Hari Ibu dan Tiga Tahun Tsunami Selat Sunda

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- 22 Desember menjadi ajang peringatan hari ibu. Sejarah peringatan Hari Ibu tidak bisa dilepaskan dari penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia III pada 22-27 Juli 1938 di Bandung. Sebab salah satu hasil dari kongres tersebut yaitu memutuskan bahwa pada setiap tanggal 22 Desember akan diperingati sebagai Hari Ibu. Tanggal 22 Desember dipilih sebagai Hari Ibu karena bertepatan dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928. 

Tak ada yang menyaka 90 kemudian setelah kongres perempuan I dilakukan, terjadi bencana yang begitu dahysat dan menewaskan ratusan orang. Peristiwa itu adalah tsunami yang diakibatkan letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali terjadi. 

Sebelumnya, tidak ada tanda-tanda gempa yang memicu tsunami. Ketika itu sekitar pukul 21.27 WIB, gelombang ombak tinggi menerjang pantai di sekitar Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan. Menurut BMKG dan Badan Geologi, tsunami disebabkan karena longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Gelombang setinggi lebih dari 2 meter ini mengguyur lima wilayah di Provinsi Banten hingga Provinsi Lampung. Dampak terparah dirasakan di Kabupaten Pandeglang, Banten. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah korban meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda mencapai 437 orang. Banyaknya korban itu merupakan korban di lima kabupaten yakni Kabupaten Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. Dari lima kabupaten, daerah paling parah terdampak tsunami adalah Kabupaten Pandeglang. Tercatat, korban meninggal dunia di wilayah ini paling banyak, yaitu 296 orang. Selain korban meninggal, tercatat 14.059 orang luka-luka, 16 orang hilang, dan 33.721 mengungsi. 

Tsunami yang terjadi Sabtu (22/12/2018) mengakibatkan sebanyak 2.752 rumah rusak, 92 penginapan dan warung rusak, 510 perahu dan kapal rusak, serta 147 kendaraan rusak. 

Tsunami ini menciptakan kisah haru antara ibu dan anak, salah satunya adalah kisah Neni dan Ibunya.  Disasterchannel.co bertemu dengan Neni pada 5/08/2021 silam. Dari Neni, penulis menyaksikan kisah haru saat ibu dan anak harus terpisahkan akibat bencana tepat pada peringatan hari ibu. Neni harus merelakan ibu tercintanya yang terpisah saat menyelamatkan diri dari hantaman gelombang tsunami.

Pada saat terjadinya tsunami 2018 lalu, Neni sedang tidur di rumahnya yang dekat sekali dengan pantai dan jauh dari pemukiman warga yang lain. Saat itu listrik padam, terdengar oleh Neni dan sumaminya suara bising, timbul pikiran bahwa telah terjadi kebakaran. Kemudian sang suami keluar rumah dan melihat ombak besar datang, segera sang suami membangunkan semua anggota keluarganya. Neni membawa ibunya untuk keluar rumah menyelamatkan diri, sementara suaminya bersama anaknya. Karena telat mengetahui datangnya gelombang tsunami, maka belum sempat melarikan diri ke tempat tinggi, keluarga ini sudah dihantam oleh ombaknya. 

Kenampakkan ombak saat itu berwarna putih seperti salju. Gelombang pertama yang menerjang lebih rendah bila dibandingkan dengan gelombang tsunami yang kedua. Ombaknya Nampak seperti ular sendok (ular cobra) yang sedang ingin memangsa. Ketinggian gelombang tsunami mencapai 7-8 meter, hal ini dikarenakan Neni melihat tiang listrik seperti ditelan oleh ombak bukan ditabrak sebab tiang itu tidak rubuh.

Keadaan saat ia dan keluarganya diterjang gelmbang tsunami diibaratkan seperti boneka yang terkena terjangan air. Neni dan ibunya terpisah saat berusaha menyelamatkan diri mana kala tertimpa balok kayu sebuah bangunan. Sambil berteriak-teriak meminta tolong dan mencari ibunya, Neni berusaha menyelamatkan diri dengan bergelantung dari satu pohon ke pohon lainnya, ia mengibaratkan seperti monyet yang bergelantungan di pohon. Luka parah dialami oleh Neni dibagian kepada dan dada akibat benturan benda tumpul. Semua luka dan rasa sakit akibat benturan tak terasa karena bersikeras ingin menyelamatkan diri. Sesampainya di sawah yang letaknya cukup tinggi, Neni dan keluarga singgah dan mengenakan pakaian yang tertinggal di saung yang berada di tepi sawah, karena baju yang dikenakannya sobek. Darah terus mengalir dari bagian kepala belakangnya, dan baru ditangani ketika relawan datang.

Malam dan terjangan gelombang tsunami seolah menjadi momentum perpisahan antara Neni dan ibunya. 22 Desember sangat membekas baginya untuk memperingati hari ibu sekaligus mengenang hari dimana tsunami memisahkan keduanya. (LS)

Sumber:

https://www.kompas.com/tren/read/2021/12/22/091202565/hari-ini-dalam-sejarah-tsunami-selat-sunda-menewaskan-437-orang?page=all.

https://www.kompas.com/tren/read/2021/12/21/061500865/hari-ibu-22-desember–sejarah-ucapan-dan-link-twibbon-hari-ibu?page=all.

Photo: tirto.id