Kalian Harus Sadar Bahwa Ancaman Gempabumi Di Pulau Jawa Itu Nyata

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Apapun yang terjadi di Pulau Jawa pasti amat sangat menjadi perhatian. Berbicara apapun tentang Jawa selalu menjadi sexy untuk terus dikulik, salah satunya berbicara mengenai ancaman gempa. Sebab di pulau ini terdapat banyak sekali penduduk dan banyak sekali infrastruktur yang berharga yang sangat berpengaruh pada nilai risiko bencana.

Namun ternyata, beberapa tempat berdirinya pemukiman dan infrastruktur terdapat ancaman gempabumi. Tektonik regional wilayah Jawa dikontrol oleh tektonik tunjaman selatan Jawa. Akibat tunjaman tersebut terbentuk struktur-struktur geologi regional di wilayah daratan Jawa. Struktur tersebut dapat diamati di daratan Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, di antaranya Sesar Banten, Sesar Cimandiri, Sesar Citarik, Sesar Baribis, Sesar Citanduy, Sesar Bumiayu, Sesar Kebumen – Semarang – Jepara, Sesar Lasem, Sesar Rawapening, Sesar Opak, Sesar Pacitan, Sesar Wonogiri, Sesar Pasuruan, dan Sesar Jember.

Kegempaan regional wilayah Jawa dapat dibagi atas dua kelompok kegempaan, yakni kegempaan lajur tunjaman selatan Jawa dan kegempaan lajur sesar aktif Jawa. Gempa bumi lajur tunjaman Jawa dijumpai berkedalaman dangkal hingga dalam (0 – 400 km). Gempa bumi di lajur tunjaman ini umumnya tercatat berkekuatan lebuh dari 4 SR. Gempa bumi berkekuatan besar di wilayah Jawa ini dapat mencapai 8,5 SR, terutama di Jawa bagian barat, sedangkan yang berkekuatan 5 – 6 SR sering terjadi di wilayah Jawa bagian selatan (NEIC, USGS, 2006). 

Wilayah Jawa ini merupakan daerah rawan bencana gempa bumi Indonesia No. VI, VII, VIII, dan IX (Puslitbang Geologi, 2004). Gempa bumi lajur tunjaman ini umumnya memperlihatkan mekanisme gempa bumi sesar naik, gempa bumi bermekanisme sesar normal dapat juga terjadi pada lajur ini, terutama pada kedalaman lebih dari 300 km di sebelah utara Jawa. Gempa bumi dengan mekanisme normal tersebut disebabkan oleh proses peregangan (extension) pada lajur di bawah rumpang gempa bumi (seismic gap). 

Gempa bumi berkedalaman dangkal (kurang dari 30 km) yang berpusat pada lajur sesar aktif memperlihatkan mekanisme sesar naik, geser, dan normal. Gempa bumi bermekanisme sesar naik telah terjadi pada lajur Sesar Cimandiri pada peristiwa gempa bumi Gandasoli Sukabumi (1982) dan gempa bumi Cibadak Sukabumi (2000). 

Sesar Baribis, terletak lebih utara. Berpangkal di subang, patahan Baribis merentang sampai bukit Baribis di barat gunung ceremai. Panjangnya 70 kilometer. Gempa bumi Majalengka 1990 bermekanisme sesar naik telah terjadi pada lajur sesar naik Baribis. Pada 1990, sesar ini mengakibatkan gempa yang merobohkan 8000 rumah. 

Gempa bumi bermekanisme sesar mendatar menganan telah terjadi di lajur sesar geser Bumiayu pada peristiwa gempabumi Bumiayu (1995). Patahan Bumiayu, pangkalnya ada di Cilacap, Jawa Tengah, terus memanjang ke Sumedang, Majalengka dan Kuningan di Jawa Barat. Menurut Gede, Sesar-sesar ini pernah mengakibatkan gempa pada 1990, 2001, dan 2003. 

Demikian pula halnya pada peristiwa gempabumi Yogyakarta (2006) yang memperlihatkan mekanisme sesar mendatar mengiri. Belajar dari peristiwa 15 tahun lalu, tepatnya pada 27 Mei 2006 telah terjadi gempabumi berkekuatan 5,9 Skala Richer yang melanda Yogyakarta. Dari data BPBD Bantul, jumlah korban meninggal di wilayah Bantul ada 4143 korban tewas, dengan jumlah rumah rusak total 71.763, rusak berat 71.372, rusak ringan 66.359 rumah. Total korban meninggal gempa DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, seperti di Klaten, tercatat mencapai 5.782 orang lebih, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh akibat gempa waktu itu. 

Begitu banyak sejarah gempabumi yang ada di pulau Jawa akibat aktivitas sesar aktif yang melintasi pulau berpenduduk terbanyak di Indonesia ini. Kita harus sadar bahwa ancaman bencana gempabumi itu sangat nyata dan dapat berakibat besar bila kita tidak mengetahui bagaimana cara melakukan tindakan mitigasi yang tepat. Meningkatkan pengetahuan mengenai ancaman gempabumi menjadi salah satu langkah penting dan berarti untuk meningkatkan kapasitas diri. (LS)

Sumber:

Soehaimi, A. (2008). Seismotektonik dan potensi kegempaan wilayah Jawa. Indonesian Journal on Geoscience3(4), 227-240.

https://majalah.tempo.co/read/ilmu-dan-teknologi/138980/kota-di-urat-gempa