Kamp Konsentrasi

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Kali ini disasterchannel.co mendapat kiriman tulisan dari Leonardo. Ia  adalah salah satu penulis yang mengikuti lomba “Cerita Perempuan Hebat Menghadapi Bencana” yang diadakan oleh disasterchannel.co pada Maret lalu. Simak kisah menginspirasi dari Pradikta  dalam tulisan berikut:   

20 November 2000, hari paling membahagiakan bagi Adella, seorang perempuan berusia 28 tahun yang menikah dengan Hewitt, seorang HRD di perusahaan swasta terkemuka di Indonesia. Sejak menjalin hubungan asmara, Adella tidak akan mengira bahwa hari paling membahagiakan itu sekaligus akan menjadi awal bencana yang harus ia hadapi sepanjang hidupnya. Hanya satu yang ia yakini, bahwa hubungan yang dilandasi dengan cinta, pasti akan membawa kebahagiaan untuk selamanya.

Sebenarnya, Hewitt bukanlah cinta pertama bagi Adella. Ia sudah pernah menjalin hubungan asmara dengan berbagai pria lainnya. Namun, semuanya terhalang oleh sebuah kata yang bernama “restu”. “Pernikahan bukan hanya menyatukan dua pribadi, namun juga dua keluarga”, begitu pepatah umum yang banyak dianut masyarakat Indonesia termasuk juga orang tua Adella. Mereka tidak sudi memberikan restu kepada setiap laki-laki yang tidak  satu agama maupun suku dengan Adella. “Pasangan yang seagama dan sesuku saja belum tentu rukun, apalagi kalau kamu punya pasangan yang berbeda agama dan suku”, petuah orang tua Adella kepada anak putrinya itu. Mereka tidak tahu, bahwa petuah ini nantinya akan menjadi dosa dan kesalahan terbesar terhadap Adella.

Sejak menikah, Adella kerap kali menerima omongan-omongan tidak sedap dari keluarga Hewitt. Mereka menuduh jikalau Adella yang merupakan seorang guru SD hanya menumpang hidup kepada Hewitt yang sudah sangat mapan. Namun, Adella tidak pernah ambil pusing terhadap omongan-omongan miring tersebut. “Risiko pernikahan”, katanya. 

Hingga tibalah saatnya Adella untuk melahirkan anaknya. Oleh karena sifatnya yang ramah dan penyayang kepada murid-muridnya, banyak sekali orang tua murid yang menyumbang baik untuk proses kelahiran tersebut dan perawatannya. Ada dari mereka yang menyumbang biaya persalinan, mendonasikan kereta, pakaian, tempat tidur bayi dan sebagainya. Seorang yang hanya merupakan guru SD itu ternyata berhasil mencukupi seluruh kebutuhan anaknya. Lalu, kemanakah gaji suaminya yang mapan itu jika semuanya sudah terpenuhi? Ia lebih memilih mengirimkan kepada ibunya di kampung karena banyak saudara-saudaranya yang juga berbuat demikian.  

Tibalah pada saatnya anak ini harus bersekolah. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas perkembangan akademis anaknya, Adella menyisihkan sebagian dari gajinya setiap bulan untuk membayar biaya asuransi pendidikan. Namun, asuransi tersebut tidak dibuat atas namanya. Ia mengikuti saran sales asuransi bahwa biasanya laki-lakilah yang lebih dahulu tiada dibandingkan perempuan, sehingga asumsinya klaim asuransi akan didapatkan lebih cepat dan mudah. Sehingga, nama suaminya itulah yang dicantumkan di asuransi tersebut walau ia yang setiap bulan membayarnya. 

Di tengah perjalanan hidup berkeluarga, Hewitt dipecat sebagai HRD karena tidak menunjukkan sikap seorang pekerja yang baik. Ia tidak mengikuti saran istrinya untuk tidak terlalu sering mengambil cuti tambahan. Alhasil, seorang mapan yang menampung istrinya itu harus menganggur beberapa bulan.

Sebagai seorang istri yang baik, Adella sangat sedih melihat suaminya tidak memiliki pekerjaan. Maka dari itu, ia mengontak salah satu orang tua murid yang suaminya memiliki perusahaan untuk meminta agar Hewitt dapat bekerja di sana. Permintaan Adella ini dikabulkan oleh suami orang tua murid Adella. Akhirnya, bekerjalah Hewitt di sana sebagai seorang HRD. Walau telah berbuat demikian, omongan-omongan miring tetap dilontarkan kepada Adella oleh keluarga Hewitt tanpa adanya pembelaan dari sang suami sedikitpun.

Namun, lagi-lagi Hewitt dipecat karena tidak menunjukkan itikad baik dalam bekerja. Berbagai pekerjaan tidak dibuatnya dengan baik sesuai dengan visi-misi perusahaan. Kondisi ini membuat Hewitt membanting setir menjadi seorang guru mengikuti jejak istrinya. Walau telah 9 tahun berprofesi sebagai seorang guru, ia masih berstatus sebagai seorang guru honorer dengan gaji yang hanya Rp1.000.000,00 per bulan. 

Akan tetapi, Hewitt justru tidak pernah menunjukkan sikap sebagai seorang kepala keluarga yang bijaksana. Ia malah kerap kali menuduh istrinya berselingkuh dengan pria lain. Padahal, ia sendirilah yang pernah berselingkuh dengan asisten rumah tangga. Ia juga kerap kali melakukan kekerasan fisik terhadap Adella baik dengan memukul, menjambak, dan menghancurkan berbagai perabotan rumah tangga yang dibeli dengan uang Adella. Bahkan, hingga anaknya lulus SMA pun ia tidak bersedia untuk mengurusi asuransi anaknya sehingga hingga saat ini belum juga cair.

Adella yang kerap kali sudah tidak tahan dengan sikap suaminya ini, selalu mengurungkan niat untuk bercerai. Kondisi kesehatan mental dan perkembangan anaknyalah yang ia khawatirkan akan terganggu apabila harus tumbuh tanpa figur seorang ayah. Akhirnya, ia tetap mempertahankan pernikahannya dengan Hewitt walaupun sangat menyakiti hatinya.Ketabahan hati dan batin Adella ini berbuah manis ketika anaknya lulus dari fakultas kedokteran salah satu universitas negeri terkemuka di Indonesia. Ia lulus dengan predikat summa cum laude. Saat perayaan kelulusannya, Adella menempati tempat duduk di barisan paling depan sebagai bentuk apresiasi bagi orang tua yang berhasil mendidik anaknya. Kesuksesan ini ia rayakan sebagai bentuk pembuktian kepada keluarga suaminya yang kerap kali mempergunjingkannya. Seorang yang hanya berprofesi sebagai guru SD ternyata dapat mengantar anaknya pada kesuksesan. Selain itu, hal yang paling membanggakan adalah bahwa Adella yang ‘menumpang hidup’ kini justru malah menampung suaminya yang gajinya bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.

Photo: voaindonesia.com