Lukaku Pada Sungai

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Tulisan ini datang dari Farell Adzano Sasongko, peserta lomba menulis yang diadakan disasterchannel.co dengan tema “Aku dan Sungai”. Mari simak cerita Farell dalam tulisan berikut:

Sungai adalah tempat serbaguna bagiku dan keluargaku dulu. Dulu … aku suka mandi di sungai. Dulu … aku suka bermain air bersama adikku di sungai. Dulu … Setiap pulang sekolah aku jarang langsung menuju rumah, tujuan utamaku setelah pulang sekolah adalah bermain air di sungai. Dulu … ibuku juga suka mencuci pakaian di sungai. Air sungai di dekat rumah kami sangat bersih, karena itu sungai menjadi tempat serbaguna bagiku dan keluargaku.

Salah satu kejadian yang seru dengan sungai adalah saat aku pulang bermain dari sungai, pakaianku selalu basah saat masuk rumah, dan ibu memarahiku karena itu. Tapi aku hanya tersenyum saja karena aku tahu kalau aku salah, dan pulang dengan baju basah hasil bermain sungai tidak pernah menjadi penyesalan bagiku. Aku cinta sungai.

Sampai suatu saat tiba. Sungai merenggut nyawa ibu dan adik di depan mataku. 

Tes.

Maaf, aku tidak bisa menahan air mata keluar dari mataku kalau mengingat hal ini.

Aku akan menceritakan bagaimana itu bisa terjadi. 

***

Di depanku, guru sedang menerangkan pelajaran matematika. Tapi aku tidak memperhatikan, pikiranku sekarang hanyalah ingin pergi ke sungai. Itu saja. Aku tidak sabar! Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap gulita, aku tertidur.

Aku muncul di suatu tempat. Wow, depanku ada sungai! Aku berlari menuju sungai dengan seragam dan sepatu yang masih terpakai. Kemudian aku meloncat …

BYUR!

Aduh, itu bukan suara cemplunganku ke sungai, tapi teman sebangkuku menyiramku dengan air minumnya.

“Apa sih?” Aku mengelap mukaku yang basah dengan tangan.

“Itu dengerin, pelajaran matematika kelas 9 sudah nggak main-main lho,”

Tepat di kata paling akhir temanku berbicara, guru di depan akhirnya menyudahi pembelajaran dan membolehkan kami pulang. Yes! Aku mengepalkan tanganku dan bersorak dalam hati.

Aku langsung mengambil tas di laci mejaku dan bergegas pulang. Aku bukanlah dari keluarga yang kaya ataupun terpandang. Aku termasuk keluarga yang tidak berkecukupan, karena hanya ibuku saja yang mencari nafkah semenjak ayah meninggal beberapa tahun lalu. Itu menjadi salah satu saat yang menyedihkan sekali bagi ibu. Dia sangat sedih, malam-malam dia selalu mencari udara segar untuk menenangkan dirinya. Pada saat itu ibu juga sedang mengandung adik, betapa beratnya hidup ibu. (Aduh, mengapa aku jadi cerita tentang hari menyedihkan itu? Tes! Air mataku jatuh lagi).

Aku pulang berjalan kaki di tengah teriknya matahari siang. Saat sudah dekat rumah, aku berjalan ke arah yang lain, kalian pasti sudah tahu ke arah mana. Sampai di pinggir sungai, aku cepat-cepat melepas sepatu dan kaus kakiku dan melempar tas ke sembarang tempat, lalu berlari menuju sungai dan, BYUR! Sekarang siraman itu nyata.

“Heh, Kak, jangan melompat! Nanti kamu bisa terkena batu!” Itu suara teriakan ibu di sana, ia sedang mencuci baju bersama adik. Aku membalas kalimat ibu tadi dengan cengiran lebar.

Sepuluh menit aku bermain sungai sendiri, adik tiba-tiba datang menghampiriku.

“Aku mau main sama Kakak,” kata-kata itu keluar dari mulut adik. Aku tersenyum, dan menyuruhnya mendekat. Lalu kita bermain bersama di tenangnya arus sungai, sementara ibu di pinggir sana sedang mencuci pakaian kami yang banyak.

“Kakak, Adik, sudah satu jam kamu bermain air. Ayo pulang dan mandi,” Tampaknya pakaian sudah dicuci semua oleh ibu. Adikku berlari meninggalkanku, dia menghampiri ibu. Sepertinya dia ingin membantu membawakan kursi plastik yang diduduki ibu tadi saat mencuci. Sampai di tempat ibu, adik langsung mengambil kursi plastik itu. Aku ikut menyusul adik menghampiri ibu, aku ingin membantu membawa cucian ibu yang “segunung” itu.

“Sini, Bu. Aku bantu,” Aku mengulurkan kedua tanganku.

“Tidak usah, ibu saja. Nanti kamu makin pendek lho,” Ibuku menolak dan sedikit meledek.

“Ih, aku tidak sependek itu, Bu. Lagipula pakaian segini kecil bagiku. Lihat ototku yang besar ini,” Aku menunjukkan otot bisepku—yang sebenarnya sangat kecil. Ibuku tertawa, lalu memberikan semua pakaian kepadaku. Aku menerimanya. Aduh, ini berat juga. Ah, tidak-tidak, ini ringan.

“Apa kamu keberatan, Kak?” Ibu bertanya, sepertinya dia melihatku tidak sanggup membawa ini semua.

“Aku bisa kok, Bu,” dibalas anggukan oleh ibu, kemudian menyuruh kita jalan pulang.

Sudah seperempat perjalanan, tiba-tiba ibu bilang sabun cuci bajunya tertinggal. Ibu sebenarnya menyuruh kita untuk tunggu di sini saja, tapi adik tidak mau dan bersikeras untuk ikut kembali, ibu akhirnya mengalah. Kalau adik ikut, aku juga harus ikut. Kami bertiga pun kembali ke sungai.

Saat sudah kembali di sungai, ibu menghampiri tempat tadi dia mencuci. Disusul adik, dia ini tidak bisa diam sekali. Aku hanya menunggu di tempat masuk sungai.

Astaga, lihat adik. Aku kira dia ingin membantu ibu mencari sabun yang tertinggal, ternyata dia main air lagi di sungai. Aku menepuk dahi. Tiba-tiba, arus deras datang dari hulu menerjang semua batu-batu dan sesuatu yang lain di sungai.

“AWAS! ARUS SUNGAINYA KENCANG!” Aku berteriak dari tempatku ke mereka. Astaga, adikku. Dia memegang batu untuk bertahan dari arus yang ingin membawanya. Kemudian ibu menghentikan pencariannya terhadap sabun yang tertinggal tadi, dia menuju sungai dan hendak menolong adik. Ibu di sana mengulurkan tangannya untuk membantu adik, tapi hasilnya adalah … adalah ibu ikut terseret arus dan terbawa oleh air dengan kencang. Begitu juga adik, tangannya terlepas dari batu yang dipegangnya tadi dan terbawa air bersama ibu.

Aku melempar semua cucian yang kupegang dan berlari menuju sungai. “IBU, ADIK! BERHENTI!”

Saat aku sedang berlari menuju sungai dengan cepat, ada orang yang memegang tanganku dan menahanku untuk berlari ke sungai. Aku dengan kerasnya memberontak.

“HEI, LEPASKAN! AKU INGIN MENYELAMATKAN IBU DAN ADIKKU!” Genggaman tangannya kuat sekali, aku tidak bisa melawannya. Seketika aku melihat sungai, ibu dan adik sudah tidak terlihat lagi di sana. Arus sungai masih deras. Astaga, aku terlambat.

“Hei, sungainya sangat berbahaya. Jangan kamu ikut menjadi korban. Saya akan memanggil polisi dan tim SAR untuk ibu dan adikmu. Tenanglah. Ayo kamu ikut ke rumah saya, jangan panik. Semoga semuanya akan baik-baik saja,” Dia mengajakku ke rumahnya, tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin ke mana-mana sampai ibu dan adikku kembali.

“Astaga, baiklah, aku akan memanggil polisi dan tim SAR untuk menyelamatkan ibu dan adikmu,” Orang itu mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon. Dia seorang laki-laki yang terlihat sudah berumur lima puluhan.

Dua jam di dekat sungai. Sekitar sungai sudah diberikan garis polisi. Kasus ini benar-benar kacau dan menyedihkan. Dari tadi aku disuruh pulang oleh polisi, tetapi aku menolak. Diajak ke rumah orang itu juga aku menolak. Akhirnya mereka menyerah dan membiarkanku di sini. Pokoknya aku ingin di sini sampai ibu dan adik selamat.

Aku di sini ditemani oleh seorang ibu tua yang umurnya sepantaran dengan laki-laki tadi, mungkin dia istrinya. Tapi aku tidak memikirkan hal itu, aku tidak ditemani juga tidak apa-apa. Yang penting ibu dan adik selamat.

Oh, sungai … Mengapa kau melakukan ini kepadaku? Apa aku mempunyai salah kepadamu? Janganlah kau merenggut nyawa ibu dan adikku, aku masih membutuhkan mereka di hidupku. Oh sungai … Aku minta maaf jika aku mempunyai salah kepada air bersih dan jernihmu itu. Selamatkanlah ibu dan adikku.

Hari sudah mulai gelap, aku masih di sini bersama ibu itu. Ibu ini sangat berisik, dia sok-sok menenangkan dan menasehatiku. Sungguh mengganggu. Tadi di dekat sungai juga sempat ditontoni warga-warga sekitar sini, tapi sekarang sudah sepi.

“Nak, ayo pulang ke rumahku. Hari sudah mulai gelap,” Ibu itu mengajakku pulang ke rumahnya. Aku menggeleng dan tetap diam di sini. Sekali lagi ibu itu mengajakku pulang ke rumahnya, aku menolaknya lagi. Kemudian terdengar suara hembusan napas dari ibu itu.

Di depanku, polisi dan tim SAR tiba-tiba mengemas barangnya dan hendak meninggalkan tempat ini. Aku bingung. Ibu dan adik bukannya belum ditemukan? Aku berdiri dan berlari meninggalkan ibu tersebut menuju salah satu petugas.

“Pak, ibu dan adik saya belum ditemukan. Mengapa kalian sudah beres-beres? Apakah sudah ingin pulang?” Aku bertanya.

“Iya, dik. Hari sudah mulai gelap. Kita melanjutkan pencarian ibu dan adikmu besok. Tidak usah khawatir, semoga mereka cepat ditemukan. Air sungainya juga sudah kembali normal, pasti pencariannya akan lebih mudah,” Petugas itu menjelaskan.

“Tapi, pak. Ibu dan adik saya … Bagaimana jika mereka menghilang malam ini dan besok kalian sudah tidak bisa menemukannya?”

“Jangan khawatir, dik. Tetaplah optimis dan jangan khawatir. Kamu pulanglah sana, tugas ini biar kami yang urus,” 

“Tapi, pak-,“ Omonganku terpotong.

“Sudahlah, nak. Ayo kita pulang. Kamu belum makan bahkan minum dari tadi. Aku akan menyiapkan makan dan minum di rumahku nanti,” Ibu itu muncul tiba-tiba.

“Hei, bu. Aku tidak mengenal siapa Ibu. Biarlah aku menginginkan yang aku inginkan. Ibu kalau ingin pulang, silakan saja. Tidak usah menggangguku,” Kesalku akhirnya kuluapkan. Ibu ini sungguh mengganggu. 

“Nak, mungkin kamu tidak mengenal siapa aku. Tapi ibumu mengenalku. Akulah teman mencuci baju ibumu, teman curhat ibumu kalau dia sedang kesal terhadap sesuatu. Dia pasti akan senang jika aku menjagamu di saat dia sedang tidak ada,” Ibu itu tersenyum kepadaku.

“Jangan berbohong!” Kesalku bertambah. Mengapa dia sampai membawa-bawa ibu?

“Aku serius, nak. Sebentar,” dia mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah ponsel, “ini, ini swafoto aku dengan ibumu saat sedang mencuci baju di sungai ini,” dia menggeser layar ponselnya, “ini saat sedang berbelanja di pasar,” dia menggeser lagi, “ini saat kita sedang ramai-ramai bersama ibu-ibu lainnya,”

Aku mendengus pelan.

“Apakah sekarang kamu sudah percaya, Doni? Kamu sudah ingin pulang bersamaku, kan?” Aku terkejut. Dia mengetahui namaku? Mulai sekarang aku percaya dengan ibu ini. Aku mengangguk dan ingin pulang bersamanya. Kemudian ibu itu tersenyum dan menunjukkan jalan pulang ke rumahnya. 

Keesokan hari. Pencarian ibu dan adik terus dilanjutkan. Aku tidak diperbolehkan untuk menuju lokasi, dan hari ini aku menurut. Aku percaya dengan polisi dan tim SAR. Tugasku hari ini adalah mengemas baju dari rumah untuk dipindahkan ke rumah ibu yang menemaniku kemarin di sungai karena aku ingin menginap untuk sementara waktu—sampai ibu dan adik ditemukan dan sudah kembali ke kondisi yang sehat. Nama ibu itu adalah Bu Susi.

Tidak ada yang spesial hari ini. Aku diperbolehkan libur oleh sekolah dalam waktu seminggu atau sampai kondisi mentalku kembali baik. Ibu dan adik juga belum ditemukan, pencarian mereka kembali besok. 

Seminggu kemudian, ibu dan adik masih belum ditemukan. Kondisi mentalku mulai membaik, aku sudah bisa masuk sekolah sekarang. Seperti dugaanku, di sekolah, aku diwawancara satu sekolah. Mereka bertanya, “Ibu dan adikmu bagaimana?”, “Apa mereka sudah ditemukan?”, “Bagaimana kronologi kejadian mereka hilang?”, dan pertanyaan lainnya. Hal ini yang membuatku semakin sedih dan stress. Tapi untungnya, guru-guru ‘mengusir’ pertanyaan-pertanyaan itu dariku, aku bisa belajar dengan tenang sekarang—walau terkadang ibu dan adik masih terlewat di pikiranku.

Dua minggu berjalan tanpa terasa, kondisiku sekarang sudah membaik, walau ibu dan adik masih belum ditemukan. Sekarang aku sedang makan siang bersama Bu Susi di ruang makan. Menu makan siang kita hari ini adalah nasi, sambal, dan ikan. Makanan Bu Susi sangat enak. Sesekali di meja makan kita berbicara dan tertawa-tawa membicarakan sesuatu, termasuk kelakuan konyol ibu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari ruang tamu. “Permisi,” terdengar suara berat bapak-bapak di depan pintu.

Tanpa berpikir panjang atau disuruh oleh Bu Susi, aku langsung berdiri dari meja makan dan mencuci tangan sebentar, lalu menuju pintu kemudian membukakannya. Di balik pintu, terdapat laki-laki tinggi memakai baju polisi. Iya, itu polisi. 

“Ada apa, Pak?” Saat mengatakan ini, aku benar-benar berperasaan hal baik akan terjadi. Tapi ternyata, mulai dari detik ini adalah awal dari puncak amarah dan dendamku terhadap sungai.

“Apakah kamu anak dari Bu Lina?” Itu nama ibuku. Polisi itu bertanya. Aku mengangguk kencang, dan kembali dengan mukaku yang kebingungan.

“Maaf, Dik. Ibu dan adikmu tidak bisa kami temukan. Kami sudah mencarinya dua puluh empat jam kali tiga puluh hari, tapi kami sama sekali tidak bisa menemukan ibumu. Pencarian ini kami sudahi sampai sini. Sekali lagi, maaf, Dik,”

Aku terkejut. Apa? Ibu dan adik berarti selama-lamanya menghilang? Astaga! “Pak, tolong cari sekali lagi. Siapa tahu kalian melewatkan beberapa tempat pencarian,”

Aku menyatukan kedua telapak tanganku di dada dan memohon. Tapi polisi itu menggeleng sebagai jawaban.

“PAK! SAYA MOHON!” Teriakku kencang. Air mataku mulai berjatuhan, lalu aku berlutut menangis. Bu Susi dari ruang makan menghampiriku dan polisi di depanku. “Pak … Saya mohon,”

“Pak, ini ada apa?” Bu Susi bertanya kepada polisi dan ikut berlutut, dia merangkulku.

“Bu Lina dan anak keduanya sudah tidak ditemukan, kami juga telah mencarinya selama tiga puluh hari. Sekarang, pencarian terhadap Bu Lina dan anak keduanya kami berhentikan untuk selamanya,” Pak polisi menjelaskan.

“Astaga, Pak. Bukankah pencarian ini seharusnya dijalankan dua sampai tiga bulan?”

“Iya, Bu. Tapi pencarian ini sudah sangat …,” Aku tidak mendengarkan kalimat polisi itu sampai habis, aku berlari ke kamar tidurku untuk lebih menenangkan diri. Di kamar, aku terus menangis sampai akhirnya aku terlelap.

Aku bangun, melihat jam dinding. Sekarang sudah jam dua belas malam. Kemudian kata-kata polisi tadi terlintas di pikiranku, aku membuang nafas perlahan. Tiba-tiba terlintas di pikiranku, aku ingin ke sungai.

Aku berdiri dari ranjangku, dan keluar kamar. Di ruang tamu sudah gelap, Bu Susi dan suaminya sudah tertidur. Aku perlahan-lahan menuju pintu, membuka kuncinya, dan keluar. Lalu menutup pintu kembali dengan perlahan.

Jarak rumah Bu Susi ke sungai tidak jauh, malah lebih dekat dari jarak rumahku ke sungai. Aku melihat jalanan sekitar, sepi sekali. Kemudian aku memasuki jalan masuk ke sungai. Sesampainya di tempat, aku mengambil batu dan melemparnya ke sungai.

“MENGAPA, SUNGAI?” Aku berteriak kencang, “MENGAPA?”

Tidak ada yang mendengar suara teriakku. Di sini sangat sudah tidak ada orang, hanya aku saja. Aku kembali mengambil batu dan melemparnya ke sungai lagi. Berharap kalau batu yang kulempar akan menyakiti sungai, padahal sama sekali tidak. Aku benci sungai. 

Lalu, hal buruk muncul dipikiranku. Tapi untuk saat ini, aku merasa ini adalah hal yang baik untuk membalaskan dendamku kepada sungai. Aku akan mencemarinya.

***

Berlanjutlah sampai sekarang, lima belas tahun setelah hilangnya ibu dan adik. Sungai yang dulu aku suka bermain air di sana, sekarang sudah sangat kumuh. Aku tertawa riang di dalam hatiku. Bukan hanya sungai itu saja, tapi sungai-sungai lainnya juga. Mencemari sungai adalah rutinitas kehidupanku mulai dari lima belas tahun lalu hingga sekarang, dan aku senang dengan hal ini.

Setiap hari aku pulang kerja, aku selalu membawa bungkus bekas makanan, botol plastik bekas, atau sesuatu yang dapat mencemari sungai, lalu aku membuang di airnya. Aku juga sangat beruntung, sampai hari ini, aku belum ketahuan kalau aku mencemari sungai-sungai di sekitar sini. Aku melakukan pencemaran sungai ini tidak sendiri, aku membayar beberapa orang untuk mengikutiku. Aku senang sekali dengan mereka. 

Pernah juga beberapa waktu lalu, sungai yang dulu aku suka bermain di sana menjadi pembicaraan warga sekitar karena baunya yang sungguh menyengat. Bahkan ada warga yang mengatakan bahwa sungai ini sekarang memiliki bau yang “mematikan”. Tapi bagiku, sungai ini tidak mengeluarkan bau yang menyengat atau mematikan seperti yang warga bilang, tapi ini adalah wangi kemenangan. Saat aku mendengar obrolan-obrolan warga saat itu, aku hanya tertawa dalam hati. Bahkan salah satu dari mereka tidak ada yang berpikiran untuk membersihkan sungainya. Memang warga-warga bodoh. Dan dari sini, balas dendamku berhasil.

***

Pagi hari yang cerah, aku bangun dari tidurku. Sekarang, aku sudah tinggal di rumahku yang dulu, rumahku bersama ibu dan adik, serta ayah sebelum dia meninggal. Aku mandi, lalu sarapan. Rutinitas kegiatanku hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya, tapi hari ini aku tidak akan ikut membuang sampah atau limbah-limbah kotor ke sungai bersama anak buahku, karena aku akan bekerja lembur. Pagi ini, aku akan menemui anak buahku untuk mengarahkan beberapa hal.

Aku menyalakan motor Yamaha XSR-ku, kemudian pergi ke tempat meeting-ku bersama anak buahku yang sudah kita tentukan kemarin. Sampai di tempat, anak buahku sudah sampai semua. Ada lima orang.

“Selamat pagi, Bos,” Salah satu anak buahku menyapa, namanya Abi. Alasan dia ingin bekerja denganku adalah karena pekerjaan lain sulit, kalau pekerjaan ini hanya buang sampah di sungai lalu pergi. Itu kata-katanya. Lalu aku membalas sapaannya. Kemudian yang lain ikut menyapa.

Sebelum dimulai pembicaraannya, aku memesan kopi hitam dulu dari penjual di sana. Kita berkumpul di sebuah kafe yang sepi sekarang. Saat pesanan datang, aku menyeruputnya dikit, lalu aku memulai pembicaraan seriusnya.

“Nanti gue nggak bisa ikut kalian buang sampah, gue mau lembur kerja. Pokoknya, kalian siapin saja sampah-sampah dan limbahnya,” Aku menjelaskan.

“Siap, Bos,” Mereka berlima serempak menjawab. Aku mengangguk dan menyeruput kopiku lagi.

“Apa sampah-sampahnya sudah kalian siapkan? Hari ini harus bisa lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya,” Aku menambahkan.

“Sudah ada, Bos. Tapi kalau bos ingin lebih banyak, kita akan memungut atau meminta tukang sampah untuk memberikan kami beberapa bagian dari sampah yang telah diambilnya,” Ayu, anak buahku yang berjenis kelamin perempuan satu-satunya menjawab. 

“Oke, gue bilang kalian sudah siap ya. Jangan buat gue kecewa,”

“Tapi, Bos. Sungainya sudah sangat kotor dan banyak sekali sampah yang mengapung di atasnya. Buat apa lagi lebih banyak?” Jidan, anak buahku yang masuk paling belakangan alias junior bertanya.

“Aduh, lo nanyanya nggak penting deh. Sudah, ikutin saja. Kalau sampah di sungai yang itu sudah banyak, ganti dan cari sungai yang lain lah!” Aku sedikit kesal dengan anak baru ini, pertanyaannya bodoh sekali. Dia terdiam dan mengangguk.

Setengah jam kami kembali berdiskusi tentang cara membawa sampahnya, mendapatkan limbah kotornya, dan lain sebagainya. Kemudian aku menutup pertemuan ini dan pergi bekerja.

Walaupun aku sehari-hari kerjaannya mencemari sungai, tapi aku bekerja di sebuah perusahaan terkenal dan tersohor di negara ini. Aku juga lulusan sarjana di salah satu kampus terbaik di kotaku ini. Aku mendapatkan beasiswa saat masih menduduki bangku SMA, aku juga sering ranking satu di sekolah.

Dua belas jam berlalu, aku masih bekerja. Aku akan lembur sampai jam delapan malam. Di saat seriusnya aku bekerja, tiba-tiba ponselku bordering. Itu anak buahku yang tersenior menelpon, Ridwan. Astaga, dia sangat mengganggu! Aku men-decline telpon darinya, dan lanjut bekerja. Tapi Ridwan kembali menelponku, dia ini kenapa sih? Aku mengambil ponselku, kemudian izin keluar sebentar kepada rekan-rekan kerjaku. Sampai di luar, aku menjawab telponnya.

“Wan, lo ganggu amat sih!” Aku kesal.

“Selamat sore, Bapak Doni,” Astaga, itu bukan suara Ridwan. Aku melihat nama kontaknya untuk memastikan, apakah ini Ridwan atau bukan. Saat aku melihat, nama Ridwan terpampang di nama kontak yang sedang menelponku. Atau apa aku mempunyai nomor “Ridwan lain” di ponselku ini? Setahuku tidak ada.

“Selamat sore, Bapak, apakah suara saya terdengar?” Suara berat laki-laki dari speaker atas terdengar kecil. Astaga, aku harus menjawab apa? Apakah Ridwan dan yang lainnya sedang dalam masalah? Aku kembali menaruh ponsel di telinga kananku.

“Iya, saya mendengar suara bapak. Tapi, Bapak ini siapa?” Aku bertanya.

“Kami dari pihak kepolisian mendapat laporan bahwa Anda adalah bos dari kelima orang yang mencemari sungai-sungai di sekitar. Saya tidak ingin mendengar jawaban dari Anda apakah benar Anda bosnya atau bukan, saya hanya ingin Anda kemari sekarang sebelum anak buah saya menghampiri kantor Anda dan membuat gaduh di sana,” 

Aku panik, kemudian mematikan telepon itu. Aku harus bagaimana sekarang? Tidak terpikirkan apa pun di kepalaku selain kabur. Aku bergegas menaiki lift menuju lobi, kemudian mengambil motorku yang terparkir di sana …

Astaga, ternyata mereka telah menghampiriku daritadi. Motorku yang terparkir sudah dikepung oleh beberapa polisi. Sekarang adalah waktuku untuk berpasrah. Sudah tidak ada saat lagi untuk kabur. Salah satu satpam juga telah menunjuk-nunjukku di parkiran motor sana. Aku sudah terkepung.

Aku berpikir lagi, aku mempunyai kaki untuk kabur. Ah, tapi aku tidak mau meninggalkan motorku. Itu salah satu barangku yang paling berharga. Baiklah kalau begitu, aku akan menyerahkan diri.

Aku jalan menuju parkiran motor.

“Apakah benar ini dengan Doni?” Salah satu polisi bertanya kepadaku. Aku menjawabnya dengan mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka dengan cepat mengambil borgol, lalu memborgolku. Ternyata benar, bangkai yang dibiarkan lama akan tercium juga bau busuknya.

Aku dibawa mereka ke kantor polisi. Sampai di sana, aku melihat kelima anak buahku sedang duduk di kursi besi dengan muka sedikit tegang. Aku tersenyum kepada mereka, tetapi mereka tidak membalasnya. Mereka seperti menyesal telah mengikuti perintahku selama ini.

Aku dimasukkan ke sebuah ruangan interogasi dan disuruh duduk di salah satu kursi di sana. Kemudian di depanku ada polisi duduk di seberang, kami dipisahkan oleh sebuah meja. Polisi itu duduk dengan kaki kiri menaiki kaki satunya. Lalu mulai menghadapku.

“Apa Anda benar bos dari mereka berlima?” Polisi itu bertanya, aku mengangguk. Lalu dia menghela napas panjang.

“Anda tahu betul, bukan? Tindakan Anda sangat merusak lingkungan! Mereka bilang sudah lebih dari lima sungai yang kalian cemari,” polisi itu kembali menghela napas panjang, “apa, apa sebenarnya tujuan dari itu semua?”

“Balas dendam,” 

“Balas dendam? Balas dendam apa maksudmu, hah?” Aku tidak menjawab. Aku tahu jawabanku terdengar aneh. Balas dendam terhadap sungai? Memangnya sungai punya otak apa? Tapi aku tidak peduli, itulah jawabanku. Aliran air yang besar dan panjang itu telah merenggut nyawa kedua anggota keluargaku. 

“Kenapa Anda tidak menjawab, heh? Balas dendam apa?” Aku tidak menjawab kembali. Polisi itu menarik napas panjang.

“HEI! JAWAB PERTANYAANKU! BALAS DENDAM APA?” Suara polisi itu meninggi, dia juga memukul meja. Tapi aku tetap diam.

“ASTAGA, KAU INI!” Polisi itu kesal. Tiba-tiba dari pintu terdengar suara ketukan. Polisi di depanku menuju pintu itu dan membukanya. Lalu dia berbicara dengan orang yang mengetuk pintu. Kemudian polisi itu menoleh ke arahku.

“Hei, bodoh! Ada yang ingin menemuimu di luar,” Aku berdiri, dan berjalan menuju pintu. Saat berada di ambang pintu, polisi itu tadi mendorongku keluar ruangan. 

Sekarang aku sudah berada di luar, ada polisi perempuan yang menyambutku. Dia adalah orang yang berbicara dengan polisi yang menginterogasi ku tadi. Polisi perempuan ini berbicara kepadaku bahwa ada dua orang yang ingin menemuiku, lalu mengantarku menuju dua orang itu. Dua orang itu ternyata Bu Susi dan suaminya. Lalu aku disuruh duduk di kursi yang menghadap mereka, lalu polisi perempuan tadi pergi. Aku dan Bu Susi serta suaminya duduk bersebrangan terpisah dengan kaca yang bolong-bolong tengahnya. Bu Susi menghadapku dengan senyum sedihnya, sedangkan suaminya Bu Susi menghadapku dengan tatapan marah.

“Hei, bocah! Apa yang telah kamu lakukan, heh?” Suaminya Bu Susi bertanya sambil menggedor-gedor kaca di depan kami, amarah dia meluap. Bu Susi menyikut lengannya, menyuruhnya tenang.

“Doni, mengapa kamu melakukan ini semua?” Bu Susi bertanya dengan ramah, dia tersenyum kepadaku—walaupun pasti hatinya juga marah. Aku tetap diam, tidak menjawab.

“HEI, JAWAB!” Itu suara suaminya, dia semakin kesal kepadaku. Bu Susi lagi-lagi menyikut lengannya. 

“Jangan pura-pura tuli, hei!” Dia kembali menggedor kaca di depan kami.

“Pak, jangan seperti itu kepada Doni!” Bu Susi mencubit lengan suaminya.

“Bagaimana kamu bisa mengatakan ‘jangan seperti itu kepada Doni’ kalau dia pura-pura tidak mendengar bagaikan orang tuli dan tidak berbicara bagaikan orang bisu!” Amarah suami Bu Susi semakin meluap.

Aku menarik napas. Baiklah, aku akan menjawab, “Aku melakukan ini semua karena ingin balas dendam,”

“Balas dendam apa maksudmu?” Bu Susi bertanya.

“Balas dendam kepada sungai karena telah merenggut nyawa ibu dan adikku!” Aku berbicara dengan suara yang sedikit tinggi.

“Astaga!” Bu Susi kaget.

“Hei, bodoh! Apa kamu masih bocah SD yang tidak mengerti apa-apa, heh? Sungai tidak punya otak, sungai hanyalah air yang terus berjalan menuju arah yang tidak menentu! Banyak orang-orang yang rugi karena kelakuanmu yang bodoh itu, janganlah bersikap egois!” Suaminya Bu Susi kesal dengan jawabanku.

“Aku tidak peduli, sungai tetap merenggut nyawa ibu dan adikku,”

“Kamu tidak boleh seperti-,“ Omongan Bu Susi terpotong.

“Sekolah doang tinggi, tapi kagak ada otaknya. Eh, lo mikir nggak sih, kalo lo cemarin sungai-sungai, terus jasad ibu dan adik lo ada di dalam situ, jasad mereka bakal busuk kayak hati lo yang nggak jelas itu!” Suami Bu Susi marah. 

Saat mendengar dia mengucapkan ibu dan adik, aku langsung meneteskan air mata. Kata-katanya ada benarnya juga. Kalau jasad mereka di dalam sana, lalu aku beri mereka sampah atau sebagainya yang dapat mencemari, jasad mereka akan busuk. Aku meneteskan air mata lagi. Mengapa aku tidak berpikir sejauh itu? Bodohnya aku.

“Astaga, pak! Kamu jangan marah-marah ke Doni! Dia lagi dalam kesedihannya,” Bu Susi kesal terhadap suaminya.

“Nggak marah gimana, Bu! Dia mungkin membalaskan dendamnya walau itu tindakan bodoh dan nggak jelas, tapi secara tidak langsung, dia juga membunuh jasad ibu dan adiknya sendiri. Cuma orang-orang bodoh yang melakukan hal itu. Dan satu lagi, dia mengotori sungai yang tadinya bersih dan bagus, dia benar-benar harus dihukum karena hal itu,” Suaminya Bu Susi berbicara.

“Tapi tetap saja, bapak ti-,“ 

“Tidak, bu,” Aku memotong kalimat Bu Susi, “aku sekarang mengaku kalau salah dan tindakanku mencemari lingkungan sangatlah bodoh,”

“Baru sekarang, heh?” Suaminya Bu Susi meledek.

“Maafkan aku, pak, bu. Aku akan mengakui kesalahanku dan menyerahkan diri kepada polisi. Selamat tinggal,” Aku berdiri, kemudian berjalan kembali menuju ruang interogasi.

“Eh, Doni. Tunggu,” Aku mengabaikan kalimat Bu Susi, dan tetap berjalan.

Aku kembali masuk ke ruang interogasi, di dalamnya masih ada polisi yang tadi.

“Sudah selesai pertemuanmu dengan dua orang itu, heh?” Polisi itu berbicara saat aku ingin menutup pintu. Aku menoleh polisi itu dan tersenyum.

“Eh, kau menangis?” Polisi itu melihatku dan tertawa, “apa pula kau ini? Pakai nangis segala, dasar cemen!”

Aku mengelap air mataku dan duduk dihadapan polisi itu. “Baik, pak. Aku akan mengakui semuanya dan aku akan bersedia menghadapi hukuman yang akan kudapat,”

***

Aku melalui sidang, kemudian ditetapkan hukuman-hukuman kepadaku, yaitu:

  1. Dipenjara paling cepat tiga tahun.
  2. Ikut kerja bakti membersihkan sungai-sungai atau sebagainya seumur hidup.
  3. Mendemonstrasikan kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan seumur hidup dengan segala cara.

***

Tiga tahun berselang, aku akhirnya bebas dari penjara. Sekarang tujuanku adalah pulang, tapi sebelum itu aku disuruh untuk membersihkan sungai di dekat rumahku dulu. 

Sampai di sungai, sungai ini sekarang sudah terlihat bebas dari sampah-sampah. Tapi air jernihnya sudah hilang, sekarang kumuh. Ya, semua itu karena ulahku. Aku mulai membersihkan sungainya, sampah-sampah satu, dua lewat di depanku. Saat aku sedang asyik membershkan sungai, tiba-tiba suara air terdengar kencang dari hulu.

BYUR!

Astaga! Aku tidak sempat untuk kabur, arus sungai itu membawaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, hanya bisa pasrah. Mungkin nasibku sama seperti ibu dan adik. Aku menghindari bebatuan. Sreett! Kakiku tergores ranting kayu, kemudian mengeluarkan darah. Aduh. Ini sakit. Tiba-tiba ada tali dilempar ke arahku, tali itu jatuh di mukaku.

“Hei, berpeganganlah dengan tali itu!” Suara laki-laki terdengar. Astaga, ada yang ingin menyelamatkanku. Aku langsung berpegangan erat kepada tali itu, kemudian tali itu ditarik kencang sampai aku menuju daratan. Huh, ternyata aku selamat.

“Terima kasih atas bantuannya,” Aku mulai duduk, bajuku jadi berat sekali karena basah.

“Kakak? Iya, ini kakak! IBU, ADA KAKAK!” Kakak? Aku bingung, kemudian aku menoleh ke mukanya. Astaga, itu benar. Muka itu mirip adikku—atau malah benar adikku—tapi versi besar. 

Lalu ada seorang ibu-ibu tua datang menuju kami berdua.

“Kakak?” Astaga, aku melihat muka itu. Itu … itu muka ibuku yang sudah bertambah keriput dari lima belas tahun lalu. Mereka masih hidup! Keajaiban apa ini? Aku tersenyum senang.

“IBU!” Aku berdiri dan memeluknya dengan erat, lalu pelukanku dibalas.

“Astaga, kalian masih hidup?” Ibu melepas pelukanku, aku sekarang dapat melihat muka mereka berdua lagi. Kemudian pertanyaanku dibalas senyuman oleh ibu itu. Eh, bukan “ibu itu”. Maksudku ibuku. Adik—yang sudah besar—tertawa mendengar pertanyaanku. Tawa itu beda sekali daripada lima belas tahun lalu. Aku meneteskan air mata karena terharu. Astaga, sungai, ternyata kau adalah sebuah keajaiban alam dari Yang Maha Pencipta. Aku cinta sungai (lagi).