Bude Irma

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Tulisan ini datang dari Alyanisa Lintang Sekar Langit, ia adalah pemenang juara 3 lomba menulis bertema “Cerita Perempuan Hebat Menghadapi Bencana” yang diadakan oleh disasterchannel.co. Mari kita simak cerita Lintang yang menggugah hati dengan lika-liku kehidupan pasca dilanda bencana dalam tulisan berikut:

Harinya selalu dibuka dengan alunan adzan subuh sebagai alarm. Dengan sesaknya udara yang ada ia menimba air yang berada di sumur sebelum kemudian merebusnya. Suaminya akan marah besar apabila ia terbangun tanpa secangkir kopi yang tersaji. Maklum, suaminya itu telah terbiasa untuk terbangun dengan secangkir kopi hangat di sisinya semenjak ia mengenal dunia kerja. Layaknya sebuah kebiasaan yang tak pernah hilang.

Satu persatu anggota keluarganya mulai terbangun, dikawal dengan Sang Suami yang harus berangkat ke masjid dan Sang Anak yang dengan terkantuk-kantuk mengikuti jejak Ayahnya. Sang Ibu sendiri harus cepat-cepat melaksanakan sholat Subuh karena setelahnya harus memasak, setidaknya untuk sarapan keluarga. Dengan harap-harap cemas ia membuka baskom tempat ia biasa menaruh berasnya. Semalam mereka terpaksa makan malam dengan nasi yang sudah menguning dan keras. Lauk yang dimakan pun seadanya. Dalam keadaan seperti ini, semuanya harus ditekan sampai keriting agar dapat selamat dan bertahan hidup. Bersyukurlah ia semalam ada seorang tetangga yang memberikannya seikat bayam. Maka tentu langsung dimasaknya bayam tersebut dengan bumbu yang ala kadarnya. 

Sepulangnya ayah beranak itu dari masjid, maka bergegaslah ia menyapu halaman rumah agar tidak dicap sebagai seorang yang pemalas karena halaman rumahnya yang kotor dan berantakan. Pada saat-saat seperti inilah biasanya para ibu dan bapak keluar dari rumahnya untuk melaksanakan kegiatan rutin yang tak jauh berbeda dari apa yang ia lakukan. Ia akan menemukan beberapa orang yang tersenyum kepadanya seraya menyapa ketika mereka melewati depan rumahnya. Dan pada saat seperti ini pula, ia harus sudah berdandan rapi selayaknya telah mandi agar tidak dicap memalukan keluarga akibat paras yang buruk rupa.

Sarapan pagi bersama adalah sebuah kegiatan yang wajib dilakukan. Sekalipun yang dimakan hanyalah nasi dan garam, atau dengan sebotol kecap jika memiliki rezeki berlebih. Sekali lagi, dalam keadaan seperti ini semuanya harus ditekan sampai keriting agar dapat selamat dan bertahan hidup. Biasanya sarapan pagi akan diiringi dengan alunan musik dari radio kesayangan sang Suami, atau celotehan lucu dari kartun kesukaan sang Anak. Namun rasanya suara latar seperti itu bukanlah prioritas untuk saat ini karena akan memakan biaya listrik tambahan.

“Bu, kelasku mau mengadakan perpisahan dengan Bu Guru,” ucap sang Anak yang sontak membuatnya tertegun. Ia sudah menduga saat-saat ini akan terjadi, maka ia sudah menyiapkan dana darurat. Namun yang menjadi permasalahan adalah, apakah mencukupi?

“Berapa biayanya, nak?” ucapnya setengah getir. Matanya menatap wajah sang Suami yang masih sibuk mengunyah, memilih untuk menjadi tuli dan tak mau tahu.

“Dua puluh ribu, bu.”

Tuhan. Seketika jantungnya merosot. Dana darurat yang ia siapkan adalah sebanyak Rp70.000. Dana itu ia kumpulkan selama kurang lebih tiga bulan, seminggu setelah erupsi gunung Merapi terjadi. Hatinya berada di antara siap dan tidak siap melepas uang sebanyak itu hanya untuk biaya perpisahan dengan guru sekolah yang bahkan tidak memberikan santunan kepada mereka. Bukannya ia mau menjadi pamrih, namun jika boleh jujur ia juga enggan menjadi tak mujur seperti ini.

“Yasudah, nanti ibu ambilkan, ya.”

“Untuk hari ini, bu.”

“Untuk hari ini?” Ia mengulang kembali pernyataan sang Anak menjadi pertanyaan.  Dapat dikatakan bahwa inilah risiko terlalu nekat menyekolahkan anak di sekolah terbaik di kota. Peraturan pemerintah yang menggratiskan seluruh program pembelajaran sekolah membuatnya mantap dan yakin untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik. Namun siapa sangka, yang membuat mahal justru adalah gaya hidup dan gengsi yang terlalu tinggi. Sebetulnya semuanya baik-baik saja pada awalnya. Ia dapat mengikuti seluruh rangkaian acara tambahan yang tidak penting itu. Namun lambat laun ia cukup keteteran juga. Terlebih lagi sikap para ibu disana yang menganggapnya tak lain adalah buruh harian.

Setelah suami dan anaknya pergi meninggalkan rumah, ia melanjutkan serangkaian acara membereskan rumah yang tiap hari selalu ia lakoni tanpa terkecuali. Bahkan jika ia sakit dan super sibuk sekalipun. Bukan ia yang memutuskan untuk hidup dalam sistem sosial yang seperti ini, namun ia juga tak memiliki kuasa untuk mengubahnya.

Jika sudah tidak ada kerjaan biasanya ia akan melipir ke sebuah ruangan sederhana yang berada di pojok ruang tamu. Sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan jahit yang telah menjadi penopang ekonomi keluarga sepanjang masa pernikahannya. Ia kemudian terduduk di atas kursi plastik berwarna hijau yang ia simpan rapi di kolong meja jahitnya. Jika ini adalah sebuah film komedi romantis, maka kehadirannya patut dihargai sebagai belahan jiwa yang akan ia selalu ia cintai untuk sisa hidupnya. Seluruh hitungan mengenai nominal yang dihabiskan mereka berdua untuk bersama, hingga seluruh keluh dan kisah yang terbagi. Jelas kursi hijau plastik itu memenangkan juara bertahan 1 pada kategori menemani sepanjang hayat. Bahkan jika ada yang bertanya kapan sang majikan bekerja hingga larut malam kemudian menghabiskan sisa waktunya hingga fajar terbit untuk menangis, kursi plastik hijau itu akan dapat memberi tahu dengan jelas dan rangkap. 

Sayang, usianya yang semakin senja membuatnya tak bisa berlama-lama terduduk di atas kursi keras tanpa sandaran itu. Saat ini ia hanya mampu bertahan selama kurang lebihnya 45 menit sebelum akhirnya harus beralih ke kursi yang lebih empuk dengan sandaran yang berukuran setinggi kepalanya. Memang benar usia tak bisa berbohong. Seolah menua bersama, kursi plastik hijau itu juga catnya sudah mengelupas menjadi putih pucat dengan kulitnya yang sudah tak lagi mulus akibat terkena terlalu banyak goresan. Jangan lupakan pula kucing kampung berwarna oranye yang biasa datang menghampiri pada tengah hari untuk menggosokkan giginya yang tajam nan imut pada kaki-kaki kursi.

Namun dapat diakui Bude Irma adalah wanita yang sangat tangguh dan persisten. Terbukti dari seluruh pasang surut bencana dunia, ia tetap kembali pada sebuah ruangan di pojok rumahnya untuk terduduk di depan meja jahit yang telah berjasa untuk menjadi penopang ekonomi keluarga yang tak bisa dibilang sejahtera itu. Mereka adalah sebuah trio ‘tahan banting’. Meja jahit yang sudah diperbaiki beratus kali hingga noda oli dapat ditemukan pada seluruh mesinnya, kursi hijau plastik yang sudah usang, dan sang majikan yang juga tak kalah usangnya. Bersama mereka tertatih-tatih untuk menjadi satu-satunya jantung dari perekonomian keluarga beranggotakan tiga orang itu.

Hari ini jadwal Bude Irma adalah membuka buku catatannya yang ia simpan rapi di laci meja untuk mengetahui berapa banyak pengeluaran yang telah ia habiskan dan berapa banyak pula sisa uang yang dapat ia belanjakan. Semalam suaminya mengeluhkan nasi yang sudah kuning dan mengeras, hampir tak layak makan. Kemarin malam juga anaknya mengeluhkan baju seragam sekolah yang ukurannya sudah mengecil, entah memang bajunya yang menciut ataukah anaknya yang memang bertambah dewasa. Untuk permasalahan kedua, bersyukurlah ia adalah seorang penjahit. Maka diakalinya agar baju anaknya itu dapat dipakai lagi, setidaknya sampai semester berikutnya tiba. Namun untuk permasalahan yang petama, tak ada jalan lain selain kembali meminjam uang kepada sanak saudara atau kerabat terdekat. Kondisi wilayahnya yang masih ditutupi oleh debu vulkanik dan beberapa akses jalan yang tertutup tak memungkinkannya untuk bepergian jauh. Ia tak bisa selalu mengharapkan bala bantuan kepada pemerintah. Pasokan pangan yang dikabarkan akan datang seminggu sekali pun belum ia dapatkan sejak lima minggu yang lalu.

Dalam catatannya, tertulis bahwa ia sudah meminjam uang kepada beberapa sanak saudara dengan total biaya yang baru dapat ia ganti apabila mendapat orderan jahit oleh tender besar selama dua bulan penuh. Ia tak mungkin berhutang lagi. Tak sampai hati ia untuk terus mengemis layaknya orang yang tak mau mencari usaha. Suaminya yang merupakan supir tembak pun hanya dapat mengandalkan tawaran dari supir-supir truk yang membawa angkutan pasir hasil erupsi di lereng gunung. Seluruh biaya telah ia tekan habis-habisan. Tak ada lagi berkumpul dengan para ibu tetangga untuk bergosip sembari memakan ubi rebus yang dibelinya dari warung Bu Sumi, atau para suami untuk berkumpul hingga adzan subuh berkumandang untuk bermain catur bersama sembari menghabiskan batang demi batang nikotin. Benaknya sudah tidak lagi memikirkan apa yang akan diperbuat oleh sang tokoh penjahat dalam sinetron kesayangannya di salah satu saluran televisi malam nanti. Ia bahkan kini menerima pekerjaan serabutan seperti mencabuti rumput atau mengumpulkan ranting-ranting kering untuk kayu bakar.

Seketika ia teringat akan ucapan sang kakak ipar ketika ia sedang berkunjung untuk meminjam uang tempo hari lalu.

“Kenapa tidak kamu jual saja mesin jahitmu itu?” tanyanya pada tengah hari yang panas. Kala itu Bude Irma hanya dapat tersenyum getir sembari menunduk.

Tentu, gagasan itu sempat terlintas di benaknya untuk beberapa hari, namun dengan segera ia kubur dalam-dalam sebelum menjadi petaka akibat terealisasikan. Mesin jahit itu adalah satu-satunya harta berharga yang ditinggalkan oleh almarhumah Ibundanya. Mesin jahit itu telah hidup lebih lama dari usianya saat ini. Mesin jahit itu memiliki kenangan yang lebih banyak daripada sang kursi plastik hijau. Jika kursi plastik hijau adalah pasangan hidupnya, maka mesin jahit adalah biyungnya. 

Bude Irma merogoh ponsel jadul kesayangannya. Ponsel layar sentuh sederhana yang hanya mampu menunjang penggunaan aplikasi WhatsApp dan galeri untuk jumlah foto yang terbatas akibat minimnya ukuran ruang penyimpanan. Harapannya setiap hari selalu sama, semoga saja ada yang berminat untuk dijahitkan baju. Bukan tak sadar diri, ia paham betul mengenai kondisi ekonomi-sosial tetangganya yang lain pasca dilanda erupsi gunung Merapi. Mustahil rasanya jika masih ada yang ingin dibuatkan baju pada saat-saat seperti ini. Namun apa salahnya berharap bukan?

Penulis: Alyanisa Lintang Sekar Langit