Potret Penyintas Gempa Cianjur Kala Bulan Ramadan

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Fajar menyingsing membersamai perjalanan tim skala indonesia menuju lokasi terdampak gempabumi di Kabupaten Cianjur, tepatnya di Kecamatan Cugenang. Kali ini Yayasan Skala Indonesia dan disasterchannel.co bekerjasama dengan LPBI NU Jawa Barat selaku organisasi yang berfokus di bidang kebencanaan, yang turut melakukan program recovery dan rekonstruksi pasca gempa November 2022 silam. Maksud kedatangan kami kali ini adalah untuk melakukan observasi lapangan terkait kemajuan pemulihan kondisi masyarakat pasca gempa sekaligus menyerahkan bantuan berupa alat tulis, perlengkapan sekolah dan selimut untuk warga di pengungsian.

Lebih kurang selama tiga jam perjalanan tim Yayasan Skala Indonesia tempuh dari depok untuk sampai ke Cianjur melewati akses toll Jagorawi, wilayah Puncak Bogor, hingga pelosok perkampungan di wilayah Kec. Cugenang yang konturnya berbukit-bukit. Sepanjang perjalanan melewati perkampungan di wilayah ini, tim melewati banyak titik-titik yang mengalami kerusakan parah pasca gempa. hanya terlihat sisa puing bangunan yang hancur dan pengungsian yang kontras dapat dibedakan dari bangunan lainnya. Hunian sementara yang ditempati warga terdampak gempa di Cianjur untuk bertahan pasca gempa, didominasi oleh bangunan berstruktur bambu yang dinding-dinding dan atapnya terbuat dari terpal berwarna biru.

Wilayah Kecamatan Cugenang yang akan menjadi lokasi penyerahan bantuan sekaligus pemantauan kondisi masyarakat pasca gempa terletak di Desa Cibulakan, Kampung Babakan Limbangan. Di kampung ini, warga mendiami lokasi pengungsian yang berdiri di atas tanah milik salah seorang warga asal Jakarta. Letak pengungsian hanya berjarak beberapa ratus meter dan dipisahkan oleh jalan lokal dari lokasi bangunan asli milik warga yang hancur pasca gempa November tahun lalu. Setidaknya terdapat puluhan bangunan pengungsian dari terpal berwarna biru yang berdiri dan ditempati warga selagi menunggu pembangunan hunian tetap. 

Area pengungsian ini memiliki beberapa fasilitas yang cukup memadai, seperti tempat ibadah, dapur umum, dan kamar mandi umum yang diperuntukan untuk kebutuhan warga pengungsi. karena material hunian sementara yang terbuat dari terpal, akan sangat tidak nyaman bila hujan datang. Rasa dingin, lembab dan becek terkadang dikeluhkan warga, oleh sebab itu LPBI NU Jawa Barat  menyarankan untuk kami untuk memberikan bantuan berupa selimut.

Sesampainya di lokasi pengungsian, kami melakukan proses pemberian bantuan. Atas kerjasama dengan LPBI NU Jawa Barat  sebagai penghubung antara warga pengungsi dan tim Yayasan Skala Indonesia, banyak penyintas yang hadir dan didominasi oleh perempuan. Mereka sangat antusias menerima bantuan yang telah kami berikan. 

Setelah acara penyerahan bantuan selesai dilakukan, tim Yayasan Skala Indonesia berkeliling pengungsian dan bercengkrama dengan beberapa warga pengungsian. Sebagian warga menuturkan, dapur umum yang tersedia sesaat setelah terjadi bencana sampai beberapa bulan setelah bencana, masih ramai dengan bantuan logistik dan aktivitas memasak beberapa warga. Namun, saat ini kejadian bencana yang sudah mau memasuki bulan ke-6, dapur umum terlihat lengang dan aktivitasnya tidak seramai beberapa bulan kebelakang. 

memang, fasilitas di pengungsian sudah cukup lengkap. Namun, ada beberapa hal yang nampaknya perlu ditingkatkan seperti, pembagian toilet umum yang ramah gender maupun disabilitas dan penyediaan alat kebersihan seperti sabun pencuci tangan. disarankan pula sebelum hunian tetap dapat dihuni, pergantian terpal pada huntara harus diganti secara berkala. Sebab, semakin lama ditempati, semakin besar gesekan yang ditimbulkan pada permukaan terpal dan membuatnya cepat rusak, bahkan bila hujan airnya bisa merembes. 

Catatan-catatan kami di lapangan setelah melihat pengungsian dan beberapa titik-titik pengungsian. Membuat kami merasakan kalau waktu di Cianjur seperti berjalan sangatlah lambat. Nyaris setengah tahun, warga Cianjur terdampak gempabumi, namun masih harus tinggal di pengungsian berdinding dan beratap terpal yang sewaktu-waktu bisa bocor maupun bolong karena satu dan lain hal. 

Nampaknya catatan penting yang juga dapat berdampak positif bagi warga pengungsi adalah perlu diadakannya aktivitas pengorganisasian warga yang membuat warga untuk dapat terus menumbuhkan dan memupuk harapan pada masa depan yang lebih baik. Sehingga waktu warga menunggu bangunan selesai dikerjakan tidak terasa membosankan, dan juga dapat menghilangkan ketergantungan warga terhadap bantuan yang datang dari luar. Karena memupuk harapan mereka, dengan memberikan kesadaran bahwa yang mampu menyelamatkan mereka dari ancaman bencana yang menimpa adalah diri mereka sendiri merupakan satu hal yang sangat baik dan berdampak panjang.

Penulis: Iqbal Ramadhan

Editor: Lien Sururoh