Perjuangan dan Ketangguhan Perempuan Saat Terjadi Bencana

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Cerita kali ini Anastasya Suprihatin, Ia  adalah salah satu penulis yang mengikuti lomba “Cerita Perempuan Hebat Menghadapi Bencana” yang diadakan oleh disasterchannel.co pada Maret lalu. Simak cerita menariknya dalam tulisan berikut: 

Jaman sekarang pejuang tak melulu hadir dari pihak laki-laki, perempuan justru memiliki jiwa sosial yang lebih tinggi seiring dengan sensitivitas mereka dalam melihat sebuah masalah. Perempuan jaman sekarang dituntut untuk tangguh dalam menghadapi bencana dan menyiapkan keluarganya agar siaga bencana. Perempuan sebagai orang paling terdampak ketika terjadi bencana, memiliki peran yang sangat penting dalam menyelamatkan keluarga dan mendidik anak-anaknya tentang kebencanaan.  

Saat gempa Jogja misalnya, kehidupan baru korban bencana di pengungsian dengan segala keterbatasan memerlukan adaptasi dan pemulihan, baik dari sisi ekonomi, sosial maupun psikologis. Korban bencana harus memperjuangkan hidupnya, dan tidak dapat sepenuhnya menggantungkan bantuan dari pemerintah, swasta ataupun masyarakat lain yang membantu dalam penanggulangan bencana. Saat kondisi sudah terjadi bencana seperti itu, perempuan setempat menjadi penopang eksistensi komunitas yang memiliki ketangguhan. Perempuan bertanggung jawab menyelenggarakan dapur umum, perawatan terhadap keluarga, penyelamatan barang-barang untuk kelangsungan hidup, dan bahkan menguatkan anggota keluarga agar tetap bertahan hidup. Peran serta perempuan dalam penanggulangan bencana gempa Jogja adalah salah satu cara efektif untuk memotivasi dan memobilisasi masyarakat untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketahanan keluarga dan masyarakat setempat. 

Gempa Jogja jelas menimbulkan gangguan emosional dan stress pada anak-anak. Meredam gangguan emosional dan stres pada anak-anak adalah tugas perempuan karena mereka memiliki kemampuan membangun hubungan emosional yang baik di dalam keluarga.  Kemampuan untuk beradaptasi lebih cepat pada perempuan disebabkan mereka memiliki beban dan kekuatan yang lebih besar yang harus ditanggung saat terjadi bencana gempa. Dengan memaksimalkan kapasitas modal sosial, perempuan mampu melindungi diri sendiri dan keluarganya. Kekuatan perempuan terletak pada kemampuan perempuan sebagai pemelihara dan penjaga kelangsungan hidup keluarga, meskipun tanpa upah. Pemikiran dan peran serta perempuan juga berpusat pada hak-hak mereka untuk mendapatkan kesetaraan gender yang berkaitan dengan aksi kepedulian sosial perempuan agar dapat terus bertahan hidup.

Ketangguhan perempuan sudah banyak teruji pasca bencana, dimana ketangguhan mereka itu didukung oleh kemampuan mereka untuk saling membantu dan peduli pada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Keterlibatan perempuan dalam suatu kegiatan usaha bersama yang berlangsung sebelum kejadian bencana, dapat menjadi jalan penyelamat untuk memulihkan kondisi sosial, ekonomi dan psikologis yang dialami perempuan dan keluarganya. 

Perempuan selalu andil dalam setiap tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pra bencana, tanggap darurat hingga masa pemulihan. Penanggulangan bencana pandemi Covid-19 juga melibatkan perempuan untuk menjadi relawan Covid-19. Mereka melakukan penyemprotan disinfektan ke rumah-rumah warga, atau mendapat permintaan dari pemerintah untuk menyemprot gedung sekolah, hingga perkantoran. Para perempuan ini khawatir dengan kondisi pandemi Covid-19 di wilayah tempat tinggal mereka. Perempuan perempuan ini melalui kegiatan bersama berunding, mencari tahu, dan belajar kesiapsiagaan bencana. Mereka berusaha mencetuskan bagaimana caranya untuk memutus mata rantai Covid-19 dan kemudian bergerak bersama-sama melakukan penyemprotan disinfektan. 

Dalam mempercepat vaksinasi Covid-19 perempuan juga mengambil peran penting. Ketika masih banyak warga yang kurang sadar pentingnya vaksinasi Covid-19 maka perempuan perempuan hebat yang tergabung dalam sukarelawan melakukan pendekatan secara humanis. Mereka memberikan pemahaman dan modul-modul tentang vaksinasi beserta manfaatnya. Bahkan perempuan perempuan tangguh ini juga menyiapkan kendaraan untuk menjemput warga yang bersedia disuntik vaksin Covid-19, untuk dibawa ke sentra vaksinasi terdekat. 

Untuk menunjang semua ini perempuan harus memperoleh kesetaraan akses, kapabilitas, dan sumber daya dengan laki-laki. Penguatan pada kapasitas perempuan harus dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana akibat ancaman yang dihadapi. Saat perempuan memiliki kapasitas, maka tingkat ketahanan atau resiliensi merekapun akan meningkat. 

Perempuan akan mudah mengenali risiko di lingkungannya. Mereka cepat beradaptasi, mampu membuat rencana siap siaga, mengambil keputusan yang tepat dan mengerti cara menyelamatkan diri serta dapat melakukan pemulihan dengan cepat pasca bencana terjadi. 

Dengan penguatan kapasitas, kemampuan dan pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana pada kaum perempuan itu secara otomatis akan menularkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki tersebut kepada anak-anak, anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Keadaan yang demikian pada akhirnya dapat menumbuhkan budaya sadar bencana dan bisa meminimalisir jumlah korban akibat bencana. Itu akan terjadi karena kodrat kaum perempuan yang selalu ingin melindungi anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

Penulis: Anastasya Suprihatin