Melihat Sektor Pariwisata Saat Pandemi COVID-19 Melanda

Sektor pariwisata saat pancemi Covid-19
Ekspedisi Jawadwipa

APAD Indonesia dan Disasterchannel.co mengadakan webinar pada Kamis 25 Februari 2021 bertajuk Disaster Resilience Outlook 2021 Indonesia Tourism, webinar ini diadakan untuk menganalisis dan membangun skenario dalam merancang ketahanan sektor pariwisata saat pandemi. Dalam pembukaan Pengurus APAD Indonesia, Bapak Faisal Djalal menyatakan bahwa sektor pariwisata perlu dibantu dengan melakukan skenario seperti prosesi pindah rumah orang Bugis.

Saat memindahkan rumah, semua barang berbahaya dan rapuh telah dikeluarkan dan diamankan. Proses pindah rumah melibatkan banyak orang yang menjalankan perannya masing-masing. Hal ini perlu diadopsi dalam merancang ketahanan sektor pariwisata dimana kolaborasi adalah kuncinya.

Pariwisata di saat pandemi Covid 19 dengan webinar
Webinar soal pariwisata di saat Covid 19. Foto: Dok. disasterchannel.co

Melihat Sektor Pariwisata Saat Pandemi

Selanjutnya dipaparkan pula mengenai potret pariwisata di Indonesia saat pandemic yang dikemukakan oleh Denon Prawiraatmadja, Ketua INACA. Bapak Denon mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2020 menunjukkan bahwa terjadi penurunan sebesar -3,48%. Penurunan ini juga terjadi karena penanganan pandemic COVID-19. Bila dibandingkan data tiga tahun terakhir, maka sangat terlihat perbedaan penurunan di sector transportasi khususnya pesawat, pada tahun 2018 terdapat 115 juta penumpang, tahun 2019 terdapat 92 juta penumpang dan pada tahun 2020 hanya sebanyak 30 juta penumpang. Angka ini menyebakan hilannya 62 juta penumpang yang mengakibatkan oenurunan jumlah penumpang sebanyak 65%. Hal ini berdampak pada angka pertumbuhan ekonomi nasional dengan penurunan ekonomi dari 5,02% di tahun 2019 menjadi-5,32% di tahun 2020.

Tak berbeda jauh dengan paparan bapak Denon, Maulana Yusran Sekjen PHRI menyampaikan bahwa Pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dan 2020 menurut lapangan usaha (63,66% PDB tahun 2020 berasal dari industri, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan). Lapangan usaha akomodasi dan makan minum turun sebesar minus 10,22% disebabkan karena:

  • Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel minus 39,75%
  • Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara minus 75,03%
  • Tutupnya sejumlah otel dan restoran selama pandemic COVID-19

Bila dilihat, perekonomian Indonesia secara spasial maka akan terlihat bahwa distribusi paling besar ada di pulau jawa dengan persentasi 58,75% namun pertumbuhan ekonomi di pulau ini tetap minus 2,51%. Kejadian paling miris adalah di daerah Bali dan Nusa Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi minus 5,01% hal ini dikarenakan daerah bali dan nusa tenggara sangat bergantung pada sector pariwisata yang mengalami penurunan drastic dengan diadakannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

Kendala sektor pariwisata dalam meningkatkan pasar di masa pandemic COVID-19

  1. Karakteristik sector pariwisata yang bertentangan dengan penanggulangan COVID-19
  2. Sector pariwisata sangat mebutuhkan pergerakan orang
  3. Penanggulangan penyebaran virus corona harus dengan membatasi pergerakan guna menghindari terjadinya kerumunan
  4. Regulasi pen=mbatasan aktivitas masyarakat
  5. PSBB
  6. PPKM
  7. Kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran COVID-19
  8. Perubahan mendadak kebijakan pemerintah
  9. Kebijakan pada saat libur nata; dan tahun baru berlaku mundur dan berdampak cancelation
  10. Biaya travelling dengan transportasi umum, khususnya pesawat
  11. Mahalnya biaya rapid test antigen dan pcr
  12. Masa berlaku rapid test antigen dan pcr untuk melakukan perjalanan dengan transportasi udara berdampak pada penambahan biaya perjalanan
  13. Menurunnya daya beli masyarakat
  14. Pekerja sector formal terkena PHK, dirumahkan dicutikan diluar tanggunan perusahaan
  15. Perubahan pola korporasi dalam melakukan kegiatan kagiatan pertemuan
  16. Pertemuan banyak dilakukan secara virtual tanpa memakai jasa ballroom hotel ataupun ruang pertemuan di restoran

Dalam paparannya bapak maulana juga memberikan beberapa rekomendasi untuk memulihkan sektor pariwisata, di antaranya adalah

  • Pegambilan kebijakan yang dilakukan pemerintah harus disesuaikan dengan karakteristik sector usaham yang diantara kain dibagi menjadi:
  • Leisure: produktifitasnya pada akhir pecan dan hari-hari libur yang ditetapkan pemerintah
  • MICE: produktifitasnya ada di hari kerja
  • Recovery sector usaha pariwisata sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat
  • 3A (akses, Amenitas dan Aktraksi) adalah meruapakan standar pembangunan destinasi pariwisata
  • Inovasi kreatifitas dan kolaborasi dalam mengembangkan produk serta kemampuan untuk menyesuaikan dengan keadaan/kondisi adalah merupakan key success pariwisata
  • Setiap adanya bencana baik alam maupun non alam, sector usaha pariwisata sangat membutuhkan bantuan kebijakan dan relaksasi/stimulus dari pemerintah baik bertahan dan bangkit kembali, sebagai contoh gempa Aceh, Bom Bali, gempa Padang, Gempa Palu, pandemic COVID-19, gempa Sulbar dan lainnya
  • Mayoritas daerah yang ada di Indonesia sangat bergantung dari adanya sector pariwisata baik dalam MICE maupun Leisure.
  • Dampak matinya sector pariwisata akan sangat berpengaruh pada sector UMKM yang erat dengan ekonomi masyarakat disetiap provinsi. Untuk itu, pemerintah seyogyanya juga harus menyesuaikan program recovery pariwisata untuk seluruh provinsi, bukan hanya destinasi super prioritas saja

Rekomendasi INACA terhadap stakeholders industry penerbangan di antaranya adalah:

  1. Pemberlakuan protocol kesehatan terhadap protocol COVID-19 dalam ekosistem penerbangan juga menggunakan referensi organisasi internasional yang disamoaikan kepada public dengan komunikasi yang benar
  2. Dalam perindustrian dan pelaksanaan vaksin sebaiknya menggunakan skala prioritas seperti para pekerja medis dan bidang trasnportasi agar tidak menjadi media penularan COVID-19
  3. Vaksin tidak diharapkan untuk menjadi persyarakat calon penumpang penerbangan sehingga tidak perly menunggu pelaksanaan vaksin global selesai yang mungkin hingga 4 tahun
  4. Pemerintah dan seluruh stakeholders industry penerbangan perlu bekerjasama menyusun projection plan atau white paper agar bantuan pemerintah dapat diterapkan secara tepat guna.

Sebagai penanggap, Krishna Nur Pribadi mengatakan bahwa kita ahrus adaptif dalam kondisi baru, dunia harus berubahm begitupula sector pariwisata. kita harus optimis melihat segala peluang yang ada, kebanyakan orang pasti akan escape dari rutinitas sehari hari dan berwisata, peluang ini yang harus kita ambil setelah pandemic dapat ditangani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *