Balaroa dan Toponimi Pertanda Bahaya

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Ketika ingin menulis dengan judul ini, seketika terbersit lagu Marcel Siahaan yang berjudul Firasat, liriknya berbunyi:

Ada makna di balik semua pertanda

Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya 

Firasat disasterchannel.co berkata bahwa tanda bahaya itu sudah muncul sejak lama. Terkadang firasat tanda bahaya ini tidak boleh begitu saja diacuhkan. Sebab firasat tanda bahaya bisa jadi merupakan pengetahuan lokal masyarakat yang terlahir sejak lama dari proses adaptasi masyarakat dengan alam.

Ada makna di balik semua pertanda, lirik ini mengilhami disasterchannel.co untuk mencari tahu makna di balik tanda penamaan daerah. 

Tanda berbentuk sebuah nama diberikan oleh manusia pada sesuatu atau sebuah daerah yang menjadi tempat beraktivitas, daerah yang pernah dilewati ataupun ditinggali. Setiap nama yang diberikan memiliki makna tersendiri, begitu pula nama yang diberikan oleh masyarakat pada beberapa daerah yang ada di Sulawesi Tengah. 

Nama-nama yang melekat ada suatu daerah dapat diperoleh berdasarkan karakteristik tempat, karakteristik biologi, posisi dan kisah yang pernah terjadi. Studi mengenai nama-nama geografis suatu daerah disebut toponimi. Dalam toponimi dipelajari mengapa suatu unsur dinamakan demikian oleh masyarakat, bagaimana mencatat nama yang diucapkan oleh penduduk setempat menjadi tulisan dalam bahasa nasional, karakter tulisan yang dipakai untuk foonetik suatu nama.

Perbendaharaan masyarakat Kaili yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah, menamai daerah berdasarkan kejadian yang pernah dialami, sehingga menjadi memori bahasa. Gambaran mengenai tanda bahaya atau biasa kita kenal dengan ancaman bencana juga tergambar dalam memori bahasa penamaan tempat, salah satunya penamaan tempat di sekitar Kelurahan Balaroa.

Balaroa adalah nama untuk salah satu daerah yang berada di wilayah Palu Barat. Berdasarkan data BPS 2019, daerah ini memiliki luas daerah ini mencapai 2,38 km2, dengan jumlah penduduk 13.448 jiwa dengan jumlah laki-laki 6.789, perempuan 6.659 balita  802, anak-anak 2.498 lansia 911 jiwa. Wilayah ini dilintasi oleh sungai Manonda. 

Gambar 1. Area likuefaksi di Kelurahan Balaroa, 25 Februari 2020

Nama Balaroa sendiri diambil dari nama pohon yang memiliki khasiat bagi kesehatan. Ada pula yang mengartikan kata Balaroa yang berasal dari kata Bala dan Roa, kata Bala artinya kampung, Roa berarti ramai, secara utuh Balaroa dapat diartikan sebagai kampung yang ramai. Dahulu daerah Balaroa terkenal dengan istilah tagari lonjo

Dulu tagari lonjo menjadi daerah yang dihindari oleh warga Gunung Marawola Barat ketika ingin pergi ke Pasar Inpres Manonda. Sebab bila gerobak-gerobak mereka melalui daerah ini, rodanya akan tenggelam di tanah yang lunak dan berair. Mereka rela menempuh jarak lebih jauh untuk menghindari marabahaya yang diyakininya.

Memori masa lalu tentang Balaroa (tagari lonjo) menunjukkan tempat bercirikan rawa-rawa atau sumber air. Perbendaharaan kata masyarakat Kaili zaman dahulu menyebut peristiwa musibah dari seseorang atau benda yang tenggelam, atau jatuh ke air yang dalam, atau ke dalam lumpur, dinamai nalonjo yang berasal dari kata lonjo, lonjo dapat diartikan pula tertanam dalam lumpur.

Gambar 2. Area Hunian Tetap (huntap) di Kelurahan Balaroa, 24 Februari 2020

Sayangnya, cerita tentang tagari lonjo memudar seiring berdirinya Perumahan Nasional (Perumnas) Balaroa sekitar tahun 1980. Pada gempa 28 September 2018 daerah Balaroa mengalami likuefaksi. Kurang lebih terdapat 1400 rumah rusak dan tenggelam ke dalam tanah. Tanda bahaya yang terabadikan dalam toponimi tagari lonjo yang memudar menyebabkan dampak bencana yang begitu besar. 

Tagari lonjo adalah salah satu toponimi tanda bahaya untuk tempat yang tak layak ditinggali. Bila tidak mengabaikan tanda bahaya dalam toponimi daerah yang ada, maka kerugian di masa depan dapat berkurang bahkan bisa nyaris tidak ada. (LS)

Sumber:

Lien dkk. Sulawesi Tengah: Memori dan Pengetahuan Lokal tentang Bencana. Yayasan Skala Indonesia. 2021