Jejak Bencana dalam Nama Kelurahan Duyu

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Kali ini disasterchannel.co hanya ingin bercerita, benar-benar ingin menyajikan sebuah cerita yang kami dapatkan di perjalanan. Tetapi, kami ingin bercerita tanpa menghilangkan makna literasi bencana. Bagi disasterchannel.co, setiap perjalanan memberikan pembelajaran yang amat berharga. Hal ini yang membuat kami ingin memberitahukannya kepada para pembaca sekalian.

Rangkaian perjalanan mengunjungi garis sesar Palu-Koro selalu saja menyajikan hal yang spesial. Salah satu wilayah yang dilintasi oleh sesar Palu-Koro adalah Kelurahan Duyu di Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Bila mengunjungi Kelurahan Duyu, kalian akan disajikan dengan pemandangan indah perbukitan dan Gunung Gawalise. Hampir 60 persen wilayah Kelurahan Duyu didominasi oleh perbukitan dan pegunungan.

Gambar 1. Wilayah Kelurahan Duyu yang didominasi oleh perbukitan, 8 Desember 2020

Menikmati suasana sore cerah berangin di Kelurahan Duyu dengan view Gunung Gawalise sambil mendengar kisah daerah ini serasa menjadi sebuah petualangan yang utuh. Awan tipis dan langit biru menjadi saksi betapa menariknya sejarah Kelurahan Duyu.

Jauh sebelum kata “Duyu” dipakai sebagai nama kelurahan, ada tragedi besar yang pernah terjadi. Konon nama “Duyu” berasal dari kejadian longsor yang penah terjadi pada masa lalu. 

Ahmad Fauzan, Lurah Duyu berkata “Penamaan Kelurahan Duyu tidak lahir dengan sendirinya. Ternyata kearifan lokal masyarakat Kaili yang memberikan nama tempat berdasarkan pada terjadinya peristiwa. Duyu sendiri artinya longsor”

Fauzan menjelaskan bahwa ancaman bencana selain gempa yang ada di kelurahan ini adalah longsor dan banjir. Sejarah penamaan daerah Duyu memang sangat relevan dengan ancaman bencana yang ada di daerah ini. Banyak sekali bekas aliran-aliran sungai kering yang melintasi Kelurahan Duyu. Bila musim hujan tiba, maka sungai-sungai kering itu akan terisi air bahkan terkadang debit airnya sangat tinggi.

“Bulan September sampai Oktober (2020), wilayah Duyu sudah dilanda enam kali banjir, termasuk dari aliran Sungai Sambelewara yang meluap. Waktu itu sungai-sungai semua terisi penuh dan menyebabkan banjir” kata Fauzan. 

Penamaan daerah atau toponimi Kelurahan Duyu sangat menarik untuk ditelisik. Obrolan kembali berlangsung dengan Ramli Beta Lemba, Ketua Adat di Kelurahan Duyu. Pria berumur 73 tahun ini menceritakan dengan detail mengenai latar belakang nama Duyu bisa disandang oleh daerah ini.

Gambar 2. Proses wawancara Ramli Beta Lemba, Ketua Adat Duyu, 11 Desember 2020

Ramli bercerita bahwa pada zaman dahulu, sekitar abad 16 ada sejumlah masyarakat yang meninggali bukit di daerah Duyu. Masyarakat ini sering disebut sebagai orang gunung. Terdapat tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Duyu kala itu, salah satunya adalah arisan. Pada saat mereka menjalankan tradisi arisan, maka seluruh masyarakat akan saling bergotong-royong dan membantu. Bila salah satu anggota arisan tersebut mengadakan pesta, maka masyarakat lain akan membantu dengan membawa hasil panen berupa jagung, ubi dan hasil bumi lainnya, bahkan menyisihkan uang mereka untuk membantu siapa saja yang punya hajat.

Suatu ketika ada sepasang suami istri yang tidak memiliki anak. Pasangan ini berpikir bahwa bila tidak punya keturunan, maka tidak ada alasan untuk menyelenggarakan pesta. Alhasil tidak akan ada yang memberikan mereka hasil panen maupun uang. Padahal pasangan suami istri ini selalu membantu dan memberikan hasil panen dan juga uang kepada setiap orang yang mengadakan pesta.

Kemudian, pada suatu hari pasangan suami istri ini mengadakan arisan dan memberikan pengumuman bahwa mereka akan mengadakan pesta. Hari di saat pesta diselenggarakan pun tiba. Semua masyarakat membantu pesta tersebut dan membawakan hasil bumi mereka untuk pesta ini. Namun tak disangka bahwa ternyata pesta itu bukanlah perta perkawinan manusia. Ternyata pasangan suami istri ini menyandingkan dua ekor kucing yang berjajar di altar pernikahan selayaknya pasangan manusia. Semua orang-orang murka, bahkan Tuhan pun murka terhadap perbuatan pasangan suami istri ini.

“Karena pesta yang dibuat tidak sesuai dengan kepercayaan yang ada, maka tuhan marah. Harusnya manusia yang dipersandingkan, bukan kucing. Olehkarenanya setelah pesta berlangsung terjadi petir, datang angin dan hujan terus-menerus selama beberapa hari, dan kemudian terjadi longsor” kata Ramli. 

“Ada bekas longsor yang bisa dilihat, dikatakan Bukit Bulu Kodi itu yang merupakan sisa aliran longsor yang ada di Duyu. Ini juga berdasarkan cerita dari orang tua” katanya.

Cerita-cerita orang tua mengenai wilayah Duyu di masa lalu seolah menjadi petunjuk untuk memutuskan sesuatu. Seperti halnya menetapkan wilayah pemukiman dan perencaaan pembangunan lainnya. Langit jingga berubah menjadi gelap bertabur bintang. Saat itu juga obrolan mengenai kata “Duyu” diakhiri. Banyak sekali cerita yang ingin dibagikan kepada kalian, khususnya mengenai Sulawesi Tengah. Sebab bulan September ini, kami ingin mengajak semua untuk mengingat bencana 28 September 2018 yang menimpa Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong. (LS)