Merekam Kisah Romlah: Bagaimana Penurunan Muka Tanah Berdampak pada Masyarakat Pesisir Kota Semarang

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Cerita ini datang dari Muhammad Adam Khatamy. Adam adalah Mahasiswa jurusan Geografi, Universitas Negeri Semarang, ia merupakan salah satu peserta lomba menulis bertema “ Perempuan Hebat Menghadapi Bencana” yang diadakan oleh disasterchannel.co. Mari simak ceritanya dalam tulisan berikut:

Menceritakan kisah-kisah perubahan iklim seakan memasuki dunia fiksi, kamu akan mendengar bagaimana manusia harus hidup dengan suhu yang mencekik leher atau berebut daratan seperti film Water World. Benar saja, NOAA atau BMKG-nya Amerika merilis bahwa suhu tahunan pada 2021 mencapai 0,84 derajat celcius dan itu menjadi suhu terpanas sejak abad ke-19. Belum lagi kabar perihal beberapa kota-kota besar serta negara kepulauan diprediksi akan tenggelam dalam beberapa tahun mendatang. Kiamat yang dikabarkan kitab suci akan berlangsung cepat bagai punai berterbangan tampaknya berlangsung dalam operasi senyap, kemudian lamat-lamat kita tenggelam atau terpanggang gelombang panas.

Cerita-cerita itu hingga saat itu masih kamu anggap sebagai cerita fiksi dan hasil riset tentang perubahan iklim cuma hasil olah data statistik. Kamu hidup berkecukupan, selalu tidur nyenyak dengan pendingin ruangan, rumah yang kamu tinggali juga jauh dari pesisir dan memiliki akses layanan air bersih sumur dalam. Perubahan iklim bagimu adalah upaya konspirasi elit global yang akan memusnahkan populasi di bumi.

Keyakinanmu berubah ketika kamu menemui Romlah (60) di rumahnya yang cuma dapat diakses melalui jalan panggung dengan bau lumpur nan tak pernah kering saat musim kemarau sekalipun. Apabila kamu menyusuri Banjir Kanal Timur (BKT), rumah Romlah terletak paling utara dan masuk dalam wilayah administrasi RW 16, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara. Rumah yang ia tinggali menjadi satu-satunya yang tersisa, jarak rumah terdekat yang masih berpenghuni sekitar 100 meter ke arah selatan, tetangga terdekatnya memilih berpindah ke tempat yang lebih aman serta meninggalkan rumahnya kalah oleh laut dan penurunan muka tanah.

Romlah tinggal bersama suaminya, Sutar (65) beserta anak serta cucunya. Ia menyambung hidup dengan menjual udang hidup serta jasa parkir bagi pemancing yang kerap datang. Kondisi tanah yang terus menurun sejak awal tahun 2000-an membuat Romlah tak hanya memikirkan kebutuhan harian, tetapi juga bagaimana meninggikan rumah yang terus menurun dan kian rutin tergenang rob. Biaya ini kian membebani masyarakat pesisir yang menurut Henny Warsilah dalam Ketahanan Sosial dalam Kota Tangguh Bencana:Kajian Adaptasi Masyarakat terhadap Bencana Perubahan Iklim dan Banjir Rob di Kota Pesisir Semarang, Jawa Tengah merupakan masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah dan rentan. 

Kamu tertegun melihat apa yang terus dilakukan oleh Romlah untuk terus hidup dan menghidupi sekitarnya. Termasuk rutin mengisi token listrik rumah tetangganya agar lampu teras tetap menyala, setidaknya itu yang membuatnya merasa aman pada malam hari.

Romlah bercerita, bahwa hampir tiap hari rumahnya tergenang air seukuran mata kaki orang dewasa. Penurunan muka tanah tak hanya merebut rumah yang ia tinggali, tetapi juga tetangga sekitar rumahnya. Kamu melihat dengan jelas rumah Romlah kini berhadapan langsung dengan muka laut yang bertamu ke rumahnya setiap rob puncak tertinggi. Romlah menunjuk karung pasir yang mengelilingi belakang rumahnya, katanya itu menjadi pelindung ombak agar rumahnya tak lagi roboh akibat dihantam ombak tinggi. Mendengar itu, kamu sibuk mengkalkulasi berapa biaya yang Romlah keluarkan untuk terus bertahan di tanah yang amblas perlahan. 

Nasib tak jauh lebih baik juga dialami oleh rumah-rumah yang ditinggalkan oleh empunya, roboh, rapuh dan tinggal menunggu giliran dilumat ombak. Pemandangan ini kamu saksikan secara langsung, bukan dalam kanal televisi yang menceritakan kisah tenggelamnya kota Atlantis yang masyhur itu. 

Romlah nyatanya memilih terus bertahan dengan segala harapan yang tersisa, baginya ia telah menyatu dengan tanah dan air yang ia tempati puluhan tahun. Meskipun kini hanya tersisa air dan tanah yang semakin tenggelam, ia tetap urung pindah. Bahkan Sutar, suaminya kerap sakit-sakitan dan merasa tak betah apabila menginap di rumah anaknya yang cukup jauh dari pesisir, seakan ia sudah merasuk dengan sejuknya angin pesisir. 

Romlah menjadi satu dari sekian juta perempuan yang menjadi penyintas langsung perubahan iklim. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa 80% pengungsi akibat perubahan iklim adalah perempuan, hal ini berkaitan dengan hilangnya air bersih, sumber penghidupan hingga penopang pekerjaan domestik lainnya. 

Diantara sekian juta, kamu berkesempatan mengenal Romlah dengan segala kisahnya. Sekarang, menurutmu perubahan iklim dan segala dampaknya masih tetap sebuah kisah fiksi yang dibicarakan segelintir orang?

Penulis: Muhammad Adam Khatamy

Photo: kampusundip.com