Cerita Tsunami dalam Kayori

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Sebuah karya sering kali muncul dalam kondisi yang tak terduga. Bahkan di tengah kondisi yang menyedihkan, terkadang justru menghasilkan karya besar yang fenomenal. Seperti Für Elise karya Ludwig van Beethoven, karya ini berasal dari curahan hati Beethoven yang menyukai seorang gadis dan gagal mendapatkannya. 

Satu abad berlalu setelah karya fenomenal Beethoven tercipta, bencana terjadi di Sulawesi Tengah. Tepatnya pada tahun 1938, terjadi gempa yang mengakibatkan tsunami melanda Teluk Palu. Berlatar kejadian ini, masyarakat lokal di Kayumalue menciptakan syair yang bercerita mengenai peristiwa tsunami yang terjadi kala itu. 

Goya-goya gontiro, Toka bonga Loli’o. Palu, Tondo, Mamboro, Matoyoma, Kayumalue melantomo. Syair ini dituturkan dalam bahasa suku Kaili yang artinya goyang-goyang di Desa Ganti (Banawa). Yang melihat ke bawah orang Desa Kabonga dan Loli Oge. Palu, Tondo dan Mamboro tenggelam. Tinggal Kayumalue terapung.

Demikian bait-bait dari syair atau kayori suku Kaili ini. Kayori adalah sastra lisan Suku Kaili di Sulawesi Tengah yang berisi syair-syair kuno tentang masa lalu yang sarat dengan makna, termasuk di dalamnya soal bencana alam. Kayori atau kata-kata yang diucapkan dengan nada suara dan karakter tertentu merupakan hal yang benar terjadi.

Dalam syair itu, disebutkan bencana itu menyebabkan Mamboro, berada di dalam laut. Korban berjatuhan dan rumah-rumah warga hancur. Daerah Tanjung Mamboro, mengalami penurunan tanah, begitupun di Tondo juga mengalami hal sama sehingga disebut Kaombona dalam dialek Kaili Doi berarti tempat yang runtuh. Lokasi ini sekarang dikenal sebagai Tana Runtu berada di Kelurahan Talise, Palu yang berada di atas sesar Palu-Koro. Sebelah barat Desa Ganti, di Donggala, hanya bisa melihat guncangan gempa antara Kabonga dan Loli Oge. Pada saat itu, Palu, Tondo dan Mamboro, terkena dampak gempa kecuali Kayumalue. Syair ini menuturkan bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 1938.

Gambar 1. Wilayah rawan tsunami di Desa Kayumalue Pajeko, 14 Desember 2020

Syair ini menunjukkan rasa solidaritas kekeluargaan tanpa menyebutkan kampung-kampung lain yang terdampak gempa dan menurut penuturan dalam buku yang dituliskan oleh masyarakat Kayumalue peristiwa ini dapat berulang. Sementara itu beberapa cerita hasil wawancara yang dilakukan di beberapa desa yang ada di Lembah Palu, mulai dari Kulawi (Kabupaten Sigi), Kota Palu sampai dengan Pantai barat (Kabupaten Donggala), narasumber mengaku pernah diceritakan oleh nenek mereka bahwa pernah terjadi gempa besar dan tsunami yang dalam Bahasa Kaili Rai (bombatalu) saat itu goncangan gempa terasa sampai dengan 3 bulan bahkan pada saat memasak, belanga hanya bisa digantung pada tiang kayu, agar tidak terbalik karena guncangan gempa.

Gambar 2. Wilayah Tondo yang dijadikan sebagai tempat dibangunnya hunian tetap (huntap), 25 Februari 2020

Artinya, peristiwa gempa bumi di Teluk Palu pada tahun 1938 tepatnya kejadian di Mamboro yang menurut masyarakat berada dalam laut sehingga banyak memakan korban dan rumah-rumah hancur. Sementara lokasi di sekitar lorong jalan perikanan yang ada di Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Utara saat ini, waktu kejadian gempa tersebut mengalami penurunan tanah.

Sayangnya, kayori kini perlahan menghilang ditelan zaman, dan hanya segelintir orang saja yang masih dapat melantunkannya. Jejak-jejak bencana tidak hanya ditemukan lewat syair-syair kayori– tapi juga penamaan sejumlah nama tempat atau toponimi. Akantetapi penamaan tempat ini tak pernah dijadikan peringatan oleh penduduk setempat maupun perencanaan pembangunan oleh pemerintah. Padahal, penamaan nama tempat ini adalah bagian dari usaha para pendahulu dan leluhur untuk menjadi peringatan pada generasi yang akan datang.(LS)

Sumber:

Lien dkk. Sulawesi Tengah: Memori dan Pengetahuan Lokal tentang Bencana. Yayasan Skala Indonesia. 2021