjir bandang yang lebih sering mereka lami. (LS)

Sumber:

Trinirmalaningrum. 2020. Studi Pengurangan Risiko Bencana Berperspektif Gender di Sulawesi Tengah. Yayasan Skala Indonesia

https://brwa.or.id/wa/view/MkxwWUZFY2VlXzg